PENGAJARAN PENULISAN CERITA PENDEK SISWA SMA DENGAN POLA ON-LINE

Februari 26, 2015 at 7:00 am Tinggalkan komentar

(Suatu Kajian Pengembangan Imajinasi Siswa Kelas XII SMA Xaverius 1 Palembang)

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Perkembangan zaman yang mencerminkan perubahan peradaban manusia terus bergulir seirama dengan tatanan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan perkembangan peradaban manusia secara praktis pragmatis memberikan manfaat dalam kemajuan dunia komunkasi antarmanusia. Hal ini berpengaruh terhadap pola dan sistem berkomunkasi yang ada sehingga jarak antara mereka bukan lagi hambatan yang menjadi beban. Kemajuan dunia teknologi informasi memberikan warna dan nuansa baru dalam penyampaian pesan dan gagasan. Dunia berkomunkasi baik lisan maupun tertulis dapat dlaksanakan dalam waktu yang cepat dan terpadu.
Dalam dunia pembelajaran menulis merupakan wujud kemahiran berbahasa produktif yang mempunyai manfaat besar bagi kehidupan manusia, khususnya para siswa. Dengan menulis siswa dapat menuangkan segala gagasan, pemikiran, keinginan dan perasaan, keadaan hati di saat susah dan senang, bahkan sindiran dan kritikan. Tulisan yang baik dan berkualitas merupakan manifestasi dan keterlibatan aktivitas berpikir atau bernalar yang baik. Hal ini dimaksudkan bahwa seorang penulis harus mampu mengembangkan cara-cara berpikir rasional. Pada saat melakukan aktivitas menulis, siswa dituntut berpikir untuk menuangkan gagasannya berdasarkan skemata, pengetahuan, dan pengalaman yang dimiliki secara tertulis. Aktivitas tersebut memerlukan kesungguhan untuk mengolah, menata, mempertimbangkan secara kritis gagasan yang akan dicurahkan dalam bentuk tulisan atau karangan.
Pada dasarnya keterampilan menulis merupakan serangkaian aktivitas berpikir menuangkan gagasan untuk menghasilkan suatu bentuk tulisan. Aktivitas menulis yang dimaksud adalah aktivitas untuk mengekspresikan ide, gagasan, pikiran atau perasaan ke dalam lambing-lambang kebahasaan. Secara umum tahapan menulis meliputi, tahap pra-menulis, penulisan draf (pengedrafan), revisi/perbaikan, penyuntingan, dan pubilikasi. Akhadiah (1991) mengatakan bahwa menulis sebagai proses melalui tiga tahap yakni tahap pramenulis, menulis, dan pascamenulis. Hal ini senada dengan Oshima (2006: 265) bahwa menulis meliputi 4 langkah (step), yaitu 1) Creating (Prewritting); 2) Planning (Outlining); 3) Writting; dan 4) Polishing. Pada tahap pramenulis yang dilakukan adalah menyusun draf sampai batas menulis kerangka tulisan, selanjutnya tahap menulis draf kasar dan yang terakhir tahap pascamenulis yang meliputi tahap revisi dan menyunting.
Di SMA, keterampilan menulis merupakan salah satu keterampilan yang amat perlu bagi pengembangan kompetensi siswa demi masa depannya sehingga dibutuhkan wahana pembinaan yang tepat dan intensif. Dalam konteks demikin keterampilan menulis difokuskan agar siswa mampu mengekspresikan berbagai pikiran, gagasan, pendapat, dan perasaan dalam karangan melalui berbagai bentuk, menulis surat pribadi, meringkas buku bacaan, membuat poster, dan menulis catatan dalam buku harian. Sedangkan pada kemampuan bersastra, standar kompetensi aspek menulis dijadikan satu dengan aspek keterampilan lainnya, yakni siswa mengapresiasi ragam sastra anak melalui mendengarkan dan menanggapi cerita pendek, menulis prosa fiksi sederhana, memerankan drama anak tanpa teks, dan menulis puisi bebas (Depdiknas, 2006:16).
Bercerita merupakan sarana siswa menyampaikan pikiran dan perasaan tentang pengalaman atau pengamatannya seputar lekuk liku kehidupan, baik pribadi maupun orang lain. Pembelajaran menulis cerita bagi siswa tataran SMA diwujudkan dalam bentuk cerita pendek. Melalui pembelajaran menulis cerpen diharapkan siswa memiliki kompetensi untuk menyusun karangan dan menulis prosa fiksi sederhana. Setelah mengikuti pembelajaran tersebut siswa diharapkan mampu menyebutkan beberapa pengalaman yang menarik (menyenangkan, tidak menyenangkan, mengharukan, dan lain-lain), memilih salah satu, dan merinci segi-segi yang hendak diuraikan tentang satu pengalaman itu, menyusun kerangka cerita, dan mengembangkan kerangka cerita pengalaman menjadi cerita yang utuh dan padu. Dengan prosa sederhana inilah yang bisa dikembangkan menjadi bentuk cerita lainnya, salah satunya cerita pendek.
Pembelajaran menulis cerita pendek (cerpen) penting bagi siswa karena cerpen dapat dijadikan sebagai sarana untuk berimajinasi dan menuangkan pikiran. Menulis cerpen merupakan kegiatan menulis sebuah peristiwa atau kejadian pokok. Di sisi lain menulis cerpen merupakan dunia alternatif kreatif bagi pengarang. Sumardjo (2001: 84) berpendapat bahwa menulis cerita pendek adalah seni atau keterampilan menyajikan cerita. Menulis cerpen merupakan seni/keterampilan menyajikan cerita tentang sebuah peristiwa atau kejadian pokok yang dapat dijadikan sebagai dunia alternatif pengarang.
Kemampuan menulis cerpen yang dimiliki siswa tidaklah sama. Sebagian siswa mampu menulis cerpen dengan baik dan sebagian siswa yang lain masih belum mampu menulis cerpen dengan baik. Kondisi ini diperburuk dengan rendahnya minat menulis siswa. Dari beberapa sebab rendahnya kulaitas menulis siswa maka dapat disimpulkan bahwa perlu adanya penanganan khusus dalam pembelajaran menulis siswa sekolah menengah pertama. Inti penanganan tersebut adalah diperlukannya suatu strategi pembelajaran menulis yang efektif dan efisien bagi siswa. Hal ini dikarenakan dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah, guru memegang peranan yang penting dalam pembelajaran, sehingga strategi pembelajaran dijadikan sebagai inti penanganan dalam memperbaiki pembelajaran. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan merencanakan strategi pembelajaran yang menarik.
Pembelajaran sastra di sekolah diakui masih sangat minim dan kurang aktraktif. Kenyataan ini berdampak pada lemahnya apresiasi dan penghargaan peserta didik terhadap karya sastra. Pembelajaran sastra di sekolah sering dianaktirikan. Guru sering melewati atau tidak mengajarkan sastra. Pembelajaran sastra dianggap tidak penting, menghabiskan waktu, dan tidak dapat mendongkrak nilai ujian nasional. Sebab, soal-soal yang terkait dengan materi sastra sangat sedikit. Salah satu sebab diabaikannya pembelajaran sastra di sekolah adalah langkanya media yang bisa dipakai untuk melaksanakan proses pembelajaran sastra. Sebagai contoh, ketika guru mengajarkan materi menanggapi pembacaan cerpen, puisi, atau drama. Bila media itu tidak ada, pembelajaran menanggapi materi cerpen, puisi, atau drama tidak akan dapat dilaksanakan. Berarti, proses belajar mengajar sastra tidak dapat dilaksanakan. Kelangkaan media juga mengakibatkan pembelajaran sastra hanya difokuskan pada kegiatan yang bersifat hafalan. Bukan kegiatan apresiatif, yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan wawasan kehidupan dan wahana berpikir kritis dan kreatif. Pembelajaran sastra di sekolah kini lebih banyak menghafalnya.
Sementara pembelajaran menulis sastra dan mengapresiasinya masih sangat kurang. Dan, kondisi ini dari tahun ke tahun tidak berubah. Dari paparan tersebut dapat diindikasikan bahwa pembelajaran sastra mengalami kegagalan. Hal ini tentu sangat disayangkan mengingat pembelajaran sastra memberi kontribusi yang besar dalam usaha pembinaan mental serta memperkaya kehidupan ruhaniah manusia. Realitas yang dihadapi di sekolah pembelajaran sastra kurang diperhatikan dan tidak mendapat penanganan dengan baik, baik dari segi waktu, sarana, dan model pembelajaran. Guru menganggap pembelajaran sastra hanya sebagai pelengkap dari pembelajaran Bahasa Indonesia. Pembelajaran sastra yang merupakan integritas dari pembelajaran
Bahasa Indonesia seharusnya diapresiasi dengan model pembelajaran yang inovatif sehingga siswa mampu mengapresiasi karya sastra dengan baik. Pendek kata, pembelajaran sastra sangat penting yang bertujuan menumbuhkan rasa cinta terhadap karya sastra yang dapat diambil manfaatnya sebagai sarana pembentuk epribadian dan moral.
Rahmanto (1998:16) mengungkapkan empat manfaat pembelajaran sastra, yaitu (1) membantu keterampilan berbahasa, (2) meningkatkan kemampuan budaya, (3) mengembangkan cipta dan rasa, (4) menunjang pembentukan watak. ebuah karya sastra dapat membangkitkan daya kreativitas serta imajinasi siswa. Rangsangan dari sebuah karya sastra mengedepankan sebuah kesadaran kreativitas di dalam diri siswa yang akan dibutuhkan oleh cabang ilmu apa pun yang akan dikehendaki.
Siswa bisa dianggap tuntas dalam pembelajaran jika mampu (1) menentukan tema, (2) mengembangkan alur (awal, tengah, dan akhir), (3) menggambarkan karakter tokoh melalui dialog, monolog, dan komentar pengarang, (4) mendeskripsikan latar dengan menunjukkan bukti paragraph deskripsi, (5) mengembangkan cerita melalui dialog, narasi, dan komentar pengarang, dan (6) merevisi hasil cerpen dengan memperhatikan pilihan kata, tanda baca, dan ejaan, dan mempublikasikan hasil karya secara tertulis dan lisan.

Pengajaran sastra di sekolah menengah pada dasarnya bertujuan agar siswa memiliki rasa peka terhadap karya sastra yang berharga sehingga merasa terdorong dan tertarik untuk membacanya. Dengan membaca karya sastra diharapkan para siswa memperoleh pengertian yang baik tentang manusia dan kemanusiaan, mengenal nilai-nilai, dan mendapatkan ide-ide baru (Semi, 1990:152-153). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tujuan pokok pengajaran sastra adalah mencapai kemampuan apresiasi kreatif. Apresiasi kretif menurut J. Grace (dalam Semi 1990:153) adalah berupa respons sastra. Respons ini menyangkut aspek kegiatan, terutama berupa perasaan, imajinasi, dan daya kritis. Dengan memiliki respons sastra siswa diharapkan mempunyai bekal untuk mampu merespons kehidupan ini secara imajinatif, karena sastra itu sendiri muncul dari pengolahan tentang kehidupan ini secara artistik dan imajinatif dengan menggunakan bahasa sebagai medianya.
Tumbuhnya kesadaran siswa akan pentingnya mengapresiasi sastra akan mendorong mereka pada kemampuan melihat permasalahan secara objektif, membentuk karakter, merumuskan watak dan kepribadian. Pendeknya, bila salah satu tujuan pendidikan adalah meningkatkan kualitas kemampuan seseorang, maka tidak bisa tidak, pengajaran sastra mesti diletakkan sama pentingnya dengan pengajaran lainnya.
1.1.1 Menulis Cerita Pendek Belum Banyak Dilakukan oleh Siswa
1.1.2 Mengajar Cerita Pendek Jarang Diminati Guru
1.1.3 Manfaat Penulisan Cerita Pendek bagi Siswa
1.1.4 Kesulitan Pembelajaran Penulisan Cerita Pendek
1.1.5 Metode Pengajaran Cerita Pendek
1.1.6 Pola Penulisan Cerita Pendek Online

1.2 Tujuan Pembahasan
1.2.1 Memberi peluang siswa mengembangkan ggasan dan imajinasinya dalam bercerita serta mengetahui faktor penghambat ketidaksuburan budaya menulis di kalangan siswa SMA.
1.2.2 Menentukan alternatif solusi pengembangan penulisan cerita pendek di kalangan pelajar SMA sehingga pelajaran Bahasa Indoensia tetap menarik dan menyenangkan dengan menafaatkan kmjuan dunia teknologi informasi melalui jaringan alam bentuk on-line.
1.2.3 Mengajukan bentuk alternatif pengembangan budaya menulis cerita pendek yang menekankan pada kebebasa berekspresi imjinatif dalam kemasan berbahasa engan baik dan benar.

1.3 Rumusan Masalah
Secara umum inti masalahnya adalah bagaimanakah meningkatkan pebelajaran menulis cerpen dengan strategi on-line di kelas XII SMA Xaverius 1 Palembang. Secara khusus masalah dalam penelitian ini sebagai berikut
1.3.1 Bagaimanakah penggunaan metode pembelajaran strategi on-line (untuk meningkatkan kemampuan menulis cerpen siswa kelas XII SMA Xaverius 1 Palembang pada tahap kreatif imajiner?
1.3.2 Bagaimanakah penggunaan metode pembelajaran strategi on-line (untuk meningkatkan kemampuan menulis cerpen siswa kelas XII SMA Xaverius 1 Palembang pada tahap mengembangkan cerita?
1.3.3 Bagaimanakah penggunaan metode pembelajaran strategi on-line untuk meningkatkan kemampuan menulis cerpen siswa kelas XII SMA Xaverius 1 Palembang dalam format tulisan yang baik dan benar ?
II. PEMBAHASAN

2.1 Hakikat Cerita Pendek
2.1.1 Pengertian Cerita Pendek (cerpen)

Sebagai salah satu bagian dari karya sastra, cerita pendek (cerpen) memiliki banyak pengertian. Sumardjo (1980: 91) mengungkapkan bahwa cerita pendek adalah seni, keterampilan menyajikan cerita, yang di dalamnya merupakan satu kesatuan bentuk utuh, manunggal, dan tidak ada bagian-bagian yang tidak perlu, tetapi juga ada bagian yang terlalu banyak. Semuanya pas, integral, dan mengandung suatu arti. Edgar Allan Poe dalam Eneste (1983) mengatakan bahwa cerpen adalah sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk, kira-kira berkisar antara setengah sampai dua jam-suatu hal yang kiranya tak mungkin dilakukan untuk novel.
Pengertian cerpen adalah cerita fiksi (rekaan) yang memiliki tokoh utama yang sedikit dan keseluruhan ceritanya membentuk satu kesan tunggal, kesatuan bentuk, dan tidak ada bagian yang tidak perlu. Sifat umum cerpen ialah pemusatan perhatian pada satu tokoh saja yang ditempatkan pada suatu situasi sehari-hari, tetapi yang ternyata menentukan (perubahan dalam perspektif, kesadaran baru, keputusan yang menentukan). Tamatnya seringkali tiba-tiba dan bersifat terbuka (open ending). Dialog, impian, flash-back dan lain-lain sering dipergunakan. Bahasanya sederhana tetapi sugestif.

2.1.2 Unsur-Unsur Pembangun Cerpen
Cerpen sebagai salah satu jenis prosa fiksi memiliki unsur-unsur yang berbeda dari jenis tulisan yang lain. Stanton dalam Sugihastuti (2007) berpendapat bahwa unsur-unsur sebuah cerpen terdiri atas (1) permulaan/pengantar, tengah/isi, dan akhir cerita, (2) pengulangan atau repetisi, (3) konflik, (4) alur/plot, (5) latar/seting, (6) penokohan, (7) tema, dan (8) sudut pandang penceritaan. Cerpen yang baik memiliki keseluruhan unsur-unsur yang membangun jalan cerita yang memiliki unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik meliputi tema, penokohan, alur/plot, latar/seting, gaya bahasa, dan sudut pandang penceritaan. berpendapat bahwa cerpen pada dasarnya dibangun atas unsur-unsur tema, amanat, perwatakan, latar, dialog, dan pusat pengisahan. Usur-unsur pembangun cerpen yang terdiri atas tema, perwatakan, seting, rangkaian peristiawa/alur, amanat, sudut pandang, dan gaya berjalinan membentuk makna baru.

2.2 Menulis Cerpen
2.2.1 Hakikat Menulis Cerpen
Menulis cerpen pada hakikatnya sama dengan menulis kreatif sastra yang lain. Adapun pengertian dari menulis kreatif sastra. Menulis kreatif sastra adalah pengungkapan gagasan, perasaan, kesan, imajinasi, dan bahasa yang dikuasai seseorang dalam bentuk karangan. Tulisan yang termasuk kreatif berupa puisi, fiksi, dan non fiksi. Menurut Budianta (1991: 1) menulis kreatif sastra pada dasarnya merupakan proses penciptaan karya sastra. Proses itu dimulai dari munculnya ide dalam benak penulis, menangkap dan merenungkan ide tersebut (biasanya dengan cara dicatat), mematangkan ide agar jelas dan utuh, membahasakan ide tersebut dan menatanya (masih dalam benak penulis), dan menuliskan ide tersebut dalam bentuk karya sastra. Jadi menulis kreatif sastra adalah suatu proses yang digunakan untuk mengunkapkan perasaan, kesan, imajinasi, dan bahasa yang dikuasai seseorang dan pikiran seseorang dalam bentuk karangan baik puisi maupun prosa.
Dari beberapa pengertian di atas dapat diketahui bahwa hakikat menulis cerpen adalah suatu proses penciptaan karya sastra untuk mengungkapkan gagasan, perasaan, kesan, imajinasi, dan bahasa yang dikuasai seseorang dalam bentuk cerpen yang ditulis dengan memenuhi unsur-unsur berupa alur, latar/seting, peratakan, dan tema.

2.2.2 Tahapan Menulis Cerpen
Pembelajaran menulis cerpen melalui empat tahap proses kreatif menulis yaitu (1) tahap persiapan, (2) tahap inkubasi, (3) tahap saat inspirasi, dan (4) tahap penulisan. Pada tahap persiapan, penulis telah menyadari apa yang akan ia tulis dan bagaimana menuliskannya. Munculnya gagasan menulis itu membantu penulis untuk segera memulai menulis atau masih mengendapkannya. Tahap inkubasi ini berlangsung pada saat gagasan yang telah muncul disimpan, dipikirkan matang-matang, dan ditunggu sampai waktu yang tepat untuk menuliskannya. Tahap inspirasi adalah tahap dimana terjadi desakan pengungkapan gagasan yang telah ditemukan sehingga gagasan tersebut mendapat pemecahan masalah. Tahap selanjutnya adalah tahap penulisan untuk mengungkapkan gagasan yang terdapat dalam pikiran penulis, agar hal tersebut tidak hilang atau terlupa dari ingatan penulis (Sumardjo, 2001: 70).
Dari pernyataan tersebut dapat diambil suatu kesimpulan bahwa menulis cerpen sebagai salah satu kemampuan menulis kreatif mengharuskan penulis untuk berpikir kreatif dan mengembangkan imajinasinya setinggi dan seluas-luasnya. Dalam menulis cerpen, penulis dituntut untuk mengkreasikan karangannya dengan tetap memperhatikan struktur cerpen, kemenarikan, dan keunikan dari sebuah cerpen.

2.2.3 Bahan Pembelajaran Menulis Cerpen
Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya kualitas pembelajaran adalah belum maksimalnya penggunaan bahan pembelajaran. Bahan pembelajaran erat kaitannya dengan tingkat kesiapan anak. Dalam hal ini, diperlukan suatu pertimbangan khusus tentang bahan pembelajaran yang sesuai dengan kondisi perkembangan kognitif dan bahasa sekolah menengah pertama.
Siswa yang menjadi subjek pembelajar di sini adalah siswa kelas XII. Pada fase ini siswa mampu memahami konsep keadilan, kepribadian, dan kebenaran. Pertimbangan dalam menentukan bahan pembelajaran menulis cerpen bagi anak sekolah menengah adalah disesuaikan dengan konsidi psikologis siswa yakni, bahan yang sudah mulai meninggalkan unsur-unsur fantasi dan masuk kepada unsur realitas, mulai mengarah pada upaya pemahaman melalui hipotesis, dan adanya implementasi konsep/prinsip. Pertimbangan psikologis tersebut diperlukan agar dapat menumbuhkan minat, daya ingat, kemauan mengerjakan tugas, kesiapan bekerja sama, dan kemungkinan pemahaman situasi atau pemecahan problem yang dihadapi. Pemilihan bahan pembelajaran erat kaitannya dengan tingkat kesiapan anak.
Pertimbangan selanjutnya untuk menentukan bahan pembelajaran menulis cerpen adalah sudut pandang bahasa. Guru dalam memilih bahan pembelajaran cerpen dengan mempertimbangkan kosakata yang baru, segi ketatabahasaan, situasi dan pengertian isi wacana termasuk ungkapan dan referensi yang ada. Sedangkan Johnson dan Louis (dalam Iskandarwassid, 2009) memberikan ciri-ciri bahan pembelajaran yakni menarik, mengandung banyak lakuan, bahagia pada akhir cerita, tidak terlalu panjang, dan menyenangkan.
Adapun bahan dalam cerita pendek, Stanton dalam Sugihastuti (2007:43) menjelaskan secara rinci unsur-unsur literer yang membangunnya adalah memiliki alur, latar, tema, penokohan, dan gaya yang khas. Alur cerita tersusun dalam urutan yang logis dan sesuai tuntutan cerita. Latar cerita memiliki ciri-ciri: uiversal, menanamkan kebenaran, dan perjuangan antara kekuatan baik dan jahat. Penokohan atau penggambaran watak tokoh memiliki ciri-ciri: meyakinkan, nyata, tindakannya konsisten dengan plot, penggambarannya sederhana dan langsung. Selain itu juga sedikit memiliki citraan, penggambaran tokohnya hidup, memiliki suatu yang khas dan menarik, serta nama tokoh mudah diingat atau mengesankan. Sedangkan gaya pengarang dalam cerita memiliki ciri-ciri: mengesankan, segar, tepat, serta bila dibacakan terlihat menarik.
Berdasarkan keterangan di atas diketahui bahwa materi pembelajaran sastra tidak hanya mencakup tentang peristiwa sastra atau cipta sastra, melainkan sejumlah persoalan dan hasil olah pikir dan karya siswa. Hasil tulisan siswa dapat menjadi materi pembelajaran yang menarik dalam sebauh kelas apresiasi sastra. Selain itu, pertanyaan-pertanyaan siswa dalam sebuah diskusi, merupakan materi pembelajaran yang menghidupkan kelas. Materi pembelajaran ditujukan untuk mengmbangkan pengetahuan siswa tentang sastra dan membangkitkan minat siswa untuk menulis kreatifsastra.

2.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Strategi Pembelajaran On-line
2.3.1 Ketersediaan media pembelajaran on-line lewat hotspot yang memang disediakan bagi proses pembelajaran sebesar 1 gigabite, di samping jaringan lain untuk e-learning.
2.3.2 Ketersediaan sarana LCD yang memudahkan komunikasi tertulis langsung secara on-line klasikal.
2.3.3 Kemampuan siswa dalam penggunaan hotspot yang sudah diatur dan ditentukan oleh sekolah secara terdaftar. Siswa diwajibkan mendaftarkan diri apabila ingin menggunakan hotspot yang disediakan oleh sekolah.
2.3.4 Ketersediaan blog yang diciptakan oleh guru sehingga memudahkan siswa untuk masuk dalam jaringan manakala pembelajaran menggunakan media on-line. Dalam penulisan cerpen on-line ini disediakan entri blog per kelas sehingga siswa dengan mudah masuk dalam jaringan kelasnya untuk mengembangkan imajinasi fiksinya.
2.3.5 Kemauan siswa belajar on-line amat besar sehingga perlu pendampingan yang tepat dan bijak.
2.3.6 Seiring perkembangan aktu, peran e-learning mulai tergeser dengan adanya m-lerning (moble lerning). Dalam hal ini m-learning tidak pernah menggantikan e-learning karema sarana yang digunakan memang berbeda. Jika e-learning menggunakan internet sebagai sarana dalam proses pembelajaran, m-learning mengacu pada teknologi mobile (HP) sebagai sarana dalam proses pembelajaran.

2.4 Model Pendekatan Pembelajaran Menulis Cerita Pendek On-line
Pembelajaran menulis cerita pendek on-line mengindikasikan perlunya model pendekatan yang tepat. Banyak model pendekatan yang bisa dilakukan dalam pembelajaran menulis cerita pendek, antara lain mind mapping, 3 M.
Mind mapping adalah salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah oengajaran cerita pendek. Berakar dari kesulitan siswa dalam memahami dan menerapkan unsur instrinsik dalam cerpen yang dibuatnya serta kesulitan dalam mengembangkan ide cerita maka dpatlah guru menggunakan model pemetaan pikiran (mind mapping). Model yang dipopulerkan oleh Tony Buzan ini merupakan model yang efektif untuk meningkatkan kemampuan menulis sistematis, spasial, imajinatif dan kreatif sesuai dengan kompetensi siswa.
Dalam model pemetaan pikiran (mind mapping) tersebut, pertama-tama siswa menuliskan satu kata kunci dari tema yang dipilih di tengah kertas. Tema tersebut kemudian dijabarkan dalam ranting-ranting berupa unsur cerpen yang meliputi alur, penokohan, watak, setting, sudut pandang serta ending cerita yang telah dipilih. Pada dasarnya, dengan model ini, siswa dituntun untuk membuat perencanaan sebelum menulis cerpen. Bila dalam perencanaan tulisan sering dikenal dengan pembuatan kerangka karangan, dalam pemetaan pikiran kerangka karangan tersebut berupa kata kunci yang dilengkapi dengan gambar berwarna yang dipetakan. Selain lebih menarik, kelebihan lain dari peta pikiran ini adalah siswa dapat menambahkan kata kunci di mana pun jika di tengah kegiatan menulis ia mendapatkan ide baru. Pemetaan pikiran tersebut dapat terus berkembang sesuai dengan keinginan penulisnya. Dengan demikian, dalam model ini, siswa dibebaskan untuk menulis “apa pun” sesuai dengan keinginan serta kreativitas. Di
samping itu, simbol serta gambar berwarna yang digunakan berpotensi mengoptimalkan fungsi kerja otak kanan yang memacu kreativitas serta imajinasi sehingga diharapkan siswa tidak kehabisan ide dalam menulis cerpen.
Ada juga alternatif strategi pembelajaran menulis cerita pendek yang kreatif dan inovatif dengan memanfaatkan fasilitas yang ada. Strategi pembelajaran yang ditawarkan dilandasi oleh strategi copy the master. Strategi copy of master adalah strategi pemodelan yang dekat dengan penulis pemula. Adanya model yang dekat dengan penulis berarti memudahkan penulis untuk memulai kegiatan menulis.
Strategi copy the master tersebut selanjutnya dikembangkan menjadi strategi menulis cerpen yang diberi nama strategi 3M (Meniru-Mengolah-Mengembangkan). Tahapan dalam strategi 3M adalah tahapan meniru, mengolah, lalu mengembangkan. Ada pertimbangan bahwa siswa memerlukan pemberian alternatif dalam strategi pembelajaran baru. Penggunaan metode pembelajaran strategi 3M dapat dugunakan untuk meningkatkan kemampuan menulis cerpen dengan pola meniru. Pola ini disesuaikan dengan tingkat pendidikan dan taraf perkembangan psikis maupun kompetensi siswa. Pola meniru lebih sesuaidigunakan bagi siswa seolah dasar atau awal sekola menengah pertama. Sedangkan pola mengolah lebih sesuai diterapkan pada siswa kelas akhir sekolah menengah pertama. Penggunaan metode pembelajaran strategi mengembangkan bisa digunakan di sekolah menengah atas. Hal-hal tersebut didasarkan atas perkembangan ranah pembelajaran peserta didik dan efektivitasnya.

2.5 Langkah-langkah Pola Pembelajaran Cerita Pendek On-line

2.5.1 Prakondisi
a. Guru mengadakan tanya jawab dengan siswa tentang cerita pendek. Siswa dipersilakan mengemukakan konsep yang dimiliki tentang hakikat cerita pendek. Hakikat cerita pendek baik dari segi intrinsik maupuk ekstrinsiknya sudah dipelajari di kelas XI sehingga pembelajaran di kelas XII merupakan langkah lanjut sebagai aplikasi konsep yang telah dikuasai siswa.
b. Guru menanyakan poin-poin teknis yang belum dikuasai siswa berkaitan dengan cara penulisan cerita pendek, lantas menjelaskannya.
c. Guru menyampaikan alternatif pengembnagan kreativitas imajinatif siswa dalam bentuk cerita pendek dengan menggunakan pola on-line.
d. Guru menjelaskan prosedural teknis normatif yang harus dilakukan siswa. Guru mempertegas kriteria yang harus diindahkan dalam penulisan cerita pendek online, baik dari segi teknis-normatif penulisan langsung, isi, bahasa, dan tata tulis.
e. Guru mengemukakan prosedural teknis penulisan dalam komentar, atau balas.

2.5.2 Proses Pembelajaran

a. Sebelum jam pembelajaran sesuai jadwal, guru mempersiapkan jaringan blog bagi kelas yang dimaksud-diajarnya secara terpola.
b. Guru membuka blog pembelajaran yang telah disusunnya secara terperinci dan klasikal yang ditayangkan melalui LCD kelas.
c. Guru memberi peluang siswa untuk membuka blog tersebut melalui laptop atau pesawat genggam (HP mobile) masing-masing.
d. Kepada siswa diberi kesempatan untuk menulis judul cerita pendek. Caranya, judul dimasukkan melalui kolom komentar.
e. Siapa pun siswa diperbolehkan membuat judul dan memasukkan ke komentar. Judul yang berhasil masuk terlebih dahulu harus disepakati oleh siswa lain sebagai judul pilihan.
f. Siswa-siswa dipersilakan memasukkan kalimat imajinasi mereka sebagai bagian pendahuluan cerita pendek.
g. Komentar yang masuk terlebih dahulu merupakan bagian awal pembuka cerita pendek.
h. Siswa-siswa lain dipersilakan berlomba mengirimkan komentar atau balas sebagai bagian cerita berikutnya.
i. Sembari siswa berlomba memasukkan kalimat-kalimat kreasi-imjinasinya guru memperjels dan mempertegas hal-hal yang harus diperhatikan dalam pengiriman komentar.
j. Secara klasikal cerita berkembang dan dapat dilihat siswa melalui LCD yang ditaangkan di kelas.
k. Guru menerangkan kriteria normatif seputar akikat cerita pendek lainnya sekaligus. Komentar yang tidak sesuai dengan ketentuan yang disepakati akan dihapus.
l. Guru memberikan rentang waktu kerja bagi siswa dalam melakukan kreasi iamjinatif menyusun cerita pendek serta batas waktu maksimalnya.
m. Manakala batas waktu pembelajaran tidak mencukupi, siswa diperbolehkan memasukkan kalimat kreatif imajinatifnya di luar jam pembelajaran.
n. Guru mempertegas batas waktu maksimal pengirimannya komentar. Maka, guru harus memformat peluang komentar dalam entri blog. Di sini guru bisa menata waktu maksimal pengiriman komentar atau balas.
o. Konsekuansi logisnya guru harus menyeleksi manakala ada siswa yang ternyata terlambat mengirimkan. Biasanya diperlukan waktu sekitar 3 hari. Siswa dipersilakan berkonsultasi dan bertanya tentang materi dan pembahasan yang dilakukannnya beserta aspek teknis lainnya.
p. Pada pertemuan berikutnya guru bersama siswa membuka kembali blog menulis cerita pendek on-line. Secara terpadu siswa dan guru membaca bagin per bagian cerita, dari awal hingga terakhir.
q. Di sisi lain guru dan siswa mengidentifikasi komentar atau balas secara klasikal bersama hingga bagian paling akhir sesuai batas waktu.
r. Guru minta tolong seorang siswa untuk mendata frekuensi peran serta siswa dalam merangkai peristiwa cerita dengan sistem turus yang dilakukan di daftar nama siswa milik guru.
s. Siswa diberi peluang untuk mengevaluasi komentar atau balas yang secara berurutan tersusun sebagai ”cerita pendek”. Oleh sebab itu siswa dipersilakan mengkaji dan mengomentari rangkaian peristiwa tersebut, terutama dilihat dari segi alur, latar, tokoh dan penokohan, sudut pandang cerita, bahasa, dan tata tulis. Siswa diperbolehkan beradu argumentasi dalam kendali guru.
t. Daya imajinasi diberi kebebasan oleh guru untuk mengembangkan bagian cerita. Manakala ada siswa yang menginginkan penambahan bagian tertentu, siswa dipersilakan memberi komentar atau balas pada bagian yang dimaksud.
u. Guru memberikan uraian mentah peristiwa yang tersusun dalam satu format cerita dalam print out. Siswa dipersilakan memberikan tanggapan. Naskah yang dibagikan atau ditayangkan masih seperti yang ada dalam blog.
v. Setelah siswa beradu argumentasi tentang komentar atau balas siswa dipersilakan melalukan koreksi bersama dalam diskui kelompok.
w. Dalam diskusi kelompok tersebut siswa diperbolehkan mengubah, menata ulang, menambahkan ide sebagai kesepakatan kerja kelompok.
x. Hasil kerja kelompok diminta disajikan dalam print-out untuk dibahas pada jam pertemuan berikutnya.
y. Guru melakukan penilaian terhadap hasil karya siswa yang sudah dikumpulkan dengan kriteria normatif sebagaimana telah disampaikan kepada siswa. Dibutuhkan kejelian, kegesitan, dan kecermatan guru dalam memberikan penilaian sehingga isi laporan, kejujuran, objektivitas, dan aspek teknis tercapai dengan baik.

2.5.3 Pascapembelajaran

a. Apabila terdapat siswa yang hasil karyanya tidak masuk dalam jaringan diberi peluang mengembangkan cerita melalui balas, bukan lagi komentar.
b. Manakala ada bagian yang dirasakan belum memenuhi kriteria ketuntasan diberi kesempatan untuk memperbaikinya dalam batas waktu yang ditentukan. Dari hal ini siswa tersebut banyak melakukan koreksi diri dan pembelajaran ke arah sisi penulisan cerita pendek dan teknis penulisan yang benar.
c. Siswa dimohon untuk mendokumentasikan hasil karya mereka melalui bentuk fisik (print out) ataupun jaringan pribadi. Guru memberikan motivasi kepada siswa bahwa hasil karyanya akan semakin bermakna dan berkesan seiring dengan putaran waktu yang semakin panjang.

2.6 Rubrik Penilaian
Hasil karya tulis siswa sebagai bagian hasil akhir proses belajarnya memerlukan penilaian guna mengukur taraf keberhasilan dari pengembangan kompetensinya. Tujuan pembelajaran yang menjadi target pencapaian hasil belajar dapat terukur melalui hasil proses belajarnya. Hal ini harus relevan dengan proses pembelajarannya juga sebagai bentuk layanan guru dalam pengembangan kompetensi pembelajar. Dengan demikian akan terlihat jelas relevansi dan korelasi antara tujuan, proses dan layanan pembelajaran, serta pengevaluasian hasilnya.
Layanan sebagai bentuk proses pembelajaran dalam pembiasaan menulis cerita pendek dapat diukur antara lain menggunakan melalui tabel berikut.

No. Aspek Kriteria Skor
1 Isi a. Memiliki relevansi hakikat sastra tema cerita dengan amat baik.
b. Memiliki relevansi hakikat sastra tema cerita dengan baik.
c. Memiliki relevansi hakikat sastra tema cerita dengan cukup baik.
d. Memiliki relevansi hakikat sastra tema cerita dengan kurang baik. 9-10

7-8

5-6

3-4
2 Hubungan antarperistiwa a. Memiliki hubungan logis peristiwa dalam alur dengan amat baik
b. Memiliki hubungan logis peristiwa dalam alur dengan baik
c. Memiliki hubungan logis peristiwa dalam alur dengan cukup baik.
d. Memiliki hubungan logis peristiwa dalam alur dengan kurang baik. 9-10

7-8
5-6

3-4
3 Latar a. Memberikan gambaran tempat, waktu, dan suasana cerita dengan amat baik.
b. Memberikan gambaran tempat, waktu, dan suasana cerita dengan baik.
c. Memberikan gambaran tempat, waktu, dan suasana cerita dengan cukup baik.
d. Memberikan gambaran tempat, waktu, dan suasana cerita dengan kurang baik. 9-10

7-8
5-6

3-4
4 Tokoh dan penokohan a. Profil tokoh utama atau tambahan diungkapkan dalam kesan imajinatif yang amat baik.
b. Profil tokoh utama atau tambahan diungkapkan dalam kesan imajinatif yang amat baik.
c. Profil tokoh utama atau tambahan diungkapkan dalam kesan imajinatif yang amat baik.
d. Profil tokoh utama atau tambahan diungkapkan dalam kesan imajinatif yang amat baik. 9-10
7-8
5-6
3-4
5 Sudut pandang bercerita a. Menggunakan sudut pandang dengan amat baik
b. Menggunakan sudut pandang dengan baik
c. Menggunakan sudut pandang dengan cukup baik
d. Menggunakan sudut pandang dengan kurang baik 9-10
7-8
5-6
3-4
6 Tata tulis a. Memenuhi kaidah penulisan dengan amat baik
b. Memenuhi kaidah penulisan dengan baik
c. Memenuhi kaidah penulisan dengan cukup baik
d. Memenuhi kaidah penulisan dengan kurang baik 9-10
7-8
5-6
3-4
7 Kalimat a. Logika, efektivitas, kelengkapan unsur kalimat amat baik.
b. Logika, efektivitas, kelengkapan unsur kalimat baik.
c. Logika, efektivitas, kelengkapan unsur kalimat cukup baik.
d. Logika, efektivitas, kelengkapan unsur kalimat kurang baik 9-10

7-8

5-6

3-4

Berdasarkan peran serta siswa yang dapat diindikasi dari frekuensi pengiriman serta sedikit-banyaknya komentar atau balas dan rubrik penilaian di atas guru dpat memberikan penilaian kepada siswa. Penilaian yang diberikan oleh guru hendaknya bersifat apresiatif terhadap karya siswa sehingga justru memberikan motivasi siswa untuk lebih belajar dan meningkatkan terus kompetensinya. Di sisi lain, atas dasar kiteria normatif yang telah diketahui bersama dengan siswa, objektivitas dan keadilan harus ditegakkan.

2.7 Hambatan Pembelajaran Penulisan Cerita Pendek On-line

Hambatan dalam pembelajaran merupkan hal yang sering terjadi dan harus diatasi oleh guru dengan bijak dqn tepat sasaran. Manakala kita mengajar banyak kelas dan berbeda programnya tentulah hal ini harus disikapi dengan cermat dan cerdas dlam mengambil kebijakan. Kondisi klasikal yang sama jurusan pun seringkali menunjukkan kesulitan yang berbeda. Kondisional klasikal dengan karakter khasnya memerlukan aktu pemahaman dan pengantisipasian yang tepat ketika kita hendak memerikan materi baru.
Demikian juga halnya ketika proses pembelajaran kreatif menulis cerita pendek secara on-line. Persoalan bermunculan sehubungan dengan banyak aspek, misalnya minat siswa, fasilitas dan sarana, serta ketepatn metode yang digunakan oleh guru. Meski materi sama diperlukan pelayanan pembelajaran yang berbeda jika problematika dn perlakukan kompetensi berbeda.

3 PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA

Budianta, Eka.1992. Menggebrak Dunia Mengarang. Jakarta: Pustaka Pembangunan Swadaya Nusantara.

Eneste, Pamusuk. 1983. Cerpen Indonesia Mutakhir. Jakarta: Gramedia.

Iskandarwassid dan Dadang Sunendar. 2009. Strategi Pembelajaran Bahasa Indonesia. Bandung: Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia-PT Remaja Rosdakarya.

Nurgiantoro, Burhan. 2005. Sastra Anak, Pengantar Pemahaman Dunia Anak. Yogyakarta. Gadjahmada University Press.

Oshima, Alice and Ann Hoque. 2006. Writting Academic English. Fourth Edition. New York: Pearson Education. Inc..

Rahmanto, B. 1990. Metode Pengajaran Sastra, Pegangan Guru Pengajar Sastra. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Sasongko, Gunawan G.. 2006. Trik Instan Bikin Cerita Remaja: Novel-Cerpen-Skenario. Jakarta: Sisma Digimedia.

Semi. M. Atar. 1993. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Angkasa.

Sugihastuti dan Rossi Abi Al Irsyad. 2007. Teori Fiksi Robert Stanton (terjemahan). Yogyakarta. Pustaka Pelajar Offset.

Sumardjo, Yakob dan Saini K.M.. 2001. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta: Gramedia.

Sumardjo, Yakob. 1980. Seluk-beluk Cerita Pendek. Bandung: Mitra Kencana.

Targan, Henry Guntur. 2008. Menulis Sebagai Sutau Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

PENDEKATAN SAINTIFIK DAN PENCEKATAN AUTENTIK DALAM BAHASA INDONESIA SMA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Februari 2015
S S R K J S M
« Jan    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: