PENGAJARAN PENULISAN CERITA PENDEK SISWA SMA DENGAN POLA ON-LINE

(Suatu Kajian Pengembangan Imajinasi Siswa Kelas XII SMA Xaverius 1 Palembang)

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Perkembangan zaman yang mencerminkan perubahan peradaban manusia terus bergulir seirama dengan tatanan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan perkembangan peradaban manusia secara praktis pragmatis memberikan manfaat dalam kemajuan dunia komunkasi antarmanusia. Hal ini berpengaruh terhadap pola dan sistem berkomunkasi yang ada sehingga jarak antara mereka bukan lagi hambatan yang menjadi beban. Kemajuan dunia teknologi informasi memberikan warna dan nuansa baru dalam penyampaian pesan dan gagasan. Dunia berkomunkasi baik lisan maupun tertulis dapat dlaksanakan dalam waktu yang cepat dan terpadu.
Dalam dunia pembelajaran menulis merupakan wujud kemahiran berbahasa produktif yang mempunyai manfaat besar bagi kehidupan manusia, khususnya para siswa. Dengan menulis siswa dapat menuangkan segala gagasan, pemikiran, keinginan dan perasaan, keadaan hati di saat susah dan senang, bahkan sindiran dan kritikan. Tulisan yang baik dan berkualitas merupakan manifestasi dan keterlibatan aktivitas berpikir atau bernalar yang baik. Hal ini dimaksudkan bahwa seorang penulis harus mampu mengembangkan cara-cara berpikir rasional. Pada saat melakukan aktivitas menulis, siswa dituntut berpikir untuk menuangkan gagasannya berdasarkan skemata, pengetahuan, dan pengalaman yang dimiliki secara tertulis. Aktivitas tersebut memerlukan kesungguhan untuk mengolah, menata, mempertimbangkan secara kritis gagasan yang akan dicurahkan dalam bentuk tulisan atau karangan.
Pada dasarnya keterampilan menulis merupakan serangkaian aktivitas berpikir menuangkan gagasan untuk menghasilkan suatu bentuk tulisan. Aktivitas menulis yang dimaksud adalah aktivitas untuk mengekspresikan ide, gagasan, pikiran atau perasaan ke dalam lambing-lambang kebahasaan. Secara umum tahapan menulis meliputi, tahap pra-menulis, penulisan draf (pengedrafan), revisi/perbaikan, penyuntingan, dan pubilikasi. Akhadiah (1991) mengatakan bahwa menulis sebagai proses melalui tiga tahap yakni tahap pramenulis, menulis, dan pascamenulis. Hal ini senada dengan Oshima (2006: 265) bahwa menulis meliputi 4 langkah (step), yaitu 1) Creating (Prewritting); 2) Planning (Outlining); 3) Writting; dan 4) Polishing. Pada tahap pramenulis yang dilakukan adalah menyusun draf sampai batas menulis kerangka tulisan, selanjutnya tahap menulis draf kasar dan yang terakhir tahap pascamenulis yang meliputi tahap revisi dan menyunting.
Di SMA, keterampilan menulis merupakan salah satu keterampilan yang amat perlu bagi pengembangan kompetensi siswa demi masa depannya sehingga dibutuhkan wahana pembinaan yang tepat dan intensif. Dalam konteks demikin keterampilan menulis difokuskan agar siswa mampu mengekspresikan berbagai pikiran, gagasan, pendapat, dan perasaan dalam karangan melalui berbagai bentuk, menulis surat pribadi, meringkas buku bacaan, membuat poster, dan menulis catatan dalam buku harian. Sedangkan pada kemampuan bersastra, standar kompetensi aspek menulis dijadikan satu dengan aspek keterampilan lainnya, yakni siswa mengapresiasi ragam sastra anak melalui mendengarkan dan menanggapi cerita pendek, menulis prosa fiksi sederhana, memerankan drama anak tanpa teks, dan menulis puisi bebas (Depdiknas, 2006:16).
Bercerita merupakan sarana siswa menyampaikan pikiran dan perasaan tentang pengalaman atau pengamatannya seputar lekuk liku kehidupan, baik pribadi maupun orang lain. Pembelajaran menulis cerita bagi siswa tataran SMA diwujudkan dalam bentuk cerita pendek. Melalui pembelajaran menulis cerpen diharapkan siswa memiliki kompetensi untuk menyusun karangan dan menulis prosa fiksi sederhana. Setelah mengikuti pembelajaran tersebut siswa diharapkan mampu menyebutkan beberapa pengalaman yang menarik (menyenangkan, tidak menyenangkan, mengharukan, dan lain-lain), memilih salah satu, dan merinci segi-segi yang hendak diuraikan tentang satu pengalaman itu, menyusun kerangka cerita, dan mengembangkan kerangka cerita pengalaman menjadi cerita yang utuh dan padu. Dengan prosa sederhana inilah yang bisa dikembangkan menjadi bentuk cerita lainnya, salah satunya cerita pendek.
Pembelajaran menulis cerita pendek (cerpen) penting bagi siswa karena cerpen dapat dijadikan sebagai sarana untuk berimajinasi dan menuangkan pikiran. Menulis cerpen merupakan kegiatan menulis sebuah peristiwa atau kejadian pokok. Di sisi lain menulis cerpen merupakan dunia alternatif kreatif bagi pengarang. Sumardjo (2001: 84) berpendapat bahwa menulis cerita pendek adalah seni atau keterampilan menyajikan cerita. Menulis cerpen merupakan seni/keterampilan menyajikan cerita tentang sebuah peristiwa atau kejadian pokok yang dapat dijadikan sebagai dunia alternatif pengarang.
Kemampuan menulis cerpen yang dimiliki siswa tidaklah sama. Sebagian siswa mampu menulis cerpen dengan baik dan sebagian siswa yang lain masih belum mampu menulis cerpen dengan baik. Kondisi ini diperburuk dengan rendahnya minat menulis siswa. Dari beberapa sebab rendahnya kulaitas menulis siswa maka dapat disimpulkan bahwa perlu adanya penanganan khusus dalam pembelajaran menulis siswa sekolah menengah pertama. Inti penanganan tersebut adalah diperlukannya suatu strategi pembelajaran menulis yang efektif dan efisien bagi siswa. Hal ini dikarenakan dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah, guru memegang peranan yang penting dalam pembelajaran, sehingga strategi pembelajaran dijadikan sebagai inti penanganan dalam memperbaiki pembelajaran. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan merencanakan strategi pembelajaran yang menarik.
Pembelajaran sastra di sekolah diakui masih sangat minim dan kurang aktraktif. Kenyataan ini berdampak pada lemahnya apresiasi dan penghargaan peserta didik terhadap karya sastra. Pembelajaran sastra di sekolah sering dianaktirikan. Guru sering melewati atau tidak mengajarkan sastra. Pembelajaran sastra dianggap tidak penting, menghabiskan waktu, dan tidak dapat mendongkrak nilai ujian nasional. Sebab, soal-soal yang terkait dengan materi sastra sangat sedikit. Salah satu sebab diabaikannya pembelajaran sastra di sekolah adalah langkanya media yang bisa dipakai untuk melaksanakan proses pembelajaran sastra. Sebagai contoh, ketika guru mengajarkan materi menanggapi pembacaan cerpen, puisi, atau drama. Bila media itu tidak ada, pembelajaran menanggapi materi cerpen, puisi, atau drama tidak akan dapat dilaksanakan. Berarti, proses belajar mengajar sastra tidak dapat dilaksanakan. Kelangkaan media juga mengakibatkan pembelajaran sastra hanya difokuskan pada kegiatan yang bersifat hafalan. Bukan kegiatan apresiatif, yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan wawasan kehidupan dan wahana berpikir kritis dan kreatif. Pembelajaran sastra di sekolah kini lebih banyak menghafalnya.
Sementara pembelajaran menulis sastra dan mengapresiasinya masih sangat kurang. Dan, kondisi ini dari tahun ke tahun tidak berubah. Dari paparan tersebut dapat diindikasikan bahwa pembelajaran sastra mengalami kegagalan. Hal ini tentu sangat disayangkan mengingat pembelajaran sastra memberi kontribusi yang besar dalam usaha pembinaan mental serta memperkaya kehidupan ruhaniah manusia. Realitas yang dihadapi di sekolah pembelajaran sastra kurang diperhatikan dan tidak mendapat penanganan dengan baik, baik dari segi waktu, sarana, dan model pembelajaran. Guru menganggap pembelajaran sastra hanya sebagai pelengkap dari pembelajaran Bahasa Indonesia. Pembelajaran sastra yang merupakan integritas dari pembelajaran
Bahasa Indonesia seharusnya diapresiasi dengan model pembelajaran yang inovatif sehingga siswa mampu mengapresiasi karya sastra dengan baik. Pendek kata, pembelajaran sastra sangat penting yang bertujuan menumbuhkan rasa cinta terhadap karya sastra yang dapat diambil manfaatnya sebagai sarana pembentuk epribadian dan moral.
Rahmanto (1998:16) mengungkapkan empat manfaat pembelajaran sastra, yaitu (1) membantu keterampilan berbahasa, (2) meningkatkan kemampuan budaya, (3) mengembangkan cipta dan rasa, (4) menunjang pembentukan watak. ebuah karya sastra dapat membangkitkan daya kreativitas serta imajinasi siswa. Rangsangan dari sebuah karya sastra mengedepankan sebuah kesadaran kreativitas di dalam diri siswa yang akan dibutuhkan oleh cabang ilmu apa pun yang akan dikehendaki.
Siswa bisa dianggap tuntas dalam pembelajaran jika mampu (1) menentukan tema, (2) mengembangkan alur (awal, tengah, dan akhir), (3) menggambarkan karakter tokoh melalui dialog, monolog, dan komentar pengarang, (4) mendeskripsikan latar dengan menunjukkan bukti paragraph deskripsi, (5) mengembangkan cerita melalui dialog, narasi, dan komentar pengarang, dan (6) merevisi hasil cerpen dengan memperhatikan pilihan kata, tanda baca, dan ejaan, dan mempublikasikan hasil karya secara tertulis dan lisan.

Pengajaran sastra di sekolah menengah pada dasarnya bertujuan agar siswa memiliki rasa peka terhadap karya sastra yang berharga sehingga merasa terdorong dan tertarik untuk membacanya. Dengan membaca karya sastra diharapkan para siswa memperoleh pengertian yang baik tentang manusia dan kemanusiaan, mengenal nilai-nilai, dan mendapatkan ide-ide baru (Semi, 1990:152-153). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tujuan pokok pengajaran sastra adalah mencapai kemampuan apresiasi kreatif. Apresiasi kretif menurut J. Grace (dalam Semi 1990:153) adalah berupa respons sastra. Respons ini menyangkut aspek kegiatan, terutama berupa perasaan, imajinasi, dan daya kritis. Dengan memiliki respons sastra siswa diharapkan mempunyai bekal untuk mampu merespons kehidupan ini secara imajinatif, karena sastra itu sendiri muncul dari pengolahan tentang kehidupan ini secara artistik dan imajinatif dengan menggunakan bahasa sebagai medianya.
Tumbuhnya kesadaran siswa akan pentingnya mengapresiasi sastra akan mendorong mereka pada kemampuan melihat permasalahan secara objektif, membentuk karakter, merumuskan watak dan kepribadian. Pendeknya, bila salah satu tujuan pendidikan adalah meningkatkan kualitas kemampuan seseorang, maka tidak bisa tidak, pengajaran sastra mesti diletakkan sama pentingnya dengan pengajaran lainnya.
1.1.1 Menulis Cerita Pendek Belum Banyak Dilakukan oleh Siswa
1.1.2 Mengajar Cerita Pendek Jarang Diminati Guru
1.1.3 Manfaat Penulisan Cerita Pendek bagi Siswa
1.1.4 Kesulitan Pembelajaran Penulisan Cerita Pendek
1.1.5 Metode Pengajaran Cerita Pendek
1.1.6 Pola Penulisan Cerita Pendek Online

1.2 Tujuan Pembahasan
1.2.1 Memberi peluang siswa mengembangkan ggasan dan imajinasinya dalam bercerita serta mengetahui faktor penghambat ketidaksuburan budaya menulis di kalangan siswa SMA.
1.2.2 Menentukan alternatif solusi pengembangan penulisan cerita pendek di kalangan pelajar SMA sehingga pelajaran Bahasa Indoensia tetap menarik dan menyenangkan dengan menafaatkan kmjuan dunia teknologi informasi melalui jaringan alam bentuk on-line.
1.2.3 Mengajukan bentuk alternatif pengembangan budaya menulis cerita pendek yang menekankan pada kebebasa berekspresi imjinatif dalam kemasan berbahasa engan baik dan benar.

1.3 Rumusan Masalah
Secara umum inti masalahnya adalah bagaimanakah meningkatkan pebelajaran menulis cerpen dengan strategi on-line di kelas XII SMA Xaverius 1 Palembang. Secara khusus masalah dalam penelitian ini sebagai berikut
1.3.1 Bagaimanakah penggunaan metode pembelajaran strategi on-line (untuk meningkatkan kemampuan menulis cerpen siswa kelas XII SMA Xaverius 1 Palembang pada tahap kreatif imajiner?
1.3.2 Bagaimanakah penggunaan metode pembelajaran strategi on-line (untuk meningkatkan kemampuan menulis cerpen siswa kelas XII SMA Xaverius 1 Palembang pada tahap mengembangkan cerita?
1.3.3 Bagaimanakah penggunaan metode pembelajaran strategi on-line untuk meningkatkan kemampuan menulis cerpen siswa kelas XII SMA Xaverius 1 Palembang dalam format tulisan yang baik dan benar ?
II. PEMBAHASAN

2.1 Hakikat Cerita Pendek
2.1.1 Pengertian Cerita Pendek (cerpen)

Sebagai salah satu bagian dari karya sastra, cerita pendek (cerpen) memiliki banyak pengertian. Sumardjo (1980: 91) mengungkapkan bahwa cerita pendek adalah seni, keterampilan menyajikan cerita, yang di dalamnya merupakan satu kesatuan bentuk utuh, manunggal, dan tidak ada bagian-bagian yang tidak perlu, tetapi juga ada bagian yang terlalu banyak. Semuanya pas, integral, dan mengandung suatu arti. Edgar Allan Poe dalam Eneste (1983) mengatakan bahwa cerpen adalah sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk, kira-kira berkisar antara setengah sampai dua jam-suatu hal yang kiranya tak mungkin dilakukan untuk novel.
Pengertian cerpen adalah cerita fiksi (rekaan) yang memiliki tokoh utama yang sedikit dan keseluruhan ceritanya membentuk satu kesan tunggal, kesatuan bentuk, dan tidak ada bagian yang tidak perlu. Sifat umum cerpen ialah pemusatan perhatian pada satu tokoh saja yang ditempatkan pada suatu situasi sehari-hari, tetapi yang ternyata menentukan (perubahan dalam perspektif, kesadaran baru, keputusan yang menentukan). Tamatnya seringkali tiba-tiba dan bersifat terbuka (open ending). Dialog, impian, flash-back dan lain-lain sering dipergunakan. Bahasanya sederhana tetapi sugestif.

2.1.2 Unsur-Unsur Pembangun Cerpen
Cerpen sebagai salah satu jenis prosa fiksi memiliki unsur-unsur yang berbeda dari jenis tulisan yang lain. Stanton dalam Sugihastuti (2007) berpendapat bahwa unsur-unsur sebuah cerpen terdiri atas (1) permulaan/pengantar, tengah/isi, dan akhir cerita, (2) pengulangan atau repetisi, (3) konflik, (4) alur/plot, (5) latar/seting, (6) penokohan, (7) tema, dan (8) sudut pandang penceritaan. Cerpen yang baik memiliki keseluruhan unsur-unsur yang membangun jalan cerita yang memiliki unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik meliputi tema, penokohan, alur/plot, latar/seting, gaya bahasa, dan sudut pandang penceritaan. berpendapat bahwa cerpen pada dasarnya dibangun atas unsur-unsur tema, amanat, perwatakan, latar, dialog, dan pusat pengisahan. Usur-unsur pembangun cerpen yang terdiri atas tema, perwatakan, seting, rangkaian peristiawa/alur, amanat, sudut pandang, dan gaya berjalinan membentuk makna baru.

2.2 Menulis Cerpen
2.2.1 Hakikat Menulis Cerpen
Menulis cerpen pada hakikatnya sama dengan menulis kreatif sastra yang lain. Adapun pengertian dari menulis kreatif sastra. Menulis kreatif sastra adalah pengungkapan gagasan, perasaan, kesan, imajinasi, dan bahasa yang dikuasai seseorang dalam bentuk karangan. Tulisan yang termasuk kreatif berupa puisi, fiksi, dan non fiksi. Menurut Budianta (1991: 1) menulis kreatif sastra pada dasarnya merupakan proses penciptaan karya sastra. Proses itu dimulai dari munculnya ide dalam benak penulis, menangkap dan merenungkan ide tersebut (biasanya dengan cara dicatat), mematangkan ide agar jelas dan utuh, membahasakan ide tersebut dan menatanya (masih dalam benak penulis), dan menuliskan ide tersebut dalam bentuk karya sastra. Jadi menulis kreatif sastra adalah suatu proses yang digunakan untuk mengunkapkan perasaan, kesan, imajinasi, dan bahasa yang dikuasai seseorang dan pikiran seseorang dalam bentuk karangan baik puisi maupun prosa.
Dari beberapa pengertian di atas dapat diketahui bahwa hakikat menulis cerpen adalah suatu proses penciptaan karya sastra untuk mengungkapkan gagasan, perasaan, kesan, imajinasi, dan bahasa yang dikuasai seseorang dalam bentuk cerpen yang ditulis dengan memenuhi unsur-unsur berupa alur, latar/seting, peratakan, dan tema.

2.2.2 Tahapan Menulis Cerpen
Pembelajaran menulis cerpen melalui empat tahap proses kreatif menulis yaitu (1) tahap persiapan, (2) tahap inkubasi, (3) tahap saat inspirasi, dan (4) tahap penulisan. Pada tahap persiapan, penulis telah menyadari apa yang akan ia tulis dan bagaimana menuliskannya. Munculnya gagasan menulis itu membantu penulis untuk segera memulai menulis atau masih mengendapkannya. Tahap inkubasi ini berlangsung pada saat gagasan yang telah muncul disimpan, dipikirkan matang-matang, dan ditunggu sampai waktu yang tepat untuk menuliskannya. Tahap inspirasi adalah tahap dimana terjadi desakan pengungkapan gagasan yang telah ditemukan sehingga gagasan tersebut mendapat pemecahan masalah. Tahap selanjutnya adalah tahap penulisan untuk mengungkapkan gagasan yang terdapat dalam pikiran penulis, agar hal tersebut tidak hilang atau terlupa dari ingatan penulis (Sumardjo, 2001: 70).
Dari pernyataan tersebut dapat diambil suatu kesimpulan bahwa menulis cerpen sebagai salah satu kemampuan menulis kreatif mengharuskan penulis untuk berpikir kreatif dan mengembangkan imajinasinya setinggi dan seluas-luasnya. Dalam menulis cerpen, penulis dituntut untuk mengkreasikan karangannya dengan tetap memperhatikan struktur cerpen, kemenarikan, dan keunikan dari sebuah cerpen.

2.2.3 Bahan Pembelajaran Menulis Cerpen
Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya kualitas pembelajaran adalah belum maksimalnya penggunaan bahan pembelajaran. Bahan pembelajaran erat kaitannya dengan tingkat kesiapan anak. Dalam hal ini, diperlukan suatu pertimbangan khusus tentang bahan pembelajaran yang sesuai dengan kondisi perkembangan kognitif dan bahasa sekolah menengah pertama.
Siswa yang menjadi subjek pembelajar di sini adalah siswa kelas XII. Pada fase ini siswa mampu memahami konsep keadilan, kepribadian, dan kebenaran. Pertimbangan dalam menentukan bahan pembelajaran menulis cerpen bagi anak sekolah menengah adalah disesuaikan dengan konsidi psikologis siswa yakni, bahan yang sudah mulai meninggalkan unsur-unsur fantasi dan masuk kepada unsur realitas, mulai mengarah pada upaya pemahaman melalui hipotesis, dan adanya implementasi konsep/prinsip. Pertimbangan psikologis tersebut diperlukan agar dapat menumbuhkan minat, daya ingat, kemauan mengerjakan tugas, kesiapan bekerja sama, dan kemungkinan pemahaman situasi atau pemecahan problem yang dihadapi. Pemilihan bahan pembelajaran erat kaitannya dengan tingkat kesiapan anak.
Pertimbangan selanjutnya untuk menentukan bahan pembelajaran menulis cerpen adalah sudut pandang bahasa. Guru dalam memilih bahan pembelajaran cerpen dengan mempertimbangkan kosakata yang baru, segi ketatabahasaan, situasi dan pengertian isi wacana termasuk ungkapan dan referensi yang ada. Sedangkan Johnson dan Louis (dalam Iskandarwassid, 2009) memberikan ciri-ciri bahan pembelajaran yakni menarik, mengandung banyak lakuan, bahagia pada akhir cerita, tidak terlalu panjang, dan menyenangkan.
Adapun bahan dalam cerita pendek, Stanton dalam Sugihastuti (2007:43) menjelaskan secara rinci unsur-unsur literer yang membangunnya adalah memiliki alur, latar, tema, penokohan, dan gaya yang khas. Alur cerita tersusun dalam urutan yang logis dan sesuai tuntutan cerita. Latar cerita memiliki ciri-ciri: uiversal, menanamkan kebenaran, dan perjuangan antara kekuatan baik dan jahat. Penokohan atau penggambaran watak tokoh memiliki ciri-ciri: meyakinkan, nyata, tindakannya konsisten dengan plot, penggambarannya sederhana dan langsung. Selain itu juga sedikit memiliki citraan, penggambaran tokohnya hidup, memiliki suatu yang khas dan menarik, serta nama tokoh mudah diingat atau mengesankan. Sedangkan gaya pengarang dalam cerita memiliki ciri-ciri: mengesankan, segar, tepat, serta bila dibacakan terlihat menarik.
Berdasarkan keterangan di atas diketahui bahwa materi pembelajaran sastra tidak hanya mencakup tentang peristiwa sastra atau cipta sastra, melainkan sejumlah persoalan dan hasil olah pikir dan karya siswa. Hasil tulisan siswa dapat menjadi materi pembelajaran yang menarik dalam sebauh kelas apresiasi sastra. Selain itu, pertanyaan-pertanyaan siswa dalam sebuah diskusi, merupakan materi pembelajaran yang menghidupkan kelas. Materi pembelajaran ditujukan untuk mengmbangkan pengetahuan siswa tentang sastra dan membangkitkan minat siswa untuk menulis kreatifsastra.

2.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Strategi Pembelajaran On-line
2.3.1 Ketersediaan media pembelajaran on-line lewat hotspot yang memang disediakan bagi proses pembelajaran sebesar 1 gigabite, di samping jaringan lain untuk e-learning.
2.3.2 Ketersediaan sarana LCD yang memudahkan komunikasi tertulis langsung secara on-line klasikal.
2.3.3 Kemampuan siswa dalam penggunaan hotspot yang sudah diatur dan ditentukan oleh sekolah secara terdaftar. Siswa diwajibkan mendaftarkan diri apabila ingin menggunakan hotspot yang disediakan oleh sekolah.
2.3.4 Ketersediaan blog yang diciptakan oleh guru sehingga memudahkan siswa untuk masuk dalam jaringan manakala pembelajaran menggunakan media on-line. Dalam penulisan cerpen on-line ini disediakan entri blog per kelas sehingga siswa dengan mudah masuk dalam jaringan kelasnya untuk mengembangkan imajinasi fiksinya.
2.3.5 Kemauan siswa belajar on-line amat besar sehingga perlu pendampingan yang tepat dan bijak.
2.3.6 Seiring perkembangan aktu, peran e-learning mulai tergeser dengan adanya m-lerning (moble lerning). Dalam hal ini m-learning tidak pernah menggantikan e-learning karema sarana yang digunakan memang berbeda. Jika e-learning menggunakan internet sebagai sarana dalam proses pembelajaran, m-learning mengacu pada teknologi mobile (HP) sebagai sarana dalam proses pembelajaran.

2.4 Model Pendekatan Pembelajaran Menulis Cerita Pendek On-line
Pembelajaran menulis cerita pendek on-line mengindikasikan perlunya model pendekatan yang tepat. Banyak model pendekatan yang bisa dilakukan dalam pembelajaran menulis cerita pendek, antara lain mind mapping, 3 M.
Mind mapping adalah salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah oengajaran cerita pendek. Berakar dari kesulitan siswa dalam memahami dan menerapkan unsur instrinsik dalam cerpen yang dibuatnya serta kesulitan dalam mengembangkan ide cerita maka dpatlah guru menggunakan model pemetaan pikiran (mind mapping). Model yang dipopulerkan oleh Tony Buzan ini merupakan model yang efektif untuk meningkatkan kemampuan menulis sistematis, spasial, imajinatif dan kreatif sesuai dengan kompetensi siswa.
Dalam model pemetaan pikiran (mind mapping) tersebut, pertama-tama siswa menuliskan satu kata kunci dari tema yang dipilih di tengah kertas. Tema tersebut kemudian dijabarkan dalam ranting-ranting berupa unsur cerpen yang meliputi alur, penokohan, watak, setting, sudut pandang serta ending cerita yang telah dipilih. Pada dasarnya, dengan model ini, siswa dituntun untuk membuat perencanaan sebelum menulis cerpen. Bila dalam perencanaan tulisan sering dikenal dengan pembuatan kerangka karangan, dalam pemetaan pikiran kerangka karangan tersebut berupa kata kunci yang dilengkapi dengan gambar berwarna yang dipetakan. Selain lebih menarik, kelebihan lain dari peta pikiran ini adalah siswa dapat menambahkan kata kunci di mana pun jika di tengah kegiatan menulis ia mendapatkan ide baru. Pemetaan pikiran tersebut dapat terus berkembang sesuai dengan keinginan penulisnya. Dengan demikian, dalam model ini, siswa dibebaskan untuk menulis “apa pun” sesuai dengan keinginan serta kreativitas. Di
samping itu, simbol serta gambar berwarna yang digunakan berpotensi mengoptimalkan fungsi kerja otak kanan yang memacu kreativitas serta imajinasi sehingga diharapkan siswa tidak kehabisan ide dalam menulis cerpen.
Ada juga alternatif strategi pembelajaran menulis cerita pendek yang kreatif dan inovatif dengan memanfaatkan fasilitas yang ada. Strategi pembelajaran yang ditawarkan dilandasi oleh strategi copy the master. Strategi copy of master adalah strategi pemodelan yang dekat dengan penulis pemula. Adanya model yang dekat dengan penulis berarti memudahkan penulis untuk memulai kegiatan menulis.
Strategi copy the master tersebut selanjutnya dikembangkan menjadi strategi menulis cerpen yang diberi nama strategi 3M (Meniru-Mengolah-Mengembangkan). Tahapan dalam strategi 3M adalah tahapan meniru, mengolah, lalu mengembangkan. Ada pertimbangan bahwa siswa memerlukan pemberian alternatif dalam strategi pembelajaran baru. Penggunaan metode pembelajaran strategi 3M dapat dugunakan untuk meningkatkan kemampuan menulis cerpen dengan pola meniru. Pola ini disesuaikan dengan tingkat pendidikan dan taraf perkembangan psikis maupun kompetensi siswa. Pola meniru lebih sesuaidigunakan bagi siswa seolah dasar atau awal sekola menengah pertama. Sedangkan pola mengolah lebih sesuai diterapkan pada siswa kelas akhir sekolah menengah pertama. Penggunaan metode pembelajaran strategi mengembangkan bisa digunakan di sekolah menengah atas. Hal-hal tersebut didasarkan atas perkembangan ranah pembelajaran peserta didik dan efektivitasnya.

2.5 Langkah-langkah Pola Pembelajaran Cerita Pendek On-line

2.5.1 Prakondisi
a. Guru mengadakan tanya jawab dengan siswa tentang cerita pendek. Siswa dipersilakan mengemukakan konsep yang dimiliki tentang hakikat cerita pendek. Hakikat cerita pendek baik dari segi intrinsik maupuk ekstrinsiknya sudah dipelajari di kelas XI sehingga pembelajaran di kelas XII merupakan langkah lanjut sebagai aplikasi konsep yang telah dikuasai siswa.
b. Guru menanyakan poin-poin teknis yang belum dikuasai siswa berkaitan dengan cara penulisan cerita pendek, lantas menjelaskannya.
c. Guru menyampaikan alternatif pengembnagan kreativitas imajinatif siswa dalam bentuk cerita pendek dengan menggunakan pola on-line.
d. Guru menjelaskan prosedural teknis normatif yang harus dilakukan siswa. Guru mempertegas kriteria yang harus diindahkan dalam penulisan cerita pendek online, baik dari segi teknis-normatif penulisan langsung, isi, bahasa, dan tata tulis.
e. Guru mengemukakan prosedural teknis penulisan dalam komentar, atau balas.

2.5.2 Proses Pembelajaran

a. Sebelum jam pembelajaran sesuai jadwal, guru mempersiapkan jaringan blog bagi kelas yang dimaksud-diajarnya secara terpola.
b. Guru membuka blog pembelajaran yang telah disusunnya secara terperinci dan klasikal yang ditayangkan melalui LCD kelas.
c. Guru memberi peluang siswa untuk membuka blog tersebut melalui laptop atau pesawat genggam (HP mobile) masing-masing.
d. Kepada siswa diberi kesempatan untuk menulis judul cerita pendek. Caranya, judul dimasukkan melalui kolom komentar.
e. Siapa pun siswa diperbolehkan membuat judul dan memasukkan ke komentar. Judul yang berhasil masuk terlebih dahulu harus disepakati oleh siswa lain sebagai judul pilihan.
f. Siswa-siswa dipersilakan memasukkan kalimat imajinasi mereka sebagai bagian pendahuluan cerita pendek.
g. Komentar yang masuk terlebih dahulu merupakan bagian awal pembuka cerita pendek.
h. Siswa-siswa lain dipersilakan berlomba mengirimkan komentar atau balas sebagai bagian cerita berikutnya.
i. Sembari siswa berlomba memasukkan kalimat-kalimat kreasi-imjinasinya guru memperjels dan mempertegas hal-hal yang harus diperhatikan dalam pengiriman komentar.
j. Secara klasikal cerita berkembang dan dapat dilihat siswa melalui LCD yang ditaangkan di kelas.
k. Guru menerangkan kriteria normatif seputar akikat cerita pendek lainnya sekaligus. Komentar yang tidak sesuai dengan ketentuan yang disepakati akan dihapus.
l. Guru memberikan rentang waktu kerja bagi siswa dalam melakukan kreasi iamjinatif menyusun cerita pendek serta batas waktu maksimalnya.
m. Manakala batas waktu pembelajaran tidak mencukupi, siswa diperbolehkan memasukkan kalimat kreatif imajinatifnya di luar jam pembelajaran.
n. Guru mempertegas batas waktu maksimal pengirimannya komentar. Maka, guru harus memformat peluang komentar dalam entri blog. Di sini guru bisa menata waktu maksimal pengiriman komentar atau balas.
o. Konsekuansi logisnya guru harus menyeleksi manakala ada siswa yang ternyata terlambat mengirimkan. Biasanya diperlukan waktu sekitar 3 hari. Siswa dipersilakan berkonsultasi dan bertanya tentang materi dan pembahasan yang dilakukannnya beserta aspek teknis lainnya.
p. Pada pertemuan berikutnya guru bersama siswa membuka kembali blog menulis cerita pendek on-line. Secara terpadu siswa dan guru membaca bagin per bagian cerita, dari awal hingga terakhir.
q. Di sisi lain guru dan siswa mengidentifikasi komentar atau balas secara klasikal bersama hingga bagian paling akhir sesuai batas waktu.
r. Guru minta tolong seorang siswa untuk mendata frekuensi peran serta siswa dalam merangkai peristiwa cerita dengan sistem turus yang dilakukan di daftar nama siswa milik guru.
s. Siswa diberi peluang untuk mengevaluasi komentar atau balas yang secara berurutan tersusun sebagai ”cerita pendek”. Oleh sebab itu siswa dipersilakan mengkaji dan mengomentari rangkaian peristiwa tersebut, terutama dilihat dari segi alur, latar, tokoh dan penokohan, sudut pandang cerita, bahasa, dan tata tulis. Siswa diperbolehkan beradu argumentasi dalam kendali guru.
t. Daya imajinasi diberi kebebasan oleh guru untuk mengembangkan bagian cerita. Manakala ada siswa yang menginginkan penambahan bagian tertentu, siswa dipersilakan memberi komentar atau balas pada bagian yang dimaksud.
u. Guru memberikan uraian mentah peristiwa yang tersusun dalam satu format cerita dalam print out. Siswa dipersilakan memberikan tanggapan. Naskah yang dibagikan atau ditayangkan masih seperti yang ada dalam blog.
v. Setelah siswa beradu argumentasi tentang komentar atau balas siswa dipersilakan melalukan koreksi bersama dalam diskui kelompok.
w. Dalam diskusi kelompok tersebut siswa diperbolehkan mengubah, menata ulang, menambahkan ide sebagai kesepakatan kerja kelompok.
x. Hasil kerja kelompok diminta disajikan dalam print-out untuk dibahas pada jam pertemuan berikutnya.
y. Guru melakukan penilaian terhadap hasil karya siswa yang sudah dikumpulkan dengan kriteria normatif sebagaimana telah disampaikan kepada siswa. Dibutuhkan kejelian, kegesitan, dan kecermatan guru dalam memberikan penilaian sehingga isi laporan, kejujuran, objektivitas, dan aspek teknis tercapai dengan baik.

2.5.3 Pascapembelajaran

a. Apabila terdapat siswa yang hasil karyanya tidak masuk dalam jaringan diberi peluang mengembangkan cerita melalui balas, bukan lagi komentar.
b. Manakala ada bagian yang dirasakan belum memenuhi kriteria ketuntasan diberi kesempatan untuk memperbaikinya dalam batas waktu yang ditentukan. Dari hal ini siswa tersebut banyak melakukan koreksi diri dan pembelajaran ke arah sisi penulisan cerita pendek dan teknis penulisan yang benar.
c. Siswa dimohon untuk mendokumentasikan hasil karya mereka melalui bentuk fisik (print out) ataupun jaringan pribadi. Guru memberikan motivasi kepada siswa bahwa hasil karyanya akan semakin bermakna dan berkesan seiring dengan putaran waktu yang semakin panjang.

2.6 Rubrik Penilaian
Hasil karya tulis siswa sebagai bagian hasil akhir proses belajarnya memerlukan penilaian guna mengukur taraf keberhasilan dari pengembangan kompetensinya. Tujuan pembelajaran yang menjadi target pencapaian hasil belajar dapat terukur melalui hasil proses belajarnya. Hal ini harus relevan dengan proses pembelajarannya juga sebagai bentuk layanan guru dalam pengembangan kompetensi pembelajar. Dengan demikian akan terlihat jelas relevansi dan korelasi antara tujuan, proses dan layanan pembelajaran, serta pengevaluasian hasilnya.
Layanan sebagai bentuk proses pembelajaran dalam pembiasaan menulis cerita pendek dapat diukur antara lain menggunakan melalui tabel berikut.

No. Aspek Kriteria Skor
1 Isi a. Memiliki relevansi hakikat sastra tema cerita dengan amat baik.
b. Memiliki relevansi hakikat sastra tema cerita dengan baik.
c. Memiliki relevansi hakikat sastra tema cerita dengan cukup baik.
d. Memiliki relevansi hakikat sastra tema cerita dengan kurang baik. 9-10

7-8

5-6

3-4
2 Hubungan antarperistiwa a. Memiliki hubungan logis peristiwa dalam alur dengan amat baik
b. Memiliki hubungan logis peristiwa dalam alur dengan baik
c. Memiliki hubungan logis peristiwa dalam alur dengan cukup baik.
d. Memiliki hubungan logis peristiwa dalam alur dengan kurang baik. 9-10

7-8
5-6

3-4
3 Latar a. Memberikan gambaran tempat, waktu, dan suasana cerita dengan amat baik.
b. Memberikan gambaran tempat, waktu, dan suasana cerita dengan baik.
c. Memberikan gambaran tempat, waktu, dan suasana cerita dengan cukup baik.
d. Memberikan gambaran tempat, waktu, dan suasana cerita dengan kurang baik. 9-10

7-8
5-6

3-4
4 Tokoh dan penokohan a. Profil tokoh utama atau tambahan diungkapkan dalam kesan imajinatif yang amat baik.
b. Profil tokoh utama atau tambahan diungkapkan dalam kesan imajinatif yang amat baik.
c. Profil tokoh utama atau tambahan diungkapkan dalam kesan imajinatif yang amat baik.
d. Profil tokoh utama atau tambahan diungkapkan dalam kesan imajinatif yang amat baik. 9-10
7-8
5-6
3-4
5 Sudut pandang bercerita a. Menggunakan sudut pandang dengan amat baik
b. Menggunakan sudut pandang dengan baik
c. Menggunakan sudut pandang dengan cukup baik
d. Menggunakan sudut pandang dengan kurang baik 9-10
7-8
5-6
3-4
6 Tata tulis a. Memenuhi kaidah penulisan dengan amat baik
b. Memenuhi kaidah penulisan dengan baik
c. Memenuhi kaidah penulisan dengan cukup baik
d. Memenuhi kaidah penulisan dengan kurang baik 9-10
7-8
5-6
3-4
7 Kalimat a. Logika, efektivitas, kelengkapan unsur kalimat amat baik.
b. Logika, efektivitas, kelengkapan unsur kalimat baik.
c. Logika, efektivitas, kelengkapan unsur kalimat cukup baik.
d. Logika, efektivitas, kelengkapan unsur kalimat kurang baik 9-10

7-8

5-6

3-4

Berdasarkan peran serta siswa yang dapat diindikasi dari frekuensi pengiriman serta sedikit-banyaknya komentar atau balas dan rubrik penilaian di atas guru dpat memberikan penilaian kepada siswa. Penilaian yang diberikan oleh guru hendaknya bersifat apresiatif terhadap karya siswa sehingga justru memberikan motivasi siswa untuk lebih belajar dan meningkatkan terus kompetensinya. Di sisi lain, atas dasar kiteria normatif yang telah diketahui bersama dengan siswa, objektivitas dan keadilan harus ditegakkan.

2.7 Hambatan Pembelajaran Penulisan Cerita Pendek On-line

Hambatan dalam pembelajaran merupkan hal yang sering terjadi dan harus diatasi oleh guru dengan bijak dqn tepat sasaran. Manakala kita mengajar banyak kelas dan berbeda programnya tentulah hal ini harus disikapi dengan cermat dan cerdas dlam mengambil kebijakan. Kondisi klasikal yang sama jurusan pun seringkali menunjukkan kesulitan yang berbeda. Kondisional klasikal dengan karakter khasnya memerlukan aktu pemahaman dan pengantisipasian yang tepat ketika kita hendak memerikan materi baru.
Demikian juga halnya ketika proses pembelajaran kreatif menulis cerita pendek secara on-line. Persoalan bermunculan sehubungan dengan banyak aspek, misalnya minat siswa, fasilitas dan sarana, serta ketepatn metode yang digunakan oleh guru. Meski materi sama diperlukan pelayanan pembelajaran yang berbeda jika problematika dn perlakukan kompetensi berbeda.

3 PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA

Budianta, Eka.1992. Menggebrak Dunia Mengarang. Jakarta: Pustaka Pembangunan Swadaya Nusantara.

Eneste, Pamusuk. 1983. Cerpen Indonesia Mutakhir. Jakarta: Gramedia.

Iskandarwassid dan Dadang Sunendar. 2009. Strategi Pembelajaran Bahasa Indonesia. Bandung: Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia-PT Remaja Rosdakarya.

Nurgiantoro, Burhan. 2005. Sastra Anak, Pengantar Pemahaman Dunia Anak. Yogyakarta. Gadjahmada University Press.

Oshima, Alice and Ann Hoque. 2006. Writting Academic English. Fourth Edition. New York: Pearson Education. Inc..

Rahmanto, B. 1990. Metode Pengajaran Sastra, Pegangan Guru Pengajar Sastra. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Sasongko, Gunawan G.. 2006. Trik Instan Bikin Cerita Remaja: Novel-Cerpen-Skenario. Jakarta: Sisma Digimedia.

Semi. M. Atar. 1993. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Angkasa.

Sugihastuti dan Rossi Abi Al Irsyad. 2007. Teori Fiksi Robert Stanton (terjemahan). Yogyakarta. Pustaka Pelajar Offset.

Sumardjo, Yakob dan Saini K.M.. 2001. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta: Gramedia.

Sumardjo, Yakob. 1980. Seluk-beluk Cerita Pendek. Bandung: Mitra Kencana.

Targan, Henry Guntur. 2008. Menulis Sebagai Sutau Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

Februari 26, 2015 at 7:00 am Meninggalkan komentar

PENDEKATAN SAINTIFIK DAN PENCEKATAN AUTENTIK DALAM BAHASA INDONESIA SMA

Originally posted on Keterampilan Membaca:

Lihat yang asli 18 kata lagi

Februari 26, 2015 at 5:30 am Meninggalkan komentar

PENDEKATAN SAINTIFIK DAN PENCEKATAN AUTENTIK DALAM BAHASA INDONESIA SMA

(lebih…)

Februari 26, 2015 at 5:30 am 1 komentar

PENGARUH HEGEMONI KEKUASAAN DAN LAKI-LAKI TERHADAP PEREMPUAN DALAM ANTOLOGI PUISI 22 PEREMPUAN INDONESIA: `HATI PEREMPUAN` (SUATU TINJAUAN KRITIK SASTRA FEMINIS)

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Puisi merupakan karya sastra yang memiliki karakter sangat unik. Seperti dikatakan oleh Edwin Arlington Robinson (Cole, 1931: 25) ”Poetry has two outstanding characteristics. One is that it is, after all, undefineable, the other is that it is eventually unmistakable”. Puisi dikatakan memiliki karakter yang tidak dapat didefinisi atau justru ketika didefinisi maka pemaknaan ini tidak ada yang salah. Dengan melihat dua karakter tersebut, puisi memberi ruang interpretasi yang lebih luas. Puisi yang tercipta dalam untaian kata yang indah dapat dikatakan multi-interpretable.
Puisi selalu berubah-ubah sesuai dengan evolusi selera dan perubahan konsep estetiknya. Meskipun demikian, orang tidak akan dapat memahami puisi secara sepenuhnya tanpa mengetahui dan menyadari bahwa puisi adalah karya estetis yang bermakna atau berarti, dan bukan sesuatu yang kosong (Riffaterre dalam Pradopo, 1991: 5). Analisis puisi dapat berkembang tidak hanya dalam kajian strukturnya saja karena aspek pendukung seperti latar belakang terciptanya puisi dapat menjadi faktor penting dalam analisis. Tidak dapat dipungkiri bahwa sebelum masuk pada pengkajian aspek-aspek yang lain, puisi dikaji sebagai sebuah struktur yang bermakna dan bernilai estetis (Pradopo, 1991: 5) .
Puisi merupakan hasil kreatifitas manusia yang diwujudkan lewat susunan kata yang mempunyai makna. Puisi juga tersusun atas unsur-unsur yang beraneka ragam. Unsur-unsur tersebut antara lain berupa kata-kata, bentuk, pola rima, ritma, ide, makna atau masalah yang diperoleh penyairnya di dalam hidup dan kehidupan yang hendak disampaikannya kepada pembaca, pendengar, melalui teknik dan aspek–aspek tertentu. Unsur-unsur yang membangun puisi meliputi imajinasi, emosi dan bentuknya yang khas (Brahim dalam Sayuti, 1985: 14) .
William J. Grace dalam Sayuti (1985: 14) mengatakan bahwa watak puisi lebih mengutamakan intuisi, imajinasi dan sintesa dibandingkan dengan prosa yang lebih mengutamakan pikiran, konstruksi dan analisis. Pemaknaan puisi atau pemberian makna puisi ini berhubungan dengan teori sastra masa kini yang lebih menekankan perhatian pada pembaca. Puisi adalah artefak yang baru mempunyai makna apabila diberi makna oleh pembaca. Akan tetapi pemberian makna tidak boleh asal-asalan tetapi berdasarkan atau dalam kerangka semiotik (ilmu/sistem tanda), karena karya sastra merupakan sistem tanda (Pradopo, 1991: 278).
Banyak antologi puisi karya penyair wanita di Indonesia. Di antara karya-karya tersebut bahkan sudah ada yang diakui dunia. Patut dicatat, dalam khazanah sastra Indonesia dapat dikatakan hanya ada tiga penyair yang secara konsisten menyuarakan feminisme dalam sajak-sajak mereka, yakni Toeti Herati (Mimpi dan Pretensi), Dorothea Rosa Herliany (Nikah Ilalang, Kill The Radio/Sebuah Radio Kumatikan, Nyanyian Gaduh, Para Pembunuh Waktu), dan Oka Rusmini (Patiwangi, Pandora).
Di sisi lain demikian marak buku puisi karya penyair perempuan yang terbit dan berada di berbagai daerah. Karya tersebut umumnya berupa antologi. Banyak juga bermunculan karya bersama dua, beberapa, bahkan relatif banyak penyair wanita dalam bentuk antologi. Buku tersebut antara lain Antologi Puisi Perempuan Penyair Indonesia 2005, karya Fathin Hamama, Helvy Tiana Rosa, Medy Loekito, dkk, Dianing Widya Yudhistira, Penerbit Risalah Badai, Jakarta, 2005, Nyanyian Pulau-pulau: Antologi Puisi Wanita Penulis Indonesia, Penerbit: Yayasan Obor Indonesia, Jakarta (2010); Antologi Puisi 22 Perempuan Indonesia Hati Perempuan, Penerbit Kosa Kata Kita, Jakarta (2011), Di Antara Dua Dunia (2010); Puisi-puisi Feminis “Seperti Pagi” karya R. Valentina Salah Bagala, Penerbit Institut Perempuan, Jakarta (2010).
Pembahasan akademis tentang feminisme juga sudah dilakukan, antara lain Feminisme dalam Puisi Abdul Wachid B.S. karya Teguh Trianton, disampaikan dalam sebuah seminar, Feminisme dalam Kumpulan Puisi Suryatati A. Manan Walikota Tanjungpinang: Studi Perkembangan dan Perubahannya, karya Riau Wati, Penerbit Umroh Press (2010). Banyak pembahasan puisi feminisme secara akademis, namun sulit diperoleh datanya.
Antologi Puisi 22 Perempuan Indonesia Hati Perempuan adalah salah satuantologi puisi karya perempuan-perempuan penyair Indonesia yang isinmya antara lain mencerminkan kerangka berpikir para wanita penyair itu tentang sikap dan pandangan pria terhadap wanita. Dalam antologi puisi ini, para penyair mengungkapkan di antaranya gambaran bagaimana pandangan laki-laki terhadap sosok wanita. Antologi puisi ini menarik untuk dikaji karena sedikit kajian serupa dilakukan sebuah antologi. Di sisi lain antologi ini berbagai kota di Indonesia, dari Pulau Jawa, Bali, Kalimantan, dan Sumatera.
Banyak karakter puisi yang tercipta dalam antologi ini. Secara tematis ada yang mengungkapkan perasaan cinta-kasih, kehidupan, kebahagiaan, kesedihan, dan kematian. Wanita selalu menjadi yang kedua. Wanita tidak pernah mendapat porsi untuk menjadi yang pertama. Sungguh disayangkan, wanita menyadari dan menerima hal tersebut sebagai satu kewajaran. Hal ini telah berlangsung dari dulu sampai sekarang yang bahkan telah dimulai sejak abad sebelum masehi. Sistem budaya di belahan dunia manapun turut melanggengkan sistem ini, stigma ini akhirnya diterima secara umum sebagai kebenaran. Kesadaran semu yang ditanamkan terhadap otak wanita telah mengaburkan makna yang sesungguhnya dari hakikat dari segi hegemoni kekuasaan dan laki-lakidi tengah hadirannya di dunia. Karena itulah antologi puisi menarik untuk dikaji sebagai salah satu sisi perjuangan feminisme.

1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimanakah pengaruh hegemoni kekuasaan terhadap kerangka berpikir perempuan yang terungkap dalam Antologi Puisi 22 Perempuan Indonesia: Hati Perempuan?
1.2.2 Bagaimanakah pengaruh hegemoni laki-laki terhadap kerangka berpikir perempuan yang terungkap dalam Antologi Puisi 22 Perempuan Indonesia: Hati Perempuan?
1.3 Tujuan Penelitian
Peneilitian ini bertujuan:
1.3.1 Mendeskripsikan pengaruh hegemoni kekuasaan terhadap kerangka berpikir perempuan dalam Antologi Puisi 22 Perempuan Indonesia: Hati Perempuan.
1.3.2 Mendeskrisikan bentuk-bentuk hegemoni laki-laki terhadap kerangka berpikir perempuan yang terungkap dalam Antologi Puisi 22 Perempuan Indonesia: Hati Perempuan.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Teoretis Akademis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan dalam salah satu sumber informasi dalam pengembangan teori sastra dalam kajian struktural genetik dan dapat digunakan untuk menambah referensi pustaka ilmu terkait, di samping sebagai dasar rujukan penelitian selanjutnya.
1.4.2 Praktis
Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh siswa, guru, maupun kalangan akademisi serta instansi terkait untuk berbagai keperluan yang relevan.

II. KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Teori Hegemoni

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001) hegemoni –n- berarti pengaruh kepemimpinan, dominasi, kekuasan, dan sebagainya suatu negara atas negara lain atau negara bagian. Di sisi lain dalam bukunya Prison Notebooks, Gramsci memakai berbagai istilah yang menurutn ya ekuivalen dengan ideologi, seperti kebudayaan, filsafat, pandangan dunia, atau konsepsi mengenai dunia. Demikian pula istilah ‘reformasi moral dan intelektual` ketika Gramsci membicarakan transformasi kesadaran sebagai prasyarat perbaikan menuju sosialisme. Sebagaimana halnya Marx, tetapi berbeda dengan kaum Marxis ortodoks, Gramsci menganggap dunia gagasan, kebudayaan, superstruktur, bukan hanya refleksi atau ekspresi dari struktur kelas ekonomi atau infrastruktur yang bersifat material, melainkan sebagai salah satu kekuatan material itu sendiri. Sebagai kekuatan material itu, dunia gagasan atau ideologi berfungsi mengorganisasi massa manusia, menciptakan tanah lapang yang di atasnya menusia bergerak.
Bagi Gramsci (Bennet, 1983), hubungan antara yang ideal dengan yang material tidak berlangsung searah, melainkan bersifat tergantung dan interaktif. Kekuatan material merupakan isi, sedangkan ideologi-ideologi merupakan bentuknya. Kekuatan material tidak akan dapat dipahami secara historis tanpa bentuk dan ideologi-ideologi akan menjadi khayalan individu belaka tanpa kekuatan material. Dengan demikian, ideologi bukanlah dunia khayalan atau fantasi milik perorangan, bukan pula sesuatu yang bersifat di awang-awang dan berada di luar aktivitas manusia. Ideologi adalah suatu material yang terjelma dalam aturan dan cara-cara hidup yang dilakukan oleh individu secara kolektif. Ideologi selalu memberikan berbagai aturan bagi tindakan praktis perilaku manusia secara kolektif sehingga menjelma dalam praktik-praktik sosial setiap orang dalam lembaga-lembaga dan organisasi-organisasi di mana praktik sosial itu berlangsung.
Selain ideologi, konsep penting yang dibicarakan Gramsci adalah hegemoni. Titik awal konsep Gramsci tentang hegemoni, bahwa suatu kelas dan anggotanya menjalankan kekuasaan terhadap kelas-kelas di bawahnya dengan dua cara, yaitu kekerasan dan persuasi. Cara kekerasan (represif) yang dilakukan kelas atas terhadap kelas bawah disebut dengan tindakan dominasi, sedangkan cara persuasinya disebut dengan hegemoni. Perantara tindak dominasi ini dilakukan oleh para aparatur negara seperti polisi, tentara, dan hakim, sedangkan hegemoni dilakukan dalam bentuk menanamkan ideologi untuk menguasai kelas atau lapisan masyarakat di bawahnya.
Secara literal hegemoni berarti ‘kepemimpinan’ yang pada jaman ini menunjukkan sebuah kepemimpinan dari suatu negara tertentu yang bukan hanya sebuah negara kota terhadap negara-negara lain yang berhubungan secara longgar maupun secara ketat terintegrasi dalam negara ‘pemimpin’. Bagi Gramsci, konsep hegemoni berarti sesuatu yang lebih kompleks. Gramsci menggunakan konsep ini untuk meneliti bentuk-bentuk politis, kultural, dan ideologis tertentu yang lewatnya, dalam suatu masyarakat yang ada, sesuatu kelas fundamental dapat membangun kepemimpinannya sebagai sesuatu yang bersifat memaksa.
Adapun hubungan dua jenis kepemimpinan menurut Gramsci, kepemimpinan (direction) dan dominasi (dominance) itu menyiratkan tiga hal. Pertama, dominasi dijadikan atas seluruh musuh, dan hegemoni dilakukan kepada segenap sekutu-sekutunya. Kedua, hegemoni adalah suatu prakondisi untuk menaklukan aparatus negara atau dalam pengertian sempit kekuasaan pemerintahan. Ketiga, sekali kekuasan negara dapat dicapai, dua aspek supremasi kelas ini, baik pengarahan maupun dominasi, terus berlanjut.
Dengan demikian, konsep hegemoni yang dikembangkan Gramsci berpijak mengenai kepemimpinan yang sifatnya ‘intelektual dan moral’. Kepemimpinan ini terjadi karena adanya kesetujuan yang bersifat sukarela dari kelas bawah atau masyarakat terhadap kelas atas yang memimpin. Kesetujuan kelas bawah ini terjadi karena berhasilnya kelas atas dalam menanamkan ideologi kelompoknya. Internalisasi ideologis ini dilakukan dengan membangun sistem dan lembaga-lembaga, seperti negara, commen sense, kebudayaan, organisasi, pendidikan, dan seterusnya, yang dapat ‘menyemen’ atau memperkokoh hegemoni tersebut. Di sisi lain, hegemoni terhadap kelas bawah tidak selamanya berjalan mulus, hambatan, dan rintangan bisa saja datang, terutama dari kelas-kelas yang tidak menerima hegemoni tersebut. Yang dilakukan untuk menangani ketidaksetujuan itu dilakukan dengan tindakan dominasi yang represif melalui aparatus negara, misalnya polisi. Dua kepemimpinan, dominasi dan hegemoni menjadi hal penting dalam teori hegemoni Gramscian.
Sebagaimana teoritisi Marxian lainnya, Gramsci mengakui adanya keteraturan sejarah tetapi tidak berjalan secara otomatis dan bukan tak terelakkan. Perkembangan sejarah terjadi karena tumbuh kesadaran massa terhadap situasi dan sistem yang dihadapi kemudian bergerak untuk melakukan perubahan sosial. Faktor ekonomi mungkin menjadi salah satu penggerak utama, namun bukan satu-satunya. Dalam hal ini yang diperlukan adalah revolusi ideologi dimana didorong dan digerakkan oleh kelas intelektual yang sadar karena massa tidak memiliki kesadaran diri. Meski demikian, dorongan dari elit akan menjadi ide dan dasar bagi massa untuk melakukan revolusi sosial.
Gramsci pada dasarnya mempersoalkan ide kolektif dan bukan struktur sosial. Dalam hal ini dia mengemukan kata kunci hegemoni, yaitu sebuah sistem pemerintahan suatu negara yang didasarkan pada pembentukan atau pembinaan konsensus melalui kepemimpinan budaya. Hegemoni itu sendiri ia artikan sebagai praktik kepemimpinan budaya yang dilakukan oleh ruling class, yang menjadi isi dari filsafat praksis. Perubahan tidak ditempuh melalui praktik koersif yang menggunakan kekuasaan eksekutif dan legislative atau intervensi yang dilakukan polisi melainkan menggunakan ideologi. Praktik hegemoni itu dilakukan secara terus menerus terhadap kekuatan oposisi untuk mau memilih sikap konformistik, sehingga menimbulkan disiplin diri untuk menyesuaikan dengan norma-norma yang diputuskan oleh negara dengan keyakinan bahwa apa yang telah diputuskan negara tersebut merupakan cara terbaik untuk meraih kesejahteraan.
Dalam menganalisa kapitalisme, Gramsci hendak menunjukkan peran kaum intelektual yang bekerja atas nama kapitalisme dengan menempuh kepemimpinan kultural dengan persetujuan massa. Massa tidak melahirkan ideologinya sendiri, melainkan dibantu oleh elit (ruling class) yang disebutnya sebagai kelas intelektual, baik itu intelektual hegemonic maupun counter hegemonic. Kedua lapisan kelas intelektual tersebut bertugas untuk mengorganisasi kesadaran maupun ketidaksadaran massa secara terus menerus. Intelektual hegemonic bertanggung jawab untuk menjamin pandangan massa konsisten dengan nilai-nilai kapitalisme yang telah diterima oleh semua lapisan masyarakat. Sebaliknya, intelektual counter hegemonic bertugas memisahkan massa dari kapitalisme dan membangun pandangan dunia sesuai dengan perpektif sosialis. Massa dengan demikian tidak cukup dengan menguasai ekonomi maupun aparatus negara, tetapi memerlukan penguasaan kepemimpinan cultural di tengah massa. Di sinilah perlunya peran intelektual kolektif dan partai untuk mentransformasikan massa pasif menjadi massa aktif dan memasukkannya ke dalam program transformasi yang disusun oleh intelektual kolektif sebagai partai yang beretika sosialis.
Konsepsi konsensus dalam kerangka hegemoni Gramsci dikaitkan dengan ungkapan-ungkapan psikologis yang mencakup berbagai penerimaan aturan sosio-politis maupun aturan lainnya. Tatanan hegemonic tidak perlu masuk ke dalam lembaga-lembaga ataupun praktik liberal sebab hegemoni pada dasarnya merupakan suatu totalitarianisme dalam arti ketat. Mekanisme kelembagaan seperti sekolah, gereja, partai-partai politik, media massa dan sebagainya merupakan ‘tangan-tangan’ kelompok yang berkuasa untuk menentukan ideologi yang mendominasi. Bahasa menjadi sarana penting untuk melayani fungsi hegemonik tertentu. Dalam konteks ini, tidak ada peluang dan ruang publik bagi agen masyarakat untuk berbuat lain di luar kerangka ideologi kelompok hegemonik.
Teori hegemoni merupakan sebuah teori politik paling penting abad XX. Teori ini dikemukakan oleh Antonio Gramci (1891-1937). Antonio Gramci dapat dipandang sebagai pemikir politik terpenting setelah Marx. Gagasanya yang cemerlang tentang hegemoni, yang banyak dipengeruhi oleh filsafat hukum Hegel, dianggap merupakan landasan paradigma alternatif terhadap teori Marxis tradisional mengenai paradigma base-superstructure (basis-suprastruktur). Teori-teorinya muncul sebagai kritik dan alternatif bagi pendekatan dan teori perubahan sosial sebelumnya yang didominasi oleh determinisme kelas dan ekonomi Marxisme tradisional.
Teori hegemoni sebenarnya bukanlah hal yang baru bagi tradisi Marxis. Menurut
Femia pengertian semacam itu sudah dikenal oleh orang Marxis lain sebelum Gramci, seperti; Karl Marx, Sigmund Freud, Sigmund Simmel. Yang membedakan teori hegemoni Gramci dengan penggunaan istilah serupa itu sebelumnya adalah; Pertama, ia menerapkan konsep itu lebih luas bagi supremasi satu kelompok atau lebih atas lainnya dalam setiap hubungan sosial, sedangkan pemekaian iistilah itu sebelumnya hanya menunjuk pada relasi antara proletariat dan kelompok lainnya. Kedua, Gramci juga mengkarakterisasikan hegemoni dalam istilah “pengaruh kultural”, tidak hanya “kepemimpinan politik dalam sebuah sistem aliansi” sebagaimana dipahami generasi
Marxis terdahulu (Femia, 1983).
Teori hegemoni dari Gramci yang sebenarnya merupakan hasil pemikiran Gramci
ketika dipenjara yang akhirnya dibukukan dengan judul “Selection from The Prissons Notebook” yang banyak dijadikan acuan atau diperbandingkan khususnya dalam mengkritik pembangunan. Dalam perkembangan selanjutnya teori hegemoni ini dikritisi oleh kelompok yang dikenal dengan nama “New Gramcian”. \
Teori hegemoni dibangun di atas premis pentingnya ide dan tidak mencukupinya kekuatan fisik belaka dalam kontrol sosial politik. Menurut Gramci, agar yang dikuasai mematuhi penguasa, yang dikuasai tidak hanya harus merasa mempunyai dan menginternalisasi nilai-nilai serta norma penguasa, lebih dari itu mereka juga harus memberi persetujuan atas subordinasi mereka. Inilah yang dimaksud Gramci dengan “hegemoni” atau menguasai dengan “kepemimpinan moraldan intelektual” secara konsensual. Dalam konteks ini, Gramci secara berlawanan mendudukan hegemoni, sebagai satu bentuk supermasi satu kelompok atau beberapa kelompok atas yang lainnya, dengan bentuk supermasi lain yang ia namakan “dominasi” yaitu kekuasaan yang ditopang oleh kekuatan fisik (Sugiono, 1999:31).
Melalui konsep hegemoni, Gramsci beragumentasi bahwa kekuasaan agar dapat
abadi dan langgeng membutuhkan paling tidak dua perangkat kerja. Pertama, adalah
perangkat kerja yang mampu melakukan tindak kekerasan yang bersifat memaksa atau dengan kata lain kekuasaan membutuhkan perangkat kerja yang bernuansa law enforcemant. Perangkat kerja yang pertama ini biasanya dilakukan oleh pranata negara
(state) melalui lembaga-lembaga seperti hukum, militer, polisi dan bahkan penjara. Kedua, adalah perangkat kerja yang mampu membujuk masyarakat beserta pranata-pranata untuk taat pada mereka yang berkuasa melalui kehidupan beragama, pendidikan, kesenian dan bahkan juga keluarga (Heryanto, 1997).
Perangkat karja ini biasanya dilakukan oleh pranata masyarakat sipil (civil society) melailui lembaga-lembaga masyarakat seperti LSM, organisasi sosial dan keagamaan, paguyuban-paguyuban dan kelompok-kelompok kepentingan (interest groups). Kedua level ini pada satu sisi berkaitan dengan fungsi hegemoni dimana kelompok dominan menangani keseluruhan masyarakat dan disisi lain berkaitan dengan dominasi langsung atau perintah yang dilaksanakan diseluruh negara dan pemerintahan yuridis (Gramsci, 1971).
Pembedaan yang dibuat Gramsci antara “masyarakat sipil” dan “masyarakat politik”, sesungguhnya tidak jelas terlihat, pembedaan itu dibuat hanya untuk kepentingan analisis semata. Kedua suprastruktur itu, pada kenyataannya, sangat diperlukan, satu sama lainnya tidak bisa dipisahkan. Bahwa kedua level itu sangat diperlukan bisa dilihat dengan gamblang dalam konsepsi Gramsci tentang negara yang
lebih luas, dimana ia tunjuk sebagai “negara integral” meliputi tidak hanya masyarakat
sipil tetapi juga msyarakat politik yang didefinisikan negara = masyarakat politik + masyarakat sipil, dengan kata lainhegemoni dilindungi oleh baju besi koersi (Gramsci,
1971). Gramsci juga mengkarakterisasikan apa yang dimaksud dengan negara integral
sebagai sebuah kombinasi kompleks antara “kediktatoran dan hegemoni” atau seluruh
kompleks aktivitas praktis dan teoritis dimana kelas berkuasa tidak hanya menjustifikasi
dan menjaga dominannya, tetapi juga berupaya memenangkan persetujuan aktif dari
mereka yang dikuasai”. Jadi negara adalah aparatus koersif pemerintah sekaligus aparatus hegemonik institusi swadta.
Definisi ini memungkinkan Gramsci untuk menghidarkan diri dari pandangan instrumentalis tentang negara memandang negara sebagai sistem politik pemerintah belaka dalam teori politik liberal atau teori lainnya seperti institusi koersif kelas berkuasa dalam teori politik Marxis klasik. Kelebihan konsepsi Gramsci tentang negara integral adalah karena konsepsi itu memungkinkan dirinya memandang hegemoni dalam batasan dialektik yang meliputi masyarakat sipil atau masyarakat politik.
Lebih jauh dikatakan Gramsci bahwa bila kekuasaan hanya dicapai dengan mengandalkan kekuasaan memaksa, hasil nyata yang berhasildicapai dinamakan “dominasi”. Stabilitas dan keamanan memang tercapai, sementara gejolak perlawanan tidak terlihat karena rakyat memang tidak berdaya. Namun hal ini tidak dapat berlangsung secara terus menerus, sehingga para penguasa yang benar-benar sangat ingin
melestarikan kekuasaannya dengan menyadari keadaan ini akan melengkapi dominasi
(bahkan secara perlahan-lahan kalau perlu menggantikannya) dengan perangkat kerja
yang kedua, yang hasil akhirnya lebih dikenal dengan sebutan “hegemoni”. Dengan
demikian supermasi kelompok (penguasa) atau kelas sosial tampil dalam dua cara yaitu
dominasi atau penindasan dan kepemimpinan intelektual dan moral. Tipe kepemimpinan
yang terakhir inilah yang merupakan hegemoni
Dengan demikian kekuasaan hegemoni lebih merupakan kekuasaan melalui persetujuan (konsensus), yang mencakup beberapa jenis penerimaan intelektual atau emosional atas tatanan sosial politik yang ada. Hegemoni adalah sebuah rantai kemenangan yang didapat melalui mekanisme konsensus (consenso) dari pada melalui penindasan terhadap kelas sosial lain. Ada berbagai cara yang dipakai, misalnya melaluiyang ada di masyarakat yang menentukan secara langsung atau tidak langsung struktur-struktur kognitif dari masyarakat iu. Itulah sebabnya hegemoni pada hakekatnya adalah upaya untuk menggiring orang agar menilai dan memandang problematika sosial dalam kerangka yang ditentukan (Gramsci, 1976:244). Dalam konteks tersebut, Gramsci lebih menekankan pada aspek kultural (ideologis). Melalui produk-produknya, hegemoni menjadi satu-satunya penentu dari sesuatu yang dipandang benar baik secara moral maupun intelektual.
Hegemoni kultural tidak hanya terjadi dalam relasi antar negara tetapi dapat juga terjadi dalam hubungan antarberbagai kelas sosial yang ada dalam suatu negara. Ada tiga tingkatan yang dikemukakan oleh Gramsci, yaitu hegemoni total (integral), hegemini yang merosot (decadent) dan hegemino yang minimum (Femia, 1981). Dalam konteks ini dapat dirumuskan bahwa konsep hegemoni merujuk pada pengertian tentang situasi sosial politik. Dalam terminologinya “momen” filsafat dan praktek sosial masyarakat menyatu dalam keadaan seimbang, dominasi merupakan lembaga dan manifestasi perorangan. Pengaruh “roh” ini membentuk moralitas, adat, religi, prinsip-prinsip politik, dan semua relasi sosial, terutama dari intelektual dan halhal yang menunjuk pada moral.
Konsep hegemoni terkait dengan tiga bidang, yaitu ekonomi (economic), negara
(state), dan rakyat (civil society). Ruang ekonomi menjadi fundamental. Namun, dunia politik yang menjadi arena dari hegemoni, juga menampilkan momenperkembangan tertinggi dari sejarah sebuah kelas. Dalam hal ini, pencapaian kekuasaan negara, konsekwensi yang dibawanya bagi kemungkinan perluasan dan pengembanganpenuh dari hegemoni iitu telah muncul secara parsial, memiliki sebuah signifikasi n yangkhusus. Negara dengan segala aspeknya, yang diperluas mencakup wilayah hegemoni,memberikan kepada kelas yang mendirikannya baik prestise maupun tampilan kesatuasejarah kelas penguasa dalam bentuk konkret, yang dihasilkan dari hubungan organik antara negara atau masyarakat politik dan civil society.
Pendek kata, hegemoni satu kelompok atas kelompok-kelompok lainnya dalam
pengertian Gramscian bukanlah sesuatu yang dipaksakan. Hegemoni itu harus diraih
melalui upaya-upaya politis, kultural dan intelektual guna menciptakan pandangan dunia
bersama bagi seluruh masyarakat. Teori politik Gramsci penjelasan bagaimana ide-ide
atau ideologi menjadi sebuah instrumen dominasi yang memberikan pada kelompok penguasa legitimasi untuk berkuasa.

2.2 Bentuk-bentuk Hegemoni

2.3 Hegemoni Laki-laki terhjadap Perempuan

2.4 Sejarah Teori Strukturalisme Genetik.
Orang yang dianggap sebagai peletak dasar madzhab genetik adalah Hippolyte Taine (1766-1817) seorang kritikus dan sejarawan Francis. Ia mencoba menelaah sastra dari presfektif sosiologis dan mencoba mengebangkan wawasan sepenuhnya ilmiah dalam pendekatan sastra seperti halnya ilmu scientific dan exacta. Menurutnya bahwa satra tidak hanya karya yang bersifat imajinatif dan pribadi melainkan suatu perwujudan pikiran tertentu pada saat karya itu lahir. Ini merupakan konsep ginetik pertama tetapi metode yang digunakan berbeda, setiap tokoh mempunyai metodenya masing-masing. Tetapi kesamaan konsep setruktur hanya pada konteks hubungan phenomena konsep. Lucien Goldman (1975) seorang Marksis adalah orang yang kemudian mengembangkan fenomena hubungan tersebut dengan teorinya yang dikenal dengan strukturalisme genetik. Pada prinsifnya teori ini melengkapi sutrukturaisme murni yang yang hanya menganalisis karya sastra dari aspek intristiknya saja dan memakai peranan bahasa sastra sebagai bahasa yang khas. Strukturaisme genetik memasukan faktor genetik dalam karya sastra, genetik sastra artinya asal usul karya sastra. Adapun faktor yang terkait dalam asal muasal karya sastra adalah pengarang dan kenyataan sejarah yang turut mengkondisikan saat karya sastra iu diciptakan. Ditambah lagi ia memasuki struktur sosial dalam kajiaannya yang membuat teori ini dominan pada priode tertentu terutama di Barat dan Indonesia.
Pendekatan strukturalisme genetik ialah pendekatan yang mempercayai bahwa karya sastra itu merupakan sebuah struktur yang terdiri dari perangkan kategori yang saling berkaitan satu sama lainnya sehingga membentuk yang namanya struktularisme geneti kategori tersebut ialah fakta kemanusiaan yang berarti struktur yang bermakna dari segala aktifitas atau prilaku manusia baik yang verbal maupun maupun fisik yang berusaha di pahami oleh pengetahuaan. Semua aktivitas itu merupakan respon dari subjek kolektif (subjek trans individual) dalam dunia sastra transindividual subjek yang artinya terjadi kesamaan rasa dan pikiran antara pengarang (penulis) karya sastra dengan para pembaca dalam memahami karya sastra atau fakta manusia tadi, terus pandangan dunia terhadap subjek kolektif (Trans individual Subject) fakta kemanusiaan dan terakhir adalah struktur karya sastra menurut Goldman karya sastra merupakan produk strukturasi dari transindividual subject yang mempunyai struktur yang koheren dan terpadu terus karya sastra merupakan ekspresi pandangan dunia secara imajiner dan dalam mengekspresikan pandangan dunia tersebut pengarang menciptakan semesta tokoh-tokoh, objek-objek dan relasi relasi secara imajiner dalam pendapat tersebut golman mempunyai konsep struktur yang bersifat tematik. Yang menjadi pusat perhatiaannya ialah relasi antara tokoh dengan tokoh dan tokoh dengan obyek yang ada disekitarnya.
Teori strukturalisme genetik ialah sebuah teori yang menjelaskan struktur dan asal muasal struktur tersebut dengan memperhatikan relevansi konsep homologi, kelas sosial yang dimaksud Goldman adalah kelas yang mempertahankan relevansi struktur dan ia menggunakan metode dialektika yang menekankan dan merpertimbangkan koherensi struktural yang berbeda jauh dengan Marxisme yang menapikan struktur dan metodenya menggunakan positivistik yang mengingkari relevansi dan koherensi struktur, subjek transindividual ini berarti sebagai subjek dalam menciptakan karya sastra yakni penulis harus bisa menyampaikan perasaan dan pikiranya kepada pembaca dalam novel misalnya supaya pembaca bisa memahami dan mengerti apa yang disampaikan penulis dan terjadi sama rasa dan pikiran dalam memahami karya sastra atau novel tadi dan pandangan dunia pengarang terhadap subjek kolektif (transindividual subject) dan fakta manusia menurut Goldman ada 3 tahap dalam melakukan penelitiaan sastra menggunakan teori strukturalisme genetik, yakni;
1) Tesis merupakan informasi apa yang di perlukan berupa data.
2) Antitesis merupakan pemberian opini terhadap realitas, anti tesis ini melebur dengandengan tesis dan memeberikan suatu opini pada relitas/sintesis.
3) Dan terakhir sintesis berupa realitas dan kembali lagi menjadi tesis kembali.
Dan terus strukturasi tersebut berputar, berkaitan, saling mengisi dan berkoherensi sehingga teori ini terus berkembang juga dianggap teori yang berhasil memicu kegairahan analisis penelitiaan sastra pada khususnya dan pada umumnya penelitiaan meneliti aspek pengetahuaan lain yang lebih komplit dibandingkan dengan teori structural yang lainnya.
Prosedur (metode) teori strukturalisme genetik terhadap penelitian karya yang agung (master face ) menurut goldman sebagai berikut: 1) Penelitiaan karya sastra dilihat dari satu kesatuaan; 2) Karya sastra yang dianalisis hanyalah karya yang mempunyai nilai sastra yang mempunyai tegangan (tention) antara keragaman dan kesatuaan dalam sesuatu keseluruhan yang padat (a coherent whole); 3) Jika kesatuaan telah ditemukan, kemudiaan dianalisis hubungannya dengan latarbelakang social. Sifat hubungan tersebut, a) yang berhubungan dengan latarbelkang social adalah unsure kesatuaan, b) latar belakang yang dimaksud pandangan dunia suatu kelompok social, yng dilahirkan oleh pengarang sehingga hal tersebut dapat di kongkretkan.
Kelebihan teori strukturaisme genetik.kalau dibandingkan dengan strukturalisme murni dan dinamik, strukturalisme ginetik mempunyai keungulan yang dominan ketimbang kedua teori structural tersebut sejajar denggan strukturalisme dinamik, strukturalisme ginetik dikembangkan atas dasar penolakan terhadap analisis strukturalisme murni yang menganalisis karya sastra terhadap struktur intristik saja. Baik strukturalisme genetik maupun dinamik menolak peranan bahasa sastra sebagai bahasayang khas, bahasa sastra. Perbedaannya strukturalisme dinamik terbatas dalam melibatkan peranan penulis dan pembaca dalam rangka komunikasi sastra, strukturalisme genetik melangkah lebih jauh ke struktur social dan karya sastar dapat dipahami dari asalnya dan terjadinya (unsure genetik) dan latarbelakang social tertentu.
Kekurangannya mungkin konsep strukturalisme dalam perkembangannya seperti yang disebut Raymond Boudond (1976) adalah konsep yang kabur mungkin karena hubungan antara tesis, antitesis dan sintesis yang saling berkaitan, mengisi dan melebur menjadi konsep ini kabur atau tak jelas sulit untuk mendapatkan simpulan yang pasti. Terus yang terakhir dalam objek membedah karya sastranya sturkturalisme genetik harus karya sastra yang besar, yang kuat (master face) berarti ada pembatasan dalam menganalisis dan syarat untuk meneliti suatu genre sastra menurut standar teori ini yakni karya sastra yang agung.
Asumsi strukturalisme genetik terhadap karya sastra adalah karya sastra yang agung, karya sastra yang kuat (besar) merupakan syarat karya sastra untuk diteliti. Karya sastra yang kuat sebagaimana dikemukakan Goldman adalah karya sastra yang mempunyai kesatuaan (unity) dan keragaman (complexity) . Di dalamnya terdapat kategori-kategori yang saling bertaliaan dan membentuk strukturalisme genetik. Kateori-kategori yang dimaksud ialah fakta kemanusiaan, subjek kolektif (trans individual subject), stukturasi, pandangan dunia pemahaman, dan penjelasan. Karya satra merupakan sebuah struktur, tetapi struktur itu bukanlah sesuatu yang statis melainkan produk dari proses sejarah yang terus berlangsung, proses penikmatstrukturisasi dan destruktusi yang hidup dan dihayati oleh masyarakatas penikmat karya yang bersangkutan.

2.5 .
2.6 .
2.7 .
2.8 .
2.9 .

III. METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian
Chamamah-Soeratno (2001) dalam Sofia (2009: 24-25) mengatakan bahwa landasan kerja ilmiah yang bertujuan meningkatkan kedekatan hasil kerja penelitian terdiri atas tiga hal. Pertama, landasan teori, yaitu landasan yang berupa hasil perenungan terdahulu yang berhubungan dengan masalah dalam penelitian dan bertujuan mencari jawaban secara ilmiah. Kedua, landasan metodoligis, yaitu landasan yang berupa tata aturan kerja dalam penelitian da bertujuan membuktikan jawaban teoretis. Ketiga, landasan kecendekiaan, yaitu bekal kemampuan membaca, menganalisis, menginterpretasi, dan menyimpulkan.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian yang serbaguna dan transdisipliner untuk menunjukkan rerpresentasi perbedaan manusia dan upaya pengubahan sosial melalui hubungan spesial dengan pembaca hasil penelitian. Pengungkapan citra perempuan yang dilakukan dengan mengunakan metode kritik sastra feminis yang bersifat kualitatif sehingga jenis data yang diambil pun kualitatif. Data-data yang memaparkan status dan peran perempuan dalam keluarga, masyarakat, dan lingkngan pekerjaan mengandung studi deskriptif kualitatif secara detil dalam berbagai bentuk.
3.2 Objek penelitian
Objek penelitian ini adalah puisi-puisi karya 22 pertempuan Indonesia yang terkumpul dalam Antologi Puisi 22 Perempuan Indonesia: Hati Perempuan.
3.3 Sumber Data
Data penelitian ini diambil dari puisi-puisi karya perempuan Indonesia yang terkumpul dalam Antologi Puisi 22 Perempuan Indonesia: Hati Perempuan. Dalam antologi itu terdapat 263 puisi. Rata-rata perempuan penyair dalam buku itu menyumbangkan karya puisinya sebanyak 12 buah, kecuali Aida Ismet, yang hanya menyumbangkan 11 karya puisinya.
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Data-data yang memaparkan status dan peran perempuan dalam keluarga, masyarakat, dan lingkngan pekerjaan mengandung studi deskriptif kualitatif secara detil dalam berbagai bentuk.
3.5 Sistematika dan Cara Pengolahan Data
Dari sebanyak 263 puisi karya 22 perempuan penyair dilakukan sistematika dan cara pengolahan data.
Sistematika pengolahan data dilakukan dengan:
1) Klasifikasi data karya setiap penyair, meliputi judul dan jumlah setiap kara penyair, dan jumlah total;
2) Inventarisasi biodata setiap penyair, meliputi a) nama; b) tempat, tanggal lahir, c) usia; d) pendidikan terakhir; dan e) profesi; f) konsteks lingkungan-budaya pendukung.
Berdasarkan data di atas dilakukan cara pengolahan data sebagai berikut:
1) Secara keseluruhan dibaca puisi-puisi tersebut untuk memperoleh gambaran pemetaan hakikat dan metode berpuisi puisi secara menyeluruh.
2) Secara bertahap dilakukan pemahaman puisi per puisi setiap penyair untuk dianalisis dari segi teori dasar yang digunakan dengan referensi konsep I.A. Richard, meliputi hakikat puisi: tema (sense), sikap penyair terhadap pokok persoalan (feelling), sikap penyair terhadap pembaca (tone), dan amanat (intention) serta metode-metode berpuisi: pilihan kata-diksi (diction), daya bayang-iamjinasi (imagery), penggunaan kata-kata konkret (the concrete words), gaya bahasa (figurative language); (rythm), dan persajakan-rima (ryme).
3) Data-data yang diperoleh berdasarkan langkah tersebut diinventarisasi dalam tanbel klasifikasi secara berahap (contoh terlampir).
4) Berdasarkan tabel klasifikasi dilakukan kajian puisi per puisi, disertai dengan penulisan kutipan kata-kata kunci pendukung. Perlu dilakukan revisi sebelum dilakukan langkah berikutnya.
5) Berdasarkan data tersebut dilakukan penulisan laporan kajian sesuai dengan format yang ditentukan.
3.6 Jadwal Penelitian
No. Langkah Kegiatan Pelaksanaan Keterangan
1 Penentuan topik penelitian, kajian teori dan referensi Minggu pertama Mei 2012 Terlaksana

2 Penginventarisasian dan pengkalsifikasian data Minggu kedua Mei 20112 Terlaksana

3 Penganalisisan dan pembahasan data Meinggu ketiga Mei 2012 Terlaksana

4 Penulisan laporan hasil penelitian Minggu keempat Mei 2012 Dalam proses
5 Presentasi Hasil Peneltian Minggu pertama Juni 2012 –

Daftar Pustaka

Afzal, Anisa dkk. (Editor). 2011. Antologi Puisi 22 Perempuan Indonesia: Hati Perempuan. Jakarta: Penerbit Kosa Kata Kita.
Antonio Gramsci: Hegemoni dalam pdf-search-engine.com/…hegemoni…/10-relasi-formatif-hegemoni-gramsci.html , diakses 20 Mei 2010, pukul 23.25 WIB.
Djajanegara, Sunarjati. 2003. Kritik Sastra Feminis, Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Departemen Pendidikan Nasional. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Endraswara, Suwardi. 2011. Metode Peneltian Sastra. Yogyakarta: CAPS.
————————–. 2011. Metodologi Penelitian Sosiologi Sastra. Yogyakarta: CAPS.
Esten, Mursal. 1988. Menjelang teori dan Kritik Susastra yang Relevan. Bandung: Angkasa.
JURNAL STUDI GENDER & ANAK, Pusat Studi Gender STAIN Purwokerto YINYANG ISSN: 1907-2791, Vol.4 No.2 Jul-Des 2009 pp.308-319

Minderop, Albertine. 2010. Psikologi Sastra. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Pengertian Teori Hegemoni Antonio Gramsci dalam, http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/2180258-pengertian-teori-hegemoni-antonio-gramsci/, diakses 22 Mei 2012, pukul 12.28 WIB.
S., Yudiono K., 2009. Pengkajian Kritik Sastra Indonesia. Jakarta: Grasindo.
Sofia, Adib. 2009. Aplikasi Kritik Sastra Feminis ’Perempuan dalam Karya-karya Kunto Wijoyo`. Yogyakarta: Citra Pustaka Yogyakarta.
Sugihastuti dan Suharto. 2010. Kritik Sastra Feminis: Teori dan Aplikasinya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sugihastuti dan Rossi Abi Al Irsyad. Stanton (terjemahan). 2007. Teori Fiksi Robert Stanton. Yokarta: Pustaka Pelajar.
Teori Struktural Genetik dalam Penelitian Sastra dalam http://ukonpurkonudin.blogspot.com/2010/04/perbandingan-teori-strukturalisme-murni.html, diakses 20 Me4i 2011, pukul 23.36 WIB.

Januari 9, 2015 at 6:39 am Meninggalkan komentar

LANGKAH MEMBACA CEPAT DAN EFEKTIF


(lebih…)

Oktober 20, 2014 at 3:22 am Meninggalkan komentar

Novel Kemarau: Keberanian A.A. Navis Berjuang Mengubah Paradigma yang Membiasa dalam Masyarakat Minangkabau

1. Deskripsi fisik buku

Judul : Kemarau
Pengarang : A.A. Navis
Kata Pengantar : Sapardi Djoko Damono
Penerbit, Kota : Grasindo, Jakarta
Tahun terbit : 2003
Cetakan ke- : 6 (enam)
Jumlah halaman : i-x; 117 halaman
Ukuran : 14 X 21 cm

2. Sinopsis

Musim kemarau yang melanda kali ini lebih panjang dari biasanya hingga merusak lahan pertanian dan tanamannya. Upaya dilakukan untuk mengatasi hal itu, bahkan pergi ke dukun untuk mendatangkan hujan. Nmaun, hasilnya tak berwujud. Penduduk daerah itu mulai putus asa dan mengisi waktunya dengan kegiatan yang tak produktif, seperti main domino, kartu lainnya, bahkan hanya ngobrol bersama.
Tatkala orang-orang berpangku tangan berserah pada nasib, Sutan Duano mengangkut air danau yang ada di daerah itu untuk menyiram sawahnya. Secara rutin kegiatan itu dilakukannya pada pagi dan sore hari. Ia memang bukanlah penduduk asli daerah tersebut, melainkan seorang pendatang baru, yang tak diketahui oleh orang-orang di daerah itu asal muasalnya. Wali Nagari atau kepala desa telah mengizinkan Sutan Duano menempati sebuah surau tua yang lapuk.
Saat Belanda mencoba menduduki kembali Indonesia, surau tempat tinggal Sutan Duano kedatangan seorang Haji Tumbijo, teman baik yang dikenalnya saat tinggal di kota. Ketika Haji Tuimbijo hendak kembali ke kota, ia berkata kepada Wali Nagari, “Ia sudah berubah. Ia akan menjadi orang yang berguna di sini” (Navis, 2003:4).
Situasi politik yang berkembang saat itu membuat orang berubah pola pikirnya. Mereka mulai berganti sudut pandang tentang hidup dan kesulitan kehidupan. Pola hidup lama berubah ke dalam kegiatan mengikuti kursus baca tulis, kursus lain, bahkan kursus politik. Di sisi lain seorang Sutan Duano juga memulai hidup barunya dengan kegiatan mengolah lahan pertanian yang tak terawat, memelihara ternak, bahkan membeli beruk untuk memanjat kelapa. Akibatnya, ketika orang mulai bosan dengan kegiatan kursus dan politiknya sementara kesulitan ekonomi terus menghadang, Sutan Duano telah menjadi seorang yang cukup berada di kampung itu dan akhirnya disegani oleh orang-orang sekitarnya.
Keseganan masyarakat sekitar bukan karena kekayaan Sutan Duano, melainkan karena kebaikan hatinya. Secara bertahap Sutan Duano bisa memimpin para petani untuk mengerjakan sawahnya, menghapus sistem ijon dan tengkulak, serta mendirikan koperasi. Hal itu memperkokoh kepercayaan masyarakat kepada Sutan Duano hingga akhirnya dia diberi kepercayaan untuk menggantikan guru agama yang baru saja meninggal dunia. Maka, suraunya mulai ramai dikunjungi orang untjuk mengikuti pengajiannya.
Langkah keberhasilan Sutan Dunao tersebut sesungguhnnya bermula dari Sutan Caniago, seorang petani yang hendak menjual padinya dengan sistem ijon karena butuh modal untuk berdagang di rantau. Ia berharap bisa mengubah nasibnya. ”Jangan bermain judi dengan nasib, Sutan,” kata Sutan Duano kepada lelaki itu. Sutan Duano juga menasihati lelaki itu membatalkan niatnya merantau ke kota. Di kota banyak godaan dan kemaksiatan. Kalau rajin, hidup di desa pun bisa membuat orang kaya dan berhasil. Namun, nasihat itu ditanggapi oleh Sutan Caniago sebagai penolakan permintaannya hingga membuatnya marah dan meningggalkan Sutan Duano.
Esok harinya Sutan Duano mendatangi Sutan Caniago, lantaran ia ingat nasihat Haji Tumbijo serta niatnya utnuk mengubah perilaku dan kebiasaan penduduk agar hidup mereka menjadi lebih baik. Diberikannnya uang kepada Sutan Caniago sebagaimana diinginkan, namun ia memberi syarat harus menyuratinya setiap bulan. Sutan Caniago mengikuti syarat itu hingga akhirnya ia mengucapkan terima kasih atas nasihat Sutan Duano di surau dulu. Pada surat keempat ditulisnya bahwa Sutan Duano hanya mengambil hasil panen sebanyak uang yang diterimanya dulu, tidak mengambil seluruh hasil panen sebagaimana pengijon lazimnya. Sikap Sutan Duano ini menggemparkan isi kampung dan membuat keberadaannya semakin berarti bagi masyarakat.
Sutan Duano juga mengajak penduduk bergotong royong menyiram sawah mereka dengan air danau yang terletak di pinggir kampung. Sutan Dunao mengajukan usul kepada Lembak Tuah, pemilik sawah terluas, serta Rajo Bodi, orang yang disegani. Namun, usulan itu ditolak dengan berbagai alasan. Mereka lebih senang pasrah kepada takdir yang diberikan Tuhan. Meskipun memiliki waktu dan tenaga untuk mengubah nasibnya, penduduk kampung lebih senang bermain kartu serta duduk-duduk ngobrol di lepau. Sutan Duano menyadari bahwa untuk mengubah kebiasaan dan pola pikir masyarakat diperlukan waktu dan proses yang panjang. Lantas Sutan Duano berniat memulai rencananya itu dari diri sendiri mengangkut air danau dan menyiran sawah miliknya.
Acin, seorang anak janda muda mendatangi Sutan Duano yang sedang beristirahat habis menyiram tanaman. Ditanyakan oleh Acin mengapa Sutan Duano melakukan hal itu. Sutan Duano mengatakan bahwa manusia harus bekerja keras untuk memperbaiki hidupnya. Anggapan masyarakat terhadap apa yuang dilakukan oleh Sutan Duano merupakan kesalahan berpikir. Maka, diajaklah Acin untuk melakukan hal yang sama.
Omongan dan tafsiran orang tentang apa yang dilakukan oleh Sutan Duano dan Acin beraneka ragam. Di lepau berkembang isu bahwa Sutan Duano ada maksud tertentu mendekati Acin kepada janda muda, ibunya, Gudam.. Gunjingan itu menghapus jejak langkah Sutan Duano yang baik selama ini. Di pinggir sungai tempat para wanita mandi berkembang gosip bahwa Sutan Duano memang mendekati Gudam, si janda muda itu, sebab ia belum memiliki istri.
Dalam suatu pengajian Sutan Duanio mengajak para ibu bergotong royong menyiram sawah mereka. Mayoritas mereka menolak dengan berbagai alasan dalam kaitannya dengan gudam, si janda muda. Si janda muda itu juga tidak datang dalam pengajian karena malu dengan gosip dirinya dan Sutan Duano. Sutan Duano marah mendengar hal itu. Namun, gosip itu berkembang menjadi fitnah. Gudam melarang Acin menyiran sawah serta menemui Sutan Duano. Ketidakdatangan Acin membuat kegiatan menyiram sawah Sutan Duano menjadi kacau. Sutan Duano sudah menganggap Acin sebagai pengganti anaknya yang hilang dua puluh tahun lalu. Sutan Duano merasa kesepian, apalagi ketika pengajian tidak satu ibu pun yang datang ke surau.
Acin pernah menanyakan isu itu kepada ibunya, tapi dijawab bahwa hal itu hanyalah sebagai kata-kata jahat. Namun, isu berkembang terus hingga si Acin pernah ditemui oleh Saniah, janda yang menginginkan Sutan Duano. Acin menjawab benar isu tersebut. Hati kecilnya menginginkan hal itu. Saniah menjadi cemburu hingga berpikir untuk membuat fitnah. Diberitakannnya kepada Acin bahwa Gudam telah pernah tidur dengan Sutan Duano yang masuk lewat jendela. Acin berubah pikiran hingga benci kepada Sutan Duano.
Di surau, Kutar menemukan dan membaca surat yang dikirim Masri berisi Sutan Duano agar ke Surabaya. Masri merupakan anak Sutan Duano yang hilang dua puluh tahun yang lalu. Kutar menceritakan hal itu kepada Acin hingga membuatnya cemas. Acin memberanikan diri bertanya kepada Sutan Duano perihal itu dan dijawabnya akan pergi setelah musim panen. Hal itu membuat Acin ingin agar ia diajak pergi, bukan Kutar. Ditanyakan pula isu yang diucapkan Saniah tentang Sutan Duano dan ibunya. Sutan Duano berhasil meyakinkan Acin bahwa hal itu tidak benar.
Berita rencana kepergian Sutan Duano cepat menyebar. Kutar memberitahukannya kepada semua orang. Oleh sebab itu, masyarakat menginginkan acara perpisahan sebagai tanda persahabatan dengan orang yang banyak menolong namun belum sempat ada balas budinya.
Di surau, Sutan Duano membaca kembali surat kiriman Masri itu. Hal itu membuatnya teringat masa lalu. Memang ia ingat setelah kematian ibunya Masri, istrinya, berkali-kali ia mencari penggantinya, namun berakhir dengan perceraian. Salah satunya, Iyah namanya, diceraikan tatkala sedang hamil. Pengalaman kawin cerai itu membuatnya mengambil pelampiasan kesepiannya berkencan dengan wanita malam. Masri yang tumbuh remaja mengetahui hal itu sehingga ia marah. Hal itu membuat Sutan Duano bingung. Ia mengadukan kesepian dengan perbuatannya.
Sutan Duano sempat dipenjara karena keributannya dengan teman kencan. Hal ini membuat Masri kabur tak tentu jejak langkahnya. Keluar dari penjara selama tiga tahun, Sutan Duano menjadi kesepian. Anak satu-satunya pergi tanpa jejak hingga membuat Sutan Duano semakin tak karuan arah hidupnya. Mabuk-mabukan merupakan pelariannya. Ia terus berusaha mencari Masri, namun tak menemukan jejak kakinya.
Suatu hari datanglah Haji Tumbijo, kakak iparnya, menasihatinya:
”Carilah ia dalam hatimu, seperti kau mencari Tuhan, mencari kebenaran. Carilah dengan pahala-pahala dan kebaikan. Kalau telah dapat itu, telah dapat pahala dan kebaikan, engkau sudah menemui Tuhan. Sudah menemui kebenaran. Dan di situlah Masri berada,” katanya (Navis, 1977:69).
Kata-kata Haji Tumbijo itu menyentuh hati Sutan Duano. Maka, ia berusaha mengubah jalan hidupnya ke arah kebenaran serta berusaha menolong orang lain. Ia berharap bahwa pola itu dapat memupus kesalahan dan dosa masa lalunya. Maka, kehadiran Acin dalam waktu hidupnya mengingatkannya pada Masri hingga disayanginya. Terlintas dalam benaknya untuk menikah, tetapi kegagalan perkawinan kembali menghatuinya.
Hal itu nampak tatkala Acin dan Gudam datang ke surau. Gudam meminta Sutan Duano menjadi ayah bagi anak-anaknya. Sutan mengatakan bahwa ia harus meninggalkan kampung tersbeut sebab harus menemui Masri yang telah lama tak bertemu. Sutan tak memberi batas waktu kapan akan kembali hingga jawaban itu dianggap sebagai penolakan oleh Gudam.
Beberapa orang menemui Sutan Duano di surau dan menanyakan langsung kepadanya perihal kabar rencana kepergiannya ke Surabaya. Banyak di antaranya yang merasa berutang budi pada Sutan Duano sebab upaya pengairan sawah oleh Sutan Duano banyak memberikan manfaat bagi kaum petani kampung itu. Mereka juga masih memerlukan gagasan Sutan Duano untuk kehidupan mereka dan meminta agar Sutan Duano tidak meninggalkan kampung mereka.
Sutan Duano memenuhi permintaan mereka. Kepergian Sutan Duano hanyalah menemui Masri, setelah itu kembali lagi ke kampung mereka. Ada surat dari mertua Masri yang sampai kepadanya bahwa Sutan Duano tak perlu ke Surabaya sebab kedatangannya justru akan merusak kebahagiaan keluarga Masri.
Tatkala musim panen semakin mendekat, tiba-tiba datanglah pianggang (hama walang sangit) menyerang. Hal ini membuat Sutan Duano merasa mendapat cobaan baru. Maka disemprotlah sawahnya dengan antiserangga. Tetapi tiba-tiba kabar tak mengenakkan datang lagi, Acin sakit. Luka karena menyepak tahi kuda tatkala kesal dengan isu tingkah Sutan Duano tidur bersama ibunya membuatnya terkena tetanus. Kesulitan keuangan Gudam, ibu Acin, yang tak dibantu keluarganya untuk mengobatkan Acin ke Bukittingi akhirnya diatasi oleh Sutan Duano dengan janji bahwa Acin adalah anaknya juga. Sutan Duano dan Gudam akhirnya tumbuh cinta. Hal ini membuat Saniah cemburu dan memasang guna-guna di rumah Gudam yang sempat terlihat oleh Sutan Duano.
Tatkala Gudam mengadakan syukuran atas kesembuhan Acin di rumahnya, Sutan Duano tak bersedia datang dengan alasan tak menyenangi pesta yang hanya untuk orang kaya. Gudam mendatangi Sutan Duano ke suraunya, tapi tetap tidak mau datang. Gudam merasa malu. Pulanglah dengan segera Gudam ke rumahnya. Di jalan gudam bertemu dengan Saniah yang menantangnya diiringi fitnah bahwa Gudam telah membayar utang kepada Sutan Duano dengan menjual dirinya. Maka, terjadilah perkelahian yang melibatkan keluarga kedua pihak hingga harus diakhiri oleh Wali Nagari. Rapat yang dipimpin oleh Wali Nagari itu sulit mncapai kata sepakat. Meski Wali Nagari berusaha membela Sutan Duano, rapat akhirnya memutuskan mengusir Sutan Duano dari kampung itu. Wali Nagari ditugasi oleh warga untuk menyampaikan putusan rapat.
Akhirnya Wali Nagari dibantu oleh tokoh masyarakat mendatangi Sutan Dunao. Putusan rapat disampaikannya dengan berat hati. Sutan dengan keikhlasan menerima, dan mengatakan bahwa semua harta yang diperoleh dari kampung itu ditinggalkan dan piutangnya diserahkan kepada koperasi untuk menambah modal. Sutan Duano hanya memohon untuk bertemu dengan Acin sebelum ia berangkat, tetapi Gudam tidak mengizinkannya. Sutan Duano menyerahkan suat wasiatnya seluruh hartanya kepada Acin.
Pergilah Sutan Duano meningalkan kampung itu menuju Surabaya. Ia langsung menuju ke rumah Masri. Ia malah bertemu dengan Iyah, istrinya dulu, yang ternyata adalah ibu Arni, istri Masri. Lebih tak disangkanya, ternyata Arni adalah anak kandungnya juga. Maka, terbongkarlah silsilah bahwa Masri dan Arni adalah kakak beradik, meski lain ibu. Hal itu sengaja tak diberitahukan oleh Iyah. Iyah tidak ingin merusak kebahagiaan mereka berdua. Tetapi, Sutan Duano bersikeras memberitahukan hal terlarang itu kepada anaknya.
Kedua orang tua itu bersitegang dengan pendapat masing-masing. Iyah yang merasa sakit hatinya lantas memukul Sutan Duano dengan kayu hingga pingsan dan berdarah. Datanglah Masri dan Asri yang kaget dengan peristiwa itu. Diceritakanlah oleh Iyah apa yang terjadi hingga ia tak kuat menahan diri, lalu pingsan. Bertahun-tahun kemudian Iah meninggal di rumah sakit, tak lama setelah mebuka rahasia perkawinan Masri dan Arni.
Masri dan Arni menyadari perkawian mereka dilarang agama. Maka, mereka berpisah. Tak lama kemudian Arni kemudian menikah dengan anak Haji Tumbijo, sedangkan Masri menikahi teman sekerjanya. Sutan Dunao pun kembali ke desa tepi danau, hidup rukun dengan Gudam beserta anak-anaknya, Acin dan Amah. Perjuangan Sutan Duano belum selesai sebab alam pikiran warga kampung telah membeku. Hidup berjuang dengan keikhlasan adalah jalan untuk menemui Tuhan Yang Maha Esa. Demikian A.A. Navis mengakhiri novelnya.

3. Latar Belakang Masalah
Haji Ali Akbar Navis, lebih dikenal dengan nama AA Navis, yang di kalangan sastrawan digelari sebagai kepala pencemooh. Ia salah seorang sastrawan dan budayawan terkemuka di Indonesia. Gelar yang lebih menggambarkan kekuatan satiris tidak mau dikalahkan sistem dari luar dirinya. Sosoknya menjadi simbol energi sastrawan yang menjadikan menulis sebagai alat dalam kehidupannya.
Indonesia kehilangan sastrawan fenomenal. Sang Pencemooh kelahiran Kampung Jawa, Padangpanjang, 17 November 1924, ini adalah salah seorang tokoh yang ceplas-ceplos, apa adanya. Kritik-kritik sosialnya mengalir apa adanya untuk membangunkan kesadaran setiap pribadi agar hidup lebih bermakna. Ia selalu mengatakan yang hitam itu hitam dan yang putih itu putih. Ia amat gelisah melihat negeri ini digerogoti para kopruptor. Maka pada suatu kesempatan ia mengatakan kendati menulis adalah alat utamanya dalam kehidupan tapi jika dikasih memilih ia akan pilih jadi penguasa untuk menangkapi para koruptor. Walaupun ia tahu risikonya, mungkin dalam tiga bulan, ia justeru akan duluan ditembak mati oleh para koruptor itu.
Nama pria Minang yang untuk terkenal tidak harus merantau secara fisik, ini menjulang dalam sastra Indonesia sejak cerpennya yang fenomenal Robohnya Surau Kami terpilih menjadi satu dari tiga cerpen terbaik majalah sastra Kisah tahun 1955. Sebuah cerpen yang dinilai sangat berani. Kisah yang menjungkirbalikkan logika awam tentang bagaimana seorang alim justru dimasukkan ke dalam neraka. Karena dengan kealimannya, orang itu melalaikan pekerjaan dunia sehingga tetap menjadi miskin.
Ia seorang seniman yang perspektif pemikirannya jauh ke depan. Karyanya Robohnya Surau Kami, juga mencerminkan perspektif pemikiran ini. Yang roboh itu bukan dalam pengertian fisik, tapi tata nilai. Hal yang terjadi saat ini di negeri ini. Ia memang sosok budayawan besar, kreatif, produktif, konsisten dan jujur pada dirinya sendiri.
Sepanjang hidupnya, ia telah melahirkan sejumlah karya monumental dalam lingkup kebudayaan dan kesenian. Ia bahkan telah menjadi guru bagi bamyak sastrawan. Ia seorang sastrawan intelektual yang telah banyak menyampaikan pemikiran-pemikiran di pentas nasional dan internasional. Ia banyak menulis berbagai hal. Walaupun karya sastralah yang paling banyak digelutinya. Karyanya sudah ratusan, mulai dari cerpen, novel, puisi, cerita anak-anak, sandiwara radio, esai mengenai masalah sosial budaya, hingga penulisan otobiografi dan biografi.
Ia yang mengaku mulai menulis sejak tahun 1950, namun hasil karyanya baru mendapat perhatian dari pimpinan media cetak sekitar 1955, itu telah menghasilkan sebanyak 65 karya sastra dalam berbagai bentuk. Ia telah menulis 22 buku, ditambah lima antologi bersama sastrawan lainnya dan delapan antologi luar negeri serta 106 makalah yang ditulisnya untuk berbagai kegiatan akademis di dalam maupun di luar negeri dan dihimpun dalam buku ‘Yang Berjalan Sepanjang Jalan’. Novel terbarunya, Saraswati, diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2002.
Beberapa karyanya yang amat terkenal, selain Robohnya Surau Kami (1955) Bianglala (1963), Hujan Panas (1964); Kemarau (1967), Saraswati, si Gadis dalam Sunyi, (1970), Dermaga dengan Empat Sekoci, (1975), Di Lintasan Mendung (1983), Dialektika Minangkabau (editor 1983), Alam Terkembang Jadi Guru (1984), Hujan Panas dan Kabut Musim (1990), Cerita Rakyat Sumbar (1994), dan Jodoh (1998).
Ia seorang penulis yang tak pernah merasa tua. Pada usia gaek ia masih saja menulis. Buku terakhirnya, berjudul Jodoh, diterbitkan oleh Grasindo, Jakarta atas kerjasama Yayasan Adikarya Ikapi dan The Ford Foundation, sebagai kado ulang tahun pada saat usianya genap 75 tahun. Cerpenis gaek dari Padang, A.A. Navis pada 17 November lalu genap berusia 75 tahun. Jodoh berisi sepuluh buah cerpen yang ditulisnya sendiri, yakni Jodoh (cerpen pemenang pertama sayembara Kincir Emas Radio Nederland Wereldemroep 1975), Cerita 3 Malam, Kisah Seorang Hero, Cina Buta, Perebutan, Kawin (cerpen pemenang majalah Femina 1979), Kisah Seorang Pengantin, Maria, Nora dan Ibu. Ada yang ditulis tahun 1990-an ada yang ditulis tahun 1950-an.
Menulis bukanlah pekerjaan mudah, namun memerlukan energi pemikiran serius dan santai. ”Tidak semua gagasan dan ide dapat diimplementasikan dalam sebuah tulisan, dan bahkan terkadang memerlukan waktu 20 tahun untuk melahirkan sebuah tulisan. Kendati demikian, ada juga tulisan yang dapat diselesaikan dalam waktu sehari saja. Namun, semua itu harus dilaksanakan dengan tekun tanpa harus putus asa. Saya merasa tidak pernah tua dalam menulis segala sesuatu termasuk cerpen,” katanya dalam suatu diskusi di Jakarta, dua tahun lalu.
Kiat menulis itu, menurutnya, adalah aktivitas menulis itu terus dilakukan, karena menulis itu sendiri harus dijadikan kebiasaan dan kebutuhan dalam kehidupan. Ia sendiri memang terus menulis, sepanjang hidup, sampai tua. Mengapa? ”Soalnya, senjata saya hanya menulis,” katanya. Baginya menulis adalah salah satu alat dalam kehidupannya. ”Menulis itu alat, bukan pula alat pokok untuk mencetuskan ideologi saya. Jadi waktu ada mood menulis novel, menulis novel. Ada mood menulis cerpen, ya menulis cerpen,” katanya seperti dikutip Kompas. Minggu, 7 Desember 1997.
Dalam setiap tulisan, menurutnya, permasalahan yang dijadikan topik pembahasan harus diketengahkan dengan bahasa menarik dan pemilihan kata selektif, sehingga pembaca tertarik untuk membacanya. Selain itu, persoalan yang tidak kalah pentingnya bagi seorang penulis adalah bahwa penulis dan pembaca memiliki pengetahuan yang tidak berbeda. Jadi pembaca atau calon pembaca yang menjadi sasaran penulis, bukan kelompok orang yang bodoh.
Ia juga menyinggung tentang karya sastra yang baik. Yang terpenting bagi seorang sastrawan, menurutnya, karyanya awet atau tidak? Ada karya yang bagus, tapi seperti kereta api; lewat saja. Itu banyak dan di mana-mana terjadi. Ia sendiri mengaku menulis dengan satu visi. Ia bukan mencari ketenaran.
Dalam konteks ini, ia amat merisaukan pendidikan nasional saat ini. Dari SD sampai perguruan tinggi orang hanya boleh menerima, tidak diajarkan orang mengemukakan pikiran. Anak-anak tidak diajarkan pandai menulis oleh karena menulis itu membuka pikiran. Anak-anak tidak diajarkan membaca karena membaca itu memberikan anak-anak perbandingan-perbandingan. Di perguruan tinggi orang tidak pandai membaca, orang tidak pandai menulis, jadi terjadi pembodohan terhadap generasi-generasi akibat dari kekuasaan.
Jadi, menurutnya, model pendidikan sastra atau mengarang di Indonesia sekarang merupakan strategi atau pembodohan, agar orang tidak kritis. Maka, ia berharap, strategi pembodohan ini harus dilawan, harus diperbaiki. “Tapi saya pikir itu kebodohan. Orang Indonesia tidak punya strategi. Strategi ekonomi Indonesia itu apa? Strategi politik orang Indonesia itu apa? Strategi pendidikan orang Indonesia itu apa? Strategi kebudayaan orang Indonesia itu apa? Mau dijadikan apa bangsa kita? Kita tidak punya strategi. Oleh karena itu kita ajak mereka supaya tidak bodoh lagi,” katanya.
Maka, andai ia berkesempatan jadi menteri, ia akan memfungsikan sastra. ”Sekarang sastra itu fungsinya apa?” tanyanya lirih. Pelajaran sastra adalah pelajaran orang berpikir kritis. Orang berpikir kritis dan orang memahami konsep-konsep hidup. Kita baca, karya mana saja yang baik, itu berarti menyuruh orang berpikir berbuat betul. Lalu karya-karya itu konsepnya yang jahat lawan yang buruk. Dalam karya sastra bisa terjadi yang jahat itu yang dimenangkan, tapi bukan artinya sastra memuja yang jahat. Banyak karya-karya sastra di Indonesia menceritakan hal-hal orang-orang munafik. Diajarkan itu ke anak-anak tentang orang munafik di tengah masyarakat kita yang banyak munafik. Anak-anak kan jadi tajam. Oleh karena itu pemerintah tampaknya tidak mengajarkan sastra supaya orang tidak melihat orang-orang yang munafik, umpamanya.
Ia juga melihat perkembangan sastra di Indonesia lagi macet. Dulu si pengarang itu, ketika duduk di SMP dan SMA sudah menjadi pengarang. ”Saya kira tak ada karya pengarang sekarang yang monumental, yang aneh memang banyak,” ujarnya.
Perihal orang Minang, dirinya sendiri, ia mengatakan keterlaluan kalau ada yang mengatakan orang Minang itu pelit. Yang benar, penuh perhitungan. Ia mengatakan sangat tak tepat mengatakan orang Minang itu licik. Yang benar galia (galir), ibarat pepatah tahimpik nak di ateh, takuruang nak di lua (terhimpit maunya di atas, terkurung maunya di luar). Itulah AA Navis Sang Kepala Pencemooh.
Istilah sastra dapat ditemukan dalam berbagai konteks pernyataan yang berbeda satu sama lain. Maksudnya, sastra bukanlah sekadar istilah guna mengemukakan feomena yang sederhana atau gamblang, melainkan sastra memiliki arti luas dalam rangkaian yang berbeda.
Secara signifikan, untuk memahami karya sastra secara lebih mendalam diperlukan tiga dorongan yang mendasari kehidupan manusia yang menjadi pusat perhatian kegiatan penulisan sastra sejak awal zaman hingga sekarang, yaitu dorongan religius, sosial, dan personal. Religiusitas sastra nampak dalam kehidupan kebaktian beragama berdasarkan isnpirasi ajaran agama yang mencerminkan persepsi manusia sebagai `ciptaan`, keterlibatannya, serta sikap dan pandangan terhadap ciptaan itu. Dorongan sosial berhubungan erat dengn tingkah laku dan hubungan antarindividu dalam komunitasnya. Di dalamnya, dorongan sosial tersebut menghasilkan karya-karya sastra yang bernuansa nilai-nilai hakikat hidup dan khidupan serta problema manusia di dalamnya. Dorongan personal mengarah pada penjelajahan pribadi hingga muncullah biografi atau otobiografi, bahkan penulis berusaha menjelajahi sisi pribadi dan kadang ingin mengubah alam kesadaran manusia. Karya sastra seringkali mengngkapkan keprihatinan penulis terhadap hakikat nilai-nilai dalam kaitannya dengan eksistensi manusia.
Novel Kemarau merupakan karya sastra yang secara historis muncul dalam bentuk cerita bersambung yang dimuat dalam Harian Res Publica, Padang, tahun 1964. Oleh Penerbit Nusantara, Bukittinggi, karya tersebut diterbitkan dalam bentuk novel, yang kemudian diolah lagi oleh Penerbit Dunia Pustaka Jaya, Jakarta, tahun 1997, dan mulai tahun 1992 diolah oleh Penerbit Grasindo, Jakarta.
Novel Kemarau banyak dibicarakan oleh para kritikus dari berbagai sudut pandang. Masalah yang diungkapkan dalam novel ini selalu menarik dan layak bahas hingga kini. Gaya penyampaian pengarang memberikan kesan tersendiri, ada yang menganggapnya satiris berdasarkan pengalaman dan pengamatannya terhadap kehidupan manusia dan lingkungannya. Tokoh cerita digunakan oleh pengarang untuk mengungkapkan sikap dan perjuangan yang perlu dilakukan untuk mengubah paradigma yang mengikat dan telah membiasa dalam pikiran, perkataan, dan perilaku perbuatan.

4. Tinjauan pustaka

Sastra merupakan pencerminan masyarakat. Melalui karya sastra, seorang pengarang mengungkapkan problema kehidupan yang pengarang sendiri ikut berada di dalamnya. Karya sastra menerima pengaruh dari masyarakat dan sekaligus mampu memberi pengaruh terhadap masyarakat. Bahkan seringkali masyarakat sangat menentukan nilai karya sastra yang hidup di suatu zaman, sementara sastrawan sendiri adalah anggota masyarakat yang terikat status sosial tertentu dan tidak dapat mengelak dari adanya pengaruh yang diterimanya dari lingkungan yang membesarkan sekaligus membentuknya. Rene Wellek dan Austin Warren membahas hubungan sastra dan masyarakat sebagai berikut:

Literature is a social institution, using as its medium language, a social creation. They are conventions and norm which could have arisen only in society. But, furthermore, literature ‘represent’ ‘life’; and ‘life’ is, in large measure, a social reality, eventhough the natural world and the inner or subjective world of the individual have also been objects of literary ‘imitation’. The poet himself is a member of society, possesed of a specific social status; he recieves some degree of social recognition and reward; he addresses an audience, however hypothetical. (1956:94)

Senada dengan pernyataan di atas, Damono dikutip Wahyudi Siswanto (2008) dalam Pengantar Teori Sastra mengungkapkan bahwa sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial. Dalam pengertian ini, kehidupan mencakup hubungan antarmasyarakat, antarmasyarakat dengan orang-seorang, antarmanusia, dan antarperistiwa yang terjadi dalam batin seseorang Bagaimanapun, peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam batin seseorang yang sering menjadi bahan sastra adalah pantulan hubungan seseorang dengan orang lain atau dengan masyarakat dan menumbuhkan sikap sosial tertentu atau bahkan untuk mencetuskan peristiwa sosial tertentu.
Pendekatan terhadap sastra yang mempertimbangkan segi-segi kemasyarakatan itu disebut sosiologi sastra dengan menggunakan analisis teks untuk mengetahiu strukturnya, untuk kemudian dipergunakan memahami lebih dalam lagi gejala sosial yang di luar sastra.
Sastra juga berurusan dengan manusia dalam masyarakat sebagai usaha manusia untuk menyesuakan diri dan usahanya untuk mengubah masyarakat itu. Dengan demikian, novel dapat dianggap sebagai usaha untuk menciptakan kembali dunia sosial yaitu hubungan manusia dengan keluarga, lingkungan, politik, negara, ekonomi, dan sebagainya. Dapat disimpulkan bahwa sosiologi dapat memberi penjelasan yang bermanfaat tentang sastra, dan bahkan dapat dikatakan bahwa tanpa sosiologi, pemahaman kita tentang sastra belum lengkap. Tujuan studi sosiologis dalam kesusastraan adalah untuk mendapatkan gambaran utuh mengenai hubungan antara pengarang, karya sastra, dan masyarakat.
Pendekatan sosiologi sastra yang paling banyak dilakukan saat ini menaruh perhatian yang besar terhadap aspek dokumenter sastra dan landasannya adalah gagasan bahwa sastra merupakan cermin zamannya. Pandangan tersebut beranggapan bahwa sastra merupakan cermin langsung dari berbagai segi struktur sosial hubungan kekeluargaan, pertentangan kelas, dan lain-lain. Dalam hal itu tugas sosiologi sastra adalah mengubungkan pengalaman tokoh-tokoh khayal dan situasi ciptaan pengarang itu dengan keadaan sejarah yang merupakan asal usulnya. Tema dan gaya yang ada dalam karya sastra yang bersifat pribadi itu harus diubah menjadi hal-hal yang bersifat sosial.
Di sisi lain, sastra sebagai suatu alat dapat memberikan perjuangan pada kepentingan tertentu, misalnya untuk mendidik dan mengubah masyarakat pembacanya. Di samping juga mencerminkan kenyataan, sastra mampu `mengubah kenyataan` -meski tidak langsung- sehingga dapat membuka mata masyarakat terhadap ketidakberesan apa pun, kebobrokan moral, bahkan kebejatan mentalitas yang terjadi dalam masyarakat.

5. Penerapan

Novel Kemarau dikemas dalam 20 bab oleh pengarangnya, diakhiri dengan bagian penutup. Sayangnya tidak ada bagian pendahuluan secara eksplisit, meskipun hal yang dimaksud sama dengan Bab 1 dalam novel itu.
Kondisi masyarakat yang masih tradisonal dan memegang keyakinan di luar ajaran agama terlihat dalam Bab 1 tatkala pengarang membuat deskripsi latar cerita awal.

”Dan setelah tanah sawah mulai merekah, mulailah mereka berpikir. Ada beberapa orang pergi ke dukun, dukun yang terkenal bisa menangkis dan menurunkan hujan, Tapi dukun itu tak juga bisa berbuat apa-apa setelah setumpuk sabut kelapa dipanggangnya bersama sekepal kemenyan. Hanya asap tebal yang mengepul di sekitar rumah dukun itu terbang ke sawang bersama manteranya. … Mereka pergilah setiap malam ke mesjid mengadakan ratib, mengadakan sembahyang kaul meminta hujan. Tapi hujan tak kunjung turun juga.”

(Navis, 2003: 1).

Sutan Duano dikisahkan sebagai tokoh yang mempunyai niat dan semangat untuk mengubah kerangka berpikir warga kampung sekitar tempat tinggalnya. Ia berjuang di tengah masyarakatnya untuk megubah watak masyarakat yang terbiasa menyerah pada takdir daripada bekerja keras `melawan nasib` guna memperbaiki kehidupannya.

”Hanya seorang petani saja berbuat lain. Ia seorang laki-laki sekitar 50 tahun. Badannya kekar dan tampang orangnya bersegi empat bagai kotak dengan kulitnya yang hitam oleh bakaran matahari. Pada ketika bendar-bendar tak mengalir lagi, sawah-sawah mulai kering matahari masih bersinar maraknya tanpa gangguan awan sebondong pun, diambilnya sekerat bambu. Lalu disandangnya di kedua ujung bambu itu. Dan dua belek minyak tanah dan digantungkannya di kedua ujung bambu itu. Diambilnya air ke danau dan ditumpahkannya ke sawahnya. Ia mulai dari subuh dan berhenti pada jam sembilan pagi. Lalu dimulainya lagi sesudah asar, dan berhenti waktu magrib hapmpir tiba. Dan beberapa kali mengangkut tak dilupakannya mengisi kedua kolam ikannya. Untungnya sawahnya yang luas itu tidak begitu jauh dari tepi danau. Laki-laki itu bernama Sutan Duano.”
(Navis, 2003:1-2).

Pengarang menggunakan Sutan Duano sebagai profil ideal gambaran pribadi yang mempunyai niat dan semangat mengubah hidupnya di tengah lingkungan dan zaman yang tak bersahabat. Kerajinannya bekerja secara rutin dan teratur dengan memiliki agenda kegiatan dan jadwal yang tersusun dalam pikiran dan pola kebiasaan hidupnya terungkap dalam diri tokoh Sutan Duano meski hal itu sering tidak sejalan dengan keadaan lingkungan sosialnya. Misalnya ketika dia mempunyai idealisme mendidik hidup sehat.

”Kolam ikan yang kecil diperbaikinya. Disemainya anak ikan di dalamnya, lalu dibuatnya pula sebuah kakus umum di teopib kolan itu agar orang berak di sana dan ikannya mendapat makan. Dan sebidang tanah yang berbatu-batu di kaki bukit, di mana sebelumnya tak seorang pun berselera mengolahnya meski musim lapar itu, dimintanya untu dikerjakan.”

(Navis, 2003: 3)

Sikap dan perjuangan Sutan Duano sebenarnya merupakan cara pengarang mendidik masyarakat agar mengubah budaya perilaku yang tidak produktif sesuai dengan tuntutan zaman. Birokrasi yang membudaya dalam adat Wali nagari yang egois untuk kepentingan nafsu diri harus diatasi oleh Sutan Duano.

”Di waktu itulah Sutan Dunao memulai suatu kehidupan baru. Beberapa bidang sawah yang terlantar diminta izin pada yang punya untuk dikerjakan. Sapi-sapi yang tak terrgembalakan lagi ditampungnya dengan perjanjian sedua.”
(Navis, 2003: 5)

Sikap dan perbuatan yang semula mendapat cacian dan hinaan akhirnya membawa hasil yang positif sehingga masyarakat pelan-pelan mengakuinya. Sutan Duano juga digunakan oleh pengarang untuk mengubah sistem pinjam-meminjam uang serta budaya yang tak baik.
”Tapi Sutan Duano sudah termasuk jadi orang yang berada di kalangan rakyat di kampung itu. … Karenanya ia sudah menjadi orang yang berarti dan disegani oleh semua orang. Tapi bukan karena kayanya. Melainkan karena kebaikan hatinya, dipercaya, dan suka menolong setiap orang yang kesulitan. Lambat-lambat ia jadi pemimopin di kalangan petani untuk mengerjakan sawah. … Sistem ijon diusahakannya melenyapkannya dengan meminjamkan uangnya sendiri tanpa bunga.”

(Navis, 2003: 6)

Sutan Duano juga digunakan oleh A.A. navis untuk mendidik masyarakjat agar jangan suka mengadu nasib ke daerah lain-kota dengan budayanta meminjam untuk modal usahanya.

”Sebulan setelah lamanya laki-laki itu di rantau, datangklah suratnya yang mengatakan ia telah memulai kelilingh, berdagang baju konveksi. … Akhirnya, pada surat yang keempat, dikatakannya bahwa ia mertasa sangat terharu karena Sutan Duano telah mengembalikan hasil padinya yang dijualnya dengan hanya memotong seharga uang yang diberikannya dulu.”
(Navis, 2003: 12)

Niat Sutan Duano begitu besar untuk mengubah plola hidup masyarakat memang banyak mengalami hambatan, baik dari Wali Negeri, tokoh masyarakat, orang terrkaya, tokoh petani. Tetapi niat besar tersebut tidak menyusut.

”Yang dimauinya ialah hendak mengubah cara hidup orang di kampung itu. Mereka terlalu banyak membuang waktu. Lalai bila mereka menganggap pekerjaan telah habis. Sedang sebenarnya meereka itu adalah bangsa yang ulet dan rajin. Ia selalu melihat betapa rajinmnya mereka bila musim ke sawah tiba. …Tetapi… tak tentu lagi apa yang mereka perbuat. Mereka akan mengabiskan waktunya di kedai kopi, nongkrong atau main domino. Menurut pendapat Sutan Duano, bagi mereka itu harus dicarikan pekerjaan. Asal ada pekerjaan yang tersedia, tentulah mereka akan mau mengerjakannya. Mengubah pekerjaan bukanlah kebiasaan mereka. … Mereka tidak bercita-cita mengubah hidup ke arah yang lebih tinggi… satu-satunya jalan bagi Sutan Duano ialah memberi contoh bagaimana mernjadi petani yang baik.”
(Navis, 2003: 17)

Kesabaran dan ketabahan hati Sutan Duano amat teruji dan terukur dengan berbagai peristiwa yang dialaminya, baik pergunjingan, reaksi orang lain atas kebijakannya, maupun aksi sebagian orang. Kebimbangan kadang muncul dalam benaknya.

”`Bagaimana lagi cara aku mengubah jalan pkikiran orang di sini? Berapa lama aku dapat mengubahnya? Namun, niatnya demikian kuat dengan langkah-langkah yang mapan,` katanya. … `Agaknya ambisiku terlalu besar. Hatiku jadi sakit kalau gagal. Tetapi apakah ancaman kemarau ini tidak mamou membukakan mata mereka itu?`”
(Navis, 2003: 35)

”Tapi mengapa begitu? pikirnya kemudian. Apakah ini bukan suatu isyarat dari Tuhan bagiku? Tapi buat apa? Apakah hidupku di sini tak diridai-Nya? Tentu ada apa-apanya. Kalau tidak, tidak akan begini jadinya. Mungjkin juga aku disuruh pergi dari kamopung ini. Oleh penduduk di sini? Oh, tidak mungkin. Jadi, olerh siapa?”

(Navis, 2003: 45)

Cobaan dan hinaan yang kadang terencana oleh pihak tertentu sering membuat Sutan Duano juga berlatih kesabaran lebih jauh serta ketabahan dan kedewasaan bertindak.

“`Bapak naik jendela Mak malam-malam. Etek Saniah bilang,` kata Acin menantang.
Terengah Sutan Duano mendengar kata anak itu. Ia tidak marah. Tidak pula mencoba meyakinkan Acin. Ia hanya terpulun oleh pikirannya sendiri. Dari mana anak itu bisa berpikir seburuk itu. Dan mengapa Saniah sampai berani berkata yang tidak-tidak. Apa maksud perempuan itu sebenarnya? Ia tak dapat memahami fitnah yang dilontarkan perempuan itu. Akirnya dilemparkannya pikirannya dari perempuan itu.”

(Navis, 2003: 55)

Sikap dan ketulusan hatinya menolong sering membuat orang semakin simpati, namun hal itu tidak memperkuat hatinya tatkala problema psikologis muncul berkaitan dengan masa lalu. Memang, masa lalu sering menjerat orang dan menjebaknya dalam kerangkeng pikiran sempit yang merugikan untuk langkah berikutnya.

”`Kita aklan kehilanghan, kalau jadi ia pergi,` kata Uwo Bile.
`Orang kampung kita sudah terlalu banyak memakan budinya,1 ulas Datuk Sanga sambil memilin-milin kumisnya. `Tapi di saat terakhir ini, kita tekah mengkhianatinya. Kita seolah sepakat saja menghindarkan diri dari padanya. Aku pun orang celaka, ikut-ikutaan pula menghindari diri.`”

(Navis, 2003: 59)

”Dan pintu itu terbuka, ia tertegun. Di lantai dilihatnya sepucuk surat. Surat yang berperangko. Selama ia menetap di kampung itu, itulah buat pertama kalinya ia menerima surat. Darahnya tersirap juga melihat surat yang tergeletak di lantai itu. … Dibacanya alamat si pengirim. Tangannya jadi gemetar. Tercenung dan tak tahu ia apa yang hendak dilakukannya terlebih dulu. Surat itu ternyata dari anaknya di Surabaya.”

(Navis, 2003: 63)

Masa lalu akhirnya disadari sebagai dosa yang harus ditebus dengan berbuat baik bagi orang lain agar memperoleh pahala. Hal ini merupakan prinsip dasar yang memperkokoh perjuangan Sutan Duano dalam memperjuangkan niatnya mengubah rakyat sekitar tempat tinggalnya ke arah hidup yang lebih baik. Nasihat haji Tumbijo merasuk dalam hatinya.

“Tapi haji Tum bijo telah mengatakan padaku,`Kalau Masri, anakmu telah menemui kesengsaraan dan melakukan dosa-dosanya tersebab kau tak mampu mendidiknya selama ini, hapuslah dosanya itu dengan melakukan kebaikan bagi setiap kesengsaraan orang lain. Hadiahkan pahalamu itu semua buat keselamatannya. Mudah-mudahan Tuhan menerimanya. Kalau Masri masih hiduop, dengan perbuatan baikmu yang kauitikadfkan untuk Masri tiu, terlindunglah Masri dati kesengsaraan dan kerhancuran.`”

(Navis, 2003:68)

6. Kelebihan dan Kekurangan Novel Kemarau

6.1 Kelebihan Kemarau

Novel Kemarau mengemukakan sikap dan niat perjuangan seorang guru agama dalam mengubah fokus pikiran dan kerangka berpikir masyarakat yang masih diliputi penalaran tradisional penuh dengan kekuatan takhayul dengan memegang tradisi nenek moyang tanpa diikuti nalar sehat atau sikap kritis. Bahkan hal ini sering tak sejalan atau berbenturan dengan ajaran agama yang mereka ikuti. Berdasarkan hal tersebut novel ini mempunyai peranan penting dalam khazanah sastra Indonesia dalam nuansa Islami.
Kemarau menampilkan problematika manusia dalam memahami dan menjalankan ajaran agama dalam konteks budaya dan tradisi yang berlaku dalam komunitas tertentu sebagai latar cerita. Ajaran agama dikemas oleh pengarang melalui nuansa motivasi tokoh dalam upaya memahami dan menjalankan ajaran agama di tengah masyarakatnya. Oleh karena itu, Kemarau tidak bersifat dogmatis, melainkan kisah perjuangan tokoh cerita dalam memahami dan menjalankan ajaran agama.
Oleh A.A. Navis tema di atas dikemas melalui pengunaan bahasa yang lugas, dialogis, dan berisi. Hal ini memperkuat bahwa amanat sampai kepada pembaca dengan baik, meski pengarang dikenal sebagai penulis bergaya satiris, sinis, dan jago mencemooh. Tokoh cerita dikemas sebagai pibadi yang mampu mengundang simpati masyarakat sekitar sehingga secara bertahap pola berpikir dan cara hidupnya mampu mengubah pola dan cara hidup masyarakat.
Melalui novel Kemarau A.A. Navis berani menunjukkan dirinya sebagai penganut agama Islam yang baik, bukan sebagaimana ditudingkan oleh teman-teman sebelumnya bahwa ia penganut komunis akibat kesalahpahaman yang tk disengaja. A.A. Naavis diundang dalam Konferensi Pengarang Asia-Afrika di Denpasar Bali, Agustus 1963, yang tak diketahuinya kegiatan itu disponsori oleh PKI. Akibatnya, dia dikucilkan oleh teman-teman pengarang lainnya di berbagai kota. Ketika menggubah Robohnya Surau Kami menjadi drama yang ditampilkan di Universitas Gadjah Mada, Bastari Asnin mengemukakan kekecewaannya atas kehadiran A.A. Navis dalam acara di Bali itu. Berdasarkan hal inilah Navis mempunyai greget menulis novel yang menunjukkan bahwa dirinya bukan komunis.
1. Kekurangan Kemarau

Novel Kemarau memang karya sastra yang Amat penting dalam sastra Indonesia dengan karakteristik bercerita pengarangnya yang khas menggelitik pikiran pembaca. Hanya saja novel ini diakhiri dengan pola pengahiran seperti cerita pendek dalam kemasan singkat.
Pengarang mengakhiri cerita secara eksplisit jelas dan transparan, Namun, dikemas dalam rangkaian kata yang singkat dan deskriptif langsung sehingga tak memberikan peluang kepada pembaca untuk mengembangkan imajinasinya. Apalagi bila hal itu dilihat pada bagian ujung cerita tentang nasib tokoh-tokoh ceritanya.

Referensi:
A.A. Navis: Karya dan Dunianya karangan Ivan Adilla, Penerbit Grasindo, Jakarta, halaman 167.

Ali Akbar Navis (In Memoriam), Sastrawan, Sang Kepala Pencemoh dalam TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), diakses 31 Maret 2011, pukul 20.30 WIB

Rahmanto, B.. Metode Pengajaran Sastra, saduran bebas dari The Teaching of Literature karangan H.L.B. Moody. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Navis, A.A., 2003. Kemarau. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.

Siswanto, Wahyudi. 2008. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Grasindo.

TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), diakses 31 Maret 2011, pukul 20.30 WIB

TokohIndonesiaDotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), diakses 29 Maret 2011, pukul 23.15 WIB. Teori Satra, dalam http://istayn.staff.uns.ac.id/files/2010/10/teori-sastra-2.pdf, diakses 20 Maret 2011, pukul 22.25 WIB (lebih…)

September 30, 2014 at 8:28 am Meninggalkan komentar

ASAS-ASAS BERPIKIR

            Di dalam kegiatan berbahasa, terutama kegiatan berpikir bersama, diskusi, rapat, seminar, simposium, temu wicara, sarasehan, bahkan debat, terdapat suatu pola kegiatan berpikir bersama bergerak maju ke arah hal baru berdasarkan persepsi yang sudah dimiliki. Dengan demikian, kegiatan tersebut tak sebatas sampai pada keputusan, pemikiran, pengetahuan, atau kesimpulan sebab kita berusaha meng-up date sehingga menghasilkan konsep atau gagasan, pemikiran, keputusan, atau kesimpulan baru yang lebih baik.

            Hal tersebut terbentuk karena sikap kritis, bijak, dan inovatif kita dalam kemajuan pola pikir, analisis, dan cara pandang suatu masalah. Oleh karena itu, dalam kegiatan berpikir bersama tersebut ditemukan alternatif-alternatif, solusi, dan pemecahan. Jadi, secara tak langsung  eksplisit kita sudah menempatkan asas berpikir sebagai pangkalan menuju gagasan atau konsep baru sehingga dapat dipertanggungjawabkan.

 

            Ada beberapa asas yang perlu dicermati demi kerangka berpikir atau paradigma kita, yaitu:

 

  1. 1.        Asas identitas

 

Asas ini merupakan suatu kaidah berpikir dar suatu konsep yang menunjuk sifat khas atau pokok realitas, konsep, atau masalah. Hal tersebut mempunyai hakikat yang khas: memiliki sifat, referensi, dan identitas tertentu. Oleh karena itu, asas ini lekat dengan kategori ini adalah ini, itu adalah itu. Konsekuensi logisnya, kesimpulan yang ditarik harus diakui.

 

Cermati kutipan berikut!

 

Petenis utama purti Indonesia, Angelique “Angie” Widjaja, dipilih oleh Australian Tennis Magazine, majalah tenis terkemuka Australia, sebagai petenis muda terbaik (Rising Star) tahun 2002. Pemberan trofi penghargaan tersebut, ujar manajer Angie, Virginia Rusli, akan dilakukan saat turnamen Australia Terbuka berlangsung di Melbourne, pertengahan Januari 2003.

 

“Penyerahan trofi akan dilakukan dalam arena Australia Terbuka.  Informasi yang saya peroleh keumungkinan upacara tersebut dilakukan di hari terakhir  turnamen,“  ujar Virginia.

 

Selain Angie, majalah tersebut juga memberikan penghargaan serupa kepada petenis muda Australia, Todd Reid. Reid merupakan juara Wimbledon yunior putra tahun ini, sedangkan Angie menembus peringkat 80-an dunia dengan menjuarai turnamen Volvo Ten di Pattaya Thailand, semifinalis Shanghai Terbuka, dan Juara Dubai Challenger. Setahun sebelumnya di usia yang ke-16, Angie meraih gelar WTA Tour pertama di Wismilak Open Bali (Kompas, 31 Desember 2002).

 

Tentukanlah, manakah realitas, konsep, dan pokok permasalahannya?

 

  1. 2.                       Asas Kontradiktoris

 

Asas ini menunjukan isi dan luas pengertian yang berbeda dari realitas, konsep, atau masalah yang sama. Perbedaan isi dan luas pengertian suatu konsep disebabkan oleh perbedaan cara pendekatan dan sudut poandang. Oleh sebab itu, perlu disikapi secara objektif masalah tersebut sehingga jelas yang benar dan yang salah.

 

Contoh:

  • Semua profesor itu pandai sehingga botak kepala.

Usman, siswa kelas ini, pandai dan botak kepalanya.

Jadi, Usman seorang profesor.

 

  • Semua siswa kelas ini jujur dan rajin belajar.

Anak tetangaku adalah seorang  yang rajin dan jujur.

Berarti, anak tetanggaku adalah warga siswa kelas ini.

 

  1. 3.        Asas kemungkinan Ketiga

Keputusan atau kesimpulan yang benar bukan semata didasarkan oleh sikap kompromis, artinya ada keputusan atau kesimpulan yangs saling bertentangan. Kita harus tegas, hanya satu yang mungkin benar.

 

Contoh:   Semua siswa kelas ini tekun dan rajin.

Beberapa siswa kelas ini tekun dan rajin.

 

Kedua pernyataan di atas tak mjungkin keduanya benar atau keduanya salah. Maka,  harus dikorbankan/dipilih “yang satu” dan mengingkari “yang lain”.

 

  1. 4.        Asas Kausalitas

 

Aasas ini mendasarkan diri pada konsep bahwa setiap realitas, pengertian, amupun masalah selalu mempnyai rangkaian penyebab atau argumentasi keberadaannya.

 

Contoh:

Yang pertama menarik perhatian adalah pengamanan yang mendahului dan menyertai kunjungannya, bukan saja ke Bali, tetapi juga ke Manila (Filipina), Bangkok (Thailand), dan Singapura. Begitulah selalu penjagaan keamanan yang menyertai kehadiran dan kunjungan Presiden Amerika Serikat ke mana pun. Pengamanan standar yang sudah luar biasa itu kini lebih ekstraketat sejak serangan teror ke AS, 11 September 2001, serta munculnya aksi teror di banyak negara dan tempat, termasuk di Bali.

 

Dalam kontkes ini, persinggahan di Bali bisa ditafsirkan sebagai sesuatu yang mempunyai arti sendiri, yakni perhatian Presiden Bush terhadap aksi-aksi teror dan pilihannya menempatkan diri sebagai penggerak dan pemimpin dalam memerangi teror. Suatu posisi yang sekaligus mengundang kontroversi serta perbedaan pendapat, terutama perihal interpretasi dan cara memeranginya.

 

(Kompas, 22 Oktober 2003)

 

September 24, 2013 at 6:13 am Meninggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama


Kategori

  • Blogroll

  • Feeds


    Ikuti

    Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.