Archive for Agustus, 2009

Analisis Wacana

Analisis Wacana

Wacana adalah kata yang sering dipakai masyarakat dewasa ini. Banyak pengertian yang merangkai kata wacana ini. Dalam lapangan sosiologi, wacana menunjuk terutama dalam hubungan konteks sosial dari pemakaian bahasa. Dalam pengertian linguistik, wacana adalah unit bahasa yang lebih besar daripada kalimat. Sedangkan menurut Michael Foucault (1972), wacana; kadangkala sebagai bidang dari semua pernyataan (statement), kadangkala sebagai sebuah individualisasi kelompok pernyataan, dan kadangkala sebagai praktik regulatif yang dilihat dari sejumlah pernyataan.

Menurut Eriyanto (Analisis Wacana, `Pengantar Analisis Teks Media`), Analisis Wacana dalam studi linguistik merupakan reaksi dari bentuk linguistik formal (yang lebih memperhatikan pada unit kata, frase, atau kalimat semata tanpa melihat keterkaitan di antara unsur tersebut). Analisis wacana adalah kebalikan dari linguistik formal, karena memusatkan perhatian pada level di atas kalimat, seperti hubungan gramatikal yang terbentuk pada level yang lebih besar dari kalimat. Analisis wacana dalam lapangan psikologi sosial diartikan sebagai pembicaraan. Wacana yang dimaksud di sini agak mirip dengan struktur dan bentuk wawancara dan praktik dari pemakainya. Sementara dalam lapangan politik, analisis wacana adalah praktik pemakaian bahasa, terutama politik bahasa. Karena bahasa adalah aspek sentral dari penggambaran suatu subyek, dan lewat bahasa ideologi terserap di dalamnya, maka aspek inilah yang dipelajari dalam analisis wacana.

Ada tiga pandangan mengenai bahasa dalam bahasa. Pandangan pertama diwakili kaum positivisme-empiris. Menurut mereka, analisis wacana menggambarkan tata aturan kalimat, bahasa, dan pengertian bersama. Wacana diukur dengan pertimbangan kebenaran atau ketidakbenaran menurut sintaksis dan semantik (titik perhatian didasarkan pada benar tidaknya bahasa secara gramatikal) — Analisis Isi (kuantitatif)

Pandangan kedua disebut sebagai konstruktivisme. Pandangan ini menempatkan analisis wacana sebagai suatu analisis untuk membongkar maksud-maksud dan makna-makna tertentu. Wacana adalah suatu upaya pengungkapan maksud tersembunyi dari sang subyek yang mengemukakan suatu pertanyaan. Pengungkapan dilakukan dengan menempatkan diri pada posisi sang pembicara dengan penafsiran mengikuti struktur makna dari sang pembicara. –Analisis Framing (bingkai)

Pandangan ketiga disebut sebagai pandangan kritis. Analisis wacana dalam paradigma ini menekankan pada konstelasi kekuatan yang terjadi pada proses produksi dan reproduksi makna. Bahasa tidak dipahami sebagai medium netral yang terletak di luar diri si pembicara. Bahasa dipahami sebagai representasi yang berperan dalam membentuk subyek tertentu, tema-tema wacana tertentu, maupun strategi-strategi di dalamnya. Oleh karena itu analisis wacana dipakai untuk membongkar kuasa yang ada dalam setiap proses bahasa; batasan-batasan apa yang diperkenankan menjadi wacana, perspektif yang mesti dipakai, topik apa yang dibicarakan. Wacana melihat bahasa selalu terlibat dalam hubungan kekuasaan. Karena memakai perspektif kritis, analisis wacana kategori ini disebut juga dengan analisis wacana kritis (critical discourse analysis). Ini untuk membedakan dengan analisis wacana dalam kategori pertama dan kedua (discourse analysis).

Paradigma Kritis

Everett M. Roger, seperti dikutip oleh Eriyanto, mengemukakan bahwa “media bukanlah entitas yang netral, tetapi bisa dikuasai oleh kelompok dominan.” Saya memahami pernyataan Everett M. Roger bahwa media memiliki kemungkinan besar dikuasai oleh kelompok berkuasa atau kelompok-kelompok yang memegang kekuasaan.

Menurut Eriyanto ada beberapa pertanyaan yang muncul dari sebuah paradigma kritis. Yaitu: siapa yang mengontrol media? Kenapa ia mengontrol? Keuntungan apa yang bisa diambil dengan kontrol tersebut? Kelompok mana yang tidak dominan dan menjadi obyek pengontrolan?

Mengapa pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi penting? Karena paradigma kritis ini percaya bahwa media adalah sarana di mana kelompok dominan dapat mengontrol kelompok yang tidak dominan, bahkan memarjinalkan mereka dengan menguasai dan mengontrol media. Sehingga jawaban yang diharapkan dari pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah adanya kekuatan-kekuatan yang berbeda dalam masyarakat yang mengontrol suatu proses komunikasi.

Menurut Horkheimer, seperti dikutip Eriyanto, salah satu sifat dasar dari teori kritis adalah selalu curiga dan mempertanyakan kondisi masyarakat dewasa ini. Karena kondisi masyarakat yang kelihatannya produktif dan bagus tersebut sesungguhnya terselubung struktur masyarakat yang menindas dan menipu kesadaran khalayak.

Mengenai paradigma kritis, Stephen W. Littlejohn, seperti dikutip Alex Sobur, menjelaskan: “Perkembangan teori komunikasi massa yang didasarkan pada tradisi kritis Eropa (Marxis) cenderung memandang media sebagai alat ideologi kelas dominan. Tradisi Eropa berusaha mematahkan dominasi model komunikasi Amerika yang notabene adalah penganut aliran Laswellian ataupun stimulus-respon, teori yang berasumsi khalayak adalah konsumer pasif media massa. Dengan kata lain, fenomena komunikasi massa bukanlah sekedar sebuah proses yang linear atau sebatas transmisi (pengiriman) pesan kepada khalayak massa, tetapi dalam proses tersebut komunikasi dilihat sebagai produksi dan pertukaran pesan (atau teks) berinteraksi dengan masyarakat yang bertujuan memproduksi makna tertentu.”

Dari pernyataan yang diberikan Stephen W. Littlejohn dan Everett M. Roger mengenai paradigma kritis, saya dapat menyimpulkan bahwa media merupakan sebuah alat penyebaran ideologi kelas dominan (para penguasa maupun pemilik modal). Sehingga komunikasi didefinisikan sebagai sarana pertukaran pesan yang bertujuan memproduksi makna tertentu, dimana komunikasi tersebut tentunya mewakili kepentingan kelompok dominan.

Menurut Stuart Hall, paradigma kritis bukan hanya mengubah pandangan mengenai realitas yang dipandang alamiah oleh kaum pluralis, tetapi juga berargumentasi bahwa media adalah kunci utama dari sebuah pertarungan kekuasaan. Karena melalui media, nilai-nilai kelompok dominan dimapankan, dibuat berpengaruh, dan menentukan apa yang diinginkan oleh khalayak.

Dalam proses pembentukan realitas, Stuart Hall menekankan pada dua titik, yaitu bahasa dan penandaan politik. Penandaan politik disini diartikan sebagai bagaimana praktik sosial dalam membentuk makna, mengontrol, dan menentukan makna. Menurut Hall, media berperan dalam menandakan peristiwa atau realitas dalam pandangan tertentu, dan menunjukkan bagaimana kekuasaan ideologi di sini berperan – karena ideologi menjadi bidang di mana pertarungan dari kelompok yang ada dalam masyarakat.

Media Massa

Menurut Alex Sobur, media (pers) sering disebut banyak orang sebagai the fourth estate (kekuatan keempat) dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan politik. Hal ini terutama disebabkan oleh suatu persepsi tentang peran yang dapat dimainkan oleh media dalam kaitannya dengan pengembangan kehidupan sosial-ekonomi dan politik masyarakat. Bahkan, media, terlebih dalam posisinya sebagai suatu institusi informasi, dapat pula dipandang sebagai faktor yang paling menentukan dalam proses-proses perubahan sosial-budaya dan politik. Oleh karena itu, dalam konteks media massa sebagai institusi informasi, Karl Deutsch, menyebutnya sebagai “urat nadi pemerintah” (the nerves of government).

Alex Sobur sendiri mendefinisikan media massa sebagai: “Suatu alat untuk menyampaikan berita, penilaian, atau gambaran umum tentang banyak hal, ia mempunyai kemampuan untuk berperan sebagai institusi yang dapat membentuk opini publik, antara lain, karena media juga dapat berkembang menjadi kelompok penekan atas suatu ide atau gagasan, dan bahkan suatu kepentingan atau citra yang ia representasikan untuk diletakkan dalam konteks kehidupan yang lebih empiris.”

Berdasarkan pendefinisian media massa menurut Alex Sobur, saya memahami bahwa media massa merupakan suatu alat yang digunakan untuk menyebarkan pendapat umum (opini publik) dari pihak-pihak dominan, misalnya saja pemerintah. Biasanya kelompok dominan menggunakan media massa untuk melakukan pengkonstruksian realitas yang berujung pada upaya legitimasi masyarakat terhadap suatu wacana.

Louis Althusser, menulis bahwa, “Media, dalam hubungannya dengan kekuasaan, menempati posisi strategis, terutama karena anggapan akan kemampuannya sebagai saran legitimasi. Media massa sebagimana lembaga-lembaga pendidikan, agama, seni, dan kebudayaan, merupakan bagian dari alat kekuasaan negara yang bekerja secara ideologis guna membangun kepatuhan khalayak terhadap kelompok yang berkuasa (ideological states apparatus).”

Namun, pandangan Althusser tentang media ini dianggap Antonio Gramsci, dalam Al-Zastrouw, mengabaikan resistensi ideologis dari kelas tersubordinasi dalam ruang media. Bagi Gramsci, media merupakan arena pergulatan antarideologi yang saling berkompetisi (the battle ground for competing ideologies).

Antonio Gramsci dalam Alex Sobur melihat, “Media sebagai ruang di mana berbagai ideologi di representasikan. Ini berarti, di satu sisi media bisa menjadi sarana penyebaran ideologi penguasa, alat legitimasi, dan kontrol atas wacana publik. Namun di sisi lain, media juga bisa menjadi alat resistensi terhadap kekuasaan. Media bisa menjadi alat untuk membangun kultur dan ideologi dominan bagi kepentingan kelas dominan, sekaligus juga bisa menjadi instrumen perjuangan bagi kaum tertindas untuk membangun kultur dan ideologi tandingan.”

Dari semua penjabaran mengenai media massa, saya menyimpulkan, media massa merupakan alat atau sarana penyebaran ideologi kelompok dominan, alat legitimasi, dan alat kontrol sosial atas wacana publik. Sehingga tidak menutup kemungkinan terjadinya praktek diskursif oleh media terhadap kelompok-kelompok marjinal, yang ditekan oleh kelompok dominan (penguasa). Bahkan, praktek diskursif tadi dapat dimanfaatkan media sebagai alat legitimasi atau pembenaran-pembenaran terhadap suatu konteks permasalahan yang tidak sesuai dengan ideologi dominan.

Alex Sobur berpendapat, bahwa isi media pada hakekatnya adalah hasil konstruksi realitas dengan bahasa sebagai perangkat dasarnya. Begitu juga media cetak, isi media cetak menggunakan teks dan bahasa.

Guy Cook menyebut tiga hal yang sentral dalam pengertian wacana, yaitu teks, konteks, dan wacana. Eriyanto kemudian menjelaskan ketiga makna tersebut, “Teks adalah semua bentuk bahasa, bukan hanya kata-kata yang tercetak di lembar kertas, tetapi juga semua jenis ekspresi komunikasi, ucapan, musik gambar, efek suara, citra, dan sebagainya. Konteks memasukkan semua situasi dan hal yang berada di luar teks dan mempengaruhi pemakaian bahasa, seperti partisipan dalam bahasa, situasi dimana teks tersebut diproduksi. Wacana disini, kemudian dimaknai sebagai teks dan konteks bersama-sama.”

Dari penjelasan diatas, saya memahami bahwa teks memiliki peranan yang signifikan dalam pembentukan wacana.

Menurut Ibnu Hamad, benar bahwa unsur utama dalam konstruksi realitas adalah bahasa. Kemudian ia mengutip dari Giles dan Wiemann, “bahasa (teks) mampu menentukan konteks”. Karena lewat bahasa disini orang mencoba mempengaruhi orang lain (menunjukkan kekuasaannya) melalui pemilihan kata yang secara efektif mampu memanipulasi konteks.

Namun, menurut Hotman M. Siahaan: “Bahasa tak dapat dipandang sebagai alat komunikasi atau sebuah sistem kode atau nilai yang secara wewenang menunjuk sesuatu realitas monolitik. Bahasa merupakan bahasa sosial dan bukan sesuatu yang netral atau konsisten, melainkan partisipan dalam proses tahu, budaya, dan politik. Bahasa bukan merupakan sesuatu yang transparan, yang menangkap dan memantulkan segala sesuatu diluarnya secara jernih. Secara sosial, terikat bahasa dikonstruksi dan direkonstruksi dalam kondisi khusus dan setting sosial tertentu dan bukan semata tertata menurut hukum yang diatur secara alamiah dan universal. Karenanya sebagai representasi hubungan sosial tertentu, bahasa senantiasa membentuk subyek-subyek, strategi-strategi, dan tema-tema wacana atau diskursus tertentu.”

Norman Fairclough melihat bahasa sebagai praktek kekuasaan. Karena bahasa secara sosial dan historis dianggap sebagai bentuk tindakan, dalam hubungan dialektik dengan struktur sosial. Sehingga dalam menganalisis wacana, Fairclough memusatkan pada bagaimana bahasa itu terbentuk dan dibentuk dari relasi sosial dan konteks sosial tertentu.

Berdasarkan beberapa penjelasan diatas, saya menyimpulkan bahwa bahasa tidak hanya sebagai bahasa verbal, melainkan juga sebagai sebuah kegiatan sosial yang tidak netral dan tidak konsisten. Dalam konteks sosial, bahasa dapat dikonstruksi ataupun direkonstruksi pada kondisi dan setting sosial tertentu.

Untuk kalangan kritis (critical), bahasa dipandang sebagai alat perjuangan kelas. Makna dalam hal ini tidak ditentukan oleh struktur realitas, melainkan oleh kondisi ketika pemaknaan dilakukan melalui praktek sosial, dimana terdapat peluang yang sangat besar bagi terjadinya pertarungan kelas dan ideologi.

Sumber: Papirus Biru

Agustus 24, 2009 at 4:01 pm Tinggalkan komentar

LANGKAH MEMBACA CEPAT DAN EFEKTIF

Sebagai seorang terididik siswa dituntut mempunyai keterampilan membaca yang baik, benar, tepat, dan cepat dari berbagai literature berbagai bidang studi sesuai dengan karater masing-masing. Secara konvensional satu bdiang studi miimal memiliki satu buu pegangan, bahan ada pula yang lebih dari itu. Naun, pada era globalisasiinformasi seperti sekarang, literature justru banyak mengacu pada referensi jaringan internet. Siswa justru semakin dipebanyak kewajiban membuka dan membaca sumber infroasi dari berbagai suber, baik tertulis maupun multimedia jaringan.
Meskipun begitu, kemampuan membaca yang baik, benar, tepat, dan cepat tetap amat diperlukan, bahkan semakin penting. Sayangnya, masih sedikit siswa yang menyadari kekuarangan dan kelemahan kemampuan membacanya. Masih banyak siswa yang membaca buku dengan melakukan kebiasaan yang kurang mendukung meningkatkan kecepatan membacanya, misalnya membaca dengan bersuara, menggerakan bibir, menunjuk kata demi kata denga jari atau alat tulis, menggerakan kepala-mata ke kiri-kanan.
Justru dalam keadaan kemajuan zaman seperti sekarang yang diperlukan adalah kemampuan menyiasati sarana dan keadaan dengan melakukan langkah yang tepat, jitu, dan efektif sehingga siswa dapat memanfaatkan informasi serta mengoptimasi taleta yang dimilikinya dengan baik dan tepat demi masa depan hidup dan kehidupan. Mau tidak mau, langkah awalnya adalah menghilangkan kebiasaan membaca yang tidak baik terlebih dahulu. Di sisi lain siswa harus mneyadari bahwa yang amat penting dalam membaca adalahmenangkap ide tulisan, bukan menghafal kata-kata kunci, meski hal ini amat berguna.
Fokus utama membaca adalah memberdayakan mata dan otak kita. Dengan mata kita melihat tulisan dan dengan kita kita memprosesnya, terutama gagasan-gagasan yang ada dalam tulisan itu. Tatkala mata melihat secara otomatis otak ita melakukan interpretasi dan menyimpannya dalam syaraf memori. Kita menyerap gagasan atau konsep yang ada dalam tulisan itu, kemudian menginterpretasikannya, untuk selanjutnya disimpan dalam syaraf memori. Hal ini dapat berjala baik bila saat membaca pikiran kita konsentrasi penuh ke isi bacaan. Ada yang menasihati bila kita melihat dengan saksama berarti kita mengerti.
Memang sulit melatih konsentrasi, namun harus dilakukan, meski setapak demi setapak. Biasakan terfokus pikiran kita kepada apa yang sedang kita baca sehingga gagasan, konsep atau interpretasi kita benar, jelas, dan mudah dipahami. Korelasi terkendali mata dan pikiran memang amat menentukan hal ini. Bahan bacaan yang relatif mudah pun tak akan dipahami dan tersimpan dengan baik bila pikiran terlalu leluasa bergerak ke mana-mana apalagi dengan gagasan-gagasan yang tak relevan. Oleh sebab itu, pkira kita harus terfokus ke bacaan dengan konsentrasi penuh.
Langkah tepat untuk membaca cepat dan efektif adalah menggerakkan jangkauan mata dalam 3-4 kata secara cepat, diiringi kemauan dan kemampuan menetapkan tujuan untuk mendapatkan nti bacaan, bukan menghafal kata-katanya. Perlu kita sadari bahwa kemamuan enyerap gagasan atau konsep yang diproses oleh tak kita tidak bergantung pada susunan kata, karena yang penting adalah inti isinya. Berdasarkan pemahaman pengerian yang kita peroleh, rumusan gagasan inti dapat dirangkai sendiri.

Survei, Question, Read, Recite

Musan di atas merupakan kiat untuk mempermudah dalam menemukan ide-konsep beserta detail-detailnya.
Langah survei dilakuakn sebelum membaca isi dengan jaan mengamati secara sekilas. Langkah ini penting sebab akan memberikan banya manfaat bagi kita: megetahui gambaran umum isi, mempermuda dan mempercepat pemahaman inti bacaan, mengetah ide-ide penting, dan mendapatkan gambaran struktur penyajian gagasan oleh penulis.

Cara yang bisa dilakukan adalah dengan memahami judul, penulis, dan kata pengantar, baik dar enulis maupun penerbit. Dari sini kita mengetahui aah dan tujuan serta lingkup pembahasan topik. Daftar isi buku juga membantu kita memahami struktur isi-topik buku. Pilihlah topik yang menarik dan penting, kemudian melhat tabel, grafik, diagram, indeks yang berisi kata-kata kunci,dan lampiran yang berfungsi memebrikan informasi tambahan. Bila kita menentukan topik tertentu yang menurut kita penting, cermatilah sub-subjudulnya yang menspesifikasi atau mempertegas masalah yang dibahas. Cermatilah ringkasan awal bab yang memberikan gambara umum isi bab terwebut.

Langkah Question tentang isi bacaan tersebut bisa kita lakukan sembari melakukan survei. Secara klasik kita dapat mengajukan 5W+H. Langkah ini penting sebab membantu kita untuk memperkhusus isi dan inti gagasan. Harus diakui bila bertanya merupakan langkah yang efektif untuk menguasai bacaan secara akurat, cermat, dan tepat sehinga memabntu proses otak dalam memahami dan menyimpan dalam memori.

Langkah Read erupakan implikasi langkah sebelumnya untuk mempertegas dan memperkuat interpretasi kita terhadap isi buku. Diperlukan sikap kritis dalam hal ini diiringi kemampuan menggerakkan pandangan mata dalam cakupan baris kata secara tepat, cepat, dan efektif. Memang, pada langkah ini akan diperoleh detail-detail infromasi pentig sehingga diperlukan irama membaca yang tepat dan sesuai. Bila menemukan gagasan inti dan pembahasan menarik perlu diperlambat irama bacanya, dan sebaliknya juga. Langkah ini memerlukan konsentrasi yang baik.

Bisa saja ketika menemukan gagasan-gagasan penting, dalam bentuk kata-kata atau frase kunci kita menandai bagian tesebut dengan pensil atau stabilo. Janganlah berhenti untuk hal sebelumnya tadi sebab akan memberikan kelemahan kemampuan kecepatan membaca kita. Membuat catatan yang penting dapat diakukan setelah selesai membaca secara keseluruhan.
Langkah Recite merupakan aktivitas membaca sekali lagi seteah selesai membaca, namun masih sukar menangkap inti pembahasannya. Kita langsng saja membaca bagian-bagian yang penting dan belum kita kuasai.

Di sisi lain mencatat poin-poin penting dari bagian yang sudah selesai dibaca dan ditandai amat penting untuk membantu kerja memori ita secara sistematis dan kuat. Pemahaman dan peresapan materi pentig lebih baik dikaitkan dengan kehidupan konkret di sekitar kita yang secara tomatis akan melatih diri kita untuk menerapkan suatu teori dalam praktik kehidupan.
Harus diingat pula bila beLajar merupakan suatu proses yang berlangsung sepanjang hayat. Dengan learning to be, learing to know, learn to do, learning tot live together tentu akan lebih bermakna dan terimplikasi, tak sebatas baru bisa mimpi.

Agustus 21, 2009 at 6:19 pm Tinggalkan komentar

MEMBACA INDAH

Sebagai suatu bentuk keterampilan berbahasa secara pasif tertulis, membaca merupakan suatu keterampilan yang perlu dibina dan dilatih sehingga selaku pihak orang kedua yang menerima pesan, pembaca dapat memahami maksud penulis dengan tepat, cepat, efektif, dan efisien.
Membaca sebagai bentuk keterampilan pasif berbahasa amat bermanfaat bagi pengembangan wawasan dan pengetahuan seseorang. Semakin banyak mengetahui sesuatu ada kecenderungan seseorang merasa semakin tidak banyak tahu sehingga terus-menerus mencari tahu, antara lain lewat membaca. Semakin banyak tahu tentang sesuatu seseorang akan semakin luas referensinya sehingga akan semakin bijak dan semakin tepat dalam menentukan ataupun mengambil keputusan, meski tidak akan pernah sempurna.
Meskipun sebagai pihak kedua, membaca bisa pula ditampilkan sebagai suatu seni, dalam arti bisa dinikmati oleh pihak lain (ketiga). Dalam hal ini pembaca berfungsi sebagai mediator antara penulis (pihak pertama) dengan pendengar (pihak ketiga). Sebagai seorang mediator, pembaca harus mampu menyuarakan wacana yang dibacanya sesuai dengan kehendak atau maksud penulisnya. Tentu saja hal ini sangat dipengaruhi oleh penafsiran pembaca atas wacana tersebut, di samping juga faktor kemampuan praktik berbahasanya.
Faktor kemampuan berbahasa untuk membacakan karya orang lain di depan pihak ketiga antara lain dalam bentuk:

1. Teknik pengucapan, meliputi hal-hal:
1.1 Teknik menaikkan volume dan tinggi rendah nada;
1.2 Teknik menaikkan tempo bicara;
1.3 Teknik mengurangi volume, nada, dan tempo.
2. Teknik artikulasi
3. Teknik intonasi dan pungtuasi
4. Teknik aksentuasi dan jeda

Banyak orang sukses dalam kariernya karena kemampuan dan kemahirannya membacakan suatu informasi melalui media, misalnya radio, televisi, film, dan media lain. Hal ini dapat diperoleh oleh siapa pun, tidak mesti menunggu dewasa. Berapa gaji seorang Ira Kusno atau Desi Anwar tatkala membacakan berita. Begitu juga berapa honorarium yang diperoleh oleh Tantowi Yahya tatkala membawakan acara tingkat nasional? Berapa honor Thukul Arwana saat menjadi pengisi acara Empat Mata?

Banyak juga bermunculan tokoh-tokoh kecil yang karena kemampuan berbicaranya yang indah akhirnya memiliki jenjang karier yang baik: Si Entong, Memed, dan lain-lain. Semuanya dimulai dari niat dan tekad yang sejalan dengan keberanian untuk berbicara di depan umum. Mengatasi hal tersebut memberikan peluang untuk mengembangkan talenta berbahasa. Hampir semua pembawa acara yang baik (entertainer, MC, protokol) semuanya berangkat dari kemampuan lisan bahasanya.

Kemampuan membaca indah tentu saja tidak diperoleh dalam waktu sekejap keculai yang bersangkutan memiliki talenta yang baik. Namun, bukan berarti kita tidak bisa berlatih untuk memiliki keterampilan itu. Amat terbuka peluang bagi siapa pun untuk berlatih menggunakan bahasa lisan sebaik mungkin yang bisa memberikan tambahan penghasilan, bahkan jaminan masa depan.

Agustus 21, 2009 at 6:14 pm Tinggalkan komentar

MEMBACA CEPAT

SEKILAS PANDANG MEMBACA CEPAT

Budaya membaca amatlah berkaitan dengan taraf kesadaran masyarakat akan pentingnya ilmu pengetahuan. Mempunyai kebiasaan membaca amat menguntungkan pribadi seseorang dalam keluasan dan kedalaman pengetahuannya, terutama tentang hidup dan kehidupan. Tantowi Yahya, sang motivator, menyosialisasikan budaya membaca secara proaktif dalam nuansa persuasi. Maka, tentu saja kita tidak mau diklasifikasikan dalam konteks masyakarat yang memiliki taraf kebodohan tinggi. Dalam zaman seperti sekarang, konteks abad informasi, apabila membaca belum merupakan suatu kebudayaan dan semacam kebutuhan batin, tentu kemunduran dan ketertinggalan yang akan kita rasakan.

Konteks masyarakat kita belumlah mampu membaca dengan baik. Lebih parah lagi, masih sebagian kecil masyarakat komunitas kita masih belum melek huruf. Di sisi lain, masyarakat yang melek huruf pun belum bisa semuanya membaca dengan baik dan benar mengiringi waktu yang terus berputar. Nah, yang menjadi pemkiran, bagimanakah cara kita bisa melakukan kegiatan membaca dengan cepat sehingga dari semakin gencarnya bacaan melalui berbagai media akan kita lewati waktu hidup kita dengan demikian berarti bagi kita di kemudian hari.

Membaca cepat merupakan suatu keterampilan membaca yang dalam waktu seefektif mungkin dapat membaca sebanyak-banyaknya dengan memahami atau mengerti yang dibacanya. Membaca cepat merupakan suatu cara menggunakan berbagai bahan dokumen secara efektif dan cepat yang berkaitan dengan berbagai jenis informasi yang perlu dicerap dan direproduksi. Membaca cepat juga berkaiatan dengan teknik memusatkan perhatian terhadap yang dibutuhkan melalui wacana informasi bacaan.

Kemampuan membaca cepat sangat bergantung pada sikap antusiasame, kesiapan untuk membaca, berkali-kali mencoba teknik, berkeinginan memperbaiki, dan keyakinan bahwa kita akan dapat melakukan hal itu. Dalam sisi kebutuhan lapangan, entah untuk belajar atau bekerja atau kesenangan, membaca harus dilakukan dengan cepat.

Regresi tidak selalu diartikan membantu proses pemahaman. Membaca dapat dibuat menyegarkan dan bervariasi. Membaca sekilas dapat juga berarti membaca. Dokumen teknis juga dibaca dengan cepat. Anda tidak perlu mencoba untuk mengingat segala sesuatu yang telah Anda baca.

Penggunaan otak adalah kunci sukses cara membaca cepat dengan menggunakan teknik sebaik mungkin. Melalui suatu latihan yang sederhana, kita dapat menentukan kecepatan membaca dan daya pemahaman. Pemahaman bersifat subjektif dan kebiasaan buruk dapat diubah.

Membaca memang suatu sikap. Perlu pembenahan awal tekad dan kepercayaan diri untuk memperbaiki kemampuan membaca. Keinginan memperbaiki hanya akan timbul dari diri sendiri. Jika tidak dilakukan kita menyadari posisi sebagai anggota kelompok pembaca lambat. Makanya, kembali ke satu keharusan sikap diri, harus membaca. Suatu sikap percaya diri akan mewujudkan realita kemampuan membaca yang mengalami peningkatan.

Memang, membaca merupakan suatu sikap. Bagiamana kita mengatasi mitos membaca yang baik, menyenangkan serta cermat harus dilakukan secara lambat. Bila Anda gagal untuk memahami atau kehilangan konsentrasi, lakukanlah pembacaan ulang sesegera mungkin.

Memang membaca itu menjemukan. Membaca sekilas bukanlah membaca yang sebenarnya. Anda membutuhkan waktu yang panjang untuk membaca. Dokumen teknis tidak dapat dibaca dengan cepat. Dengan membaca cepat semuanya akan menjadi membosankan. Bila membaca, Anda perlu mengingat semuanya.

Otak dan membaca menang saling berkaitan. Bagiaman Anda membaca? Bagaimana kita memperkirakan kecepatan membaca. Pemahaman? Daftar periksa untuk mengenali kebiasaan buruk membaca? Tanggung jawabnya? Meminimalisasi kebiasaan buruk, membaca yang buruk, dan maksimalkan kebiasaan membaca yang positif.

Bagimana mengurangi subvokalisasi? Bagaimana mengurangi kebiasaan menunda atau interupsi? Bagiamana mengurangi stres? Bagaimana mengurangi dampak disleksia? Bagaimana meningkatkan konsentrasi? Bagaimana meningkatkan daya ingat dan panggil ulang? Bagaimana menggunakan pola panggil ulang?

Apakah membaca cepat bisa ditempuh melalui pendekatan langkah demi langkah? Bagaimana persiapan membacanya? Bagaimana kriteria kecepatan awal membaca? Motivasi apa yang sebaiknya kita bina?

Bagaimana kita memanfaatkan mata dan regresi? Bagaimana pandangan periferi? Bagaimana petunjuknya? Bagaimana mengenal irama? Bagaimana kita menciptakan kondisi yang baik? Apa perlu konsolidasi?

Apakah mata perlu diistirahatkan? Bagiamana cara memelihara kecepatan membaca? Prinsip perlu dikenal- diketahui, dipahami. Namun, tak hanya sebatas itu langkah kita. Kita berlatih menggunakan konsep yang baik dalam kegiatan kita sehari-hari, hingga akhirnya manfaatnya akan terasa di kemudian hari.

Agustus 21, 2009 at 6:08 pm Tinggalkan komentar

Berlatih Membuat Ringkasan Bacaan

Membaca merupakan suatu keterampilan yang benar-benar amat diperlukan oleh seseorang dalam pergaulan komunitas pembelajar. Sebagai suatu keterampilan berbahasa yang pasif-reseptif, keterampilan membaca memerlukan keterampilan berbahasa yang bersifat khas di antara keterampilan membaca lainnnya. Keterampilan membaca memerlukan kecerdikan dan kecerdasan tertentu sehingga setelah kegiatan tersebut selesai dilakukan kita memperoleh substansi gagasan yang disampaikan oleh penulis. Melalui keterampilan khusus ini waktu yang kita gunakan tidak akan terbuang sia-sia, melainkan amat diperlukan demi pengembangan wawasan dan kekayaan gagasan.
Salah satu lekuk liku keterampilan membaca yang amat diperlukan adalah kemampuan membuat ringkasan bacaan. Keterampilan ini amat diperlukan sebab perlu kita sadari bahwa barangkali gagasan yang ada dalam bacaan yang kita baca tidak semuanya sama penting. Secara urgen demi struktur tulisan, semua gagasan yang ada dalam wacana yang kit abaca relatif penting, meski di antara gagasan tersebut ada yang diposisikan sebagai gagasan utama dan gagasan penjelas, ada yang diposisikan sebagai sub-subtopik, serta ada gagasan yang menjadi pokok topik. Dengan demikian, akan terlihat melalui benak kita gagasan yang menjadi pokok batang pohon, dahan-dahan gagasan, ranting-ranting, serta dedaunan yang menghiasi kerimbunan wacana pohon tulisan yang disampaikan.
Seni menemukan sub-subtopik, dahan-dahan gagasan, serta reranting kalimat secara substansial hingga kita mampu memilah dan memilih inti wacana mrupakan suatu kegiatan tersendiri yang memerlukan pelatihan dan kecerdikan menentukan inti bacaan. Seni ini sering disebut membuat ringkasan. Sebuah wacana panjang dapat dibuat menjadi lebih pendek dengan cara membuatnya menjadi ringkasan. Tujuan pokok membuat ringkasan adalah mencatat hal-hal penting dari bacaan dan memahami isi bacaan. Kemudin menulis ringkasan bacaan berdasarkan catatan isi penting bacaan.
Sebelum meringkas, kita harus terlebih dahulu memahami isi bacaan dengan mencatat hal-hal penting (gagasan utama setiap paragraf) dari bacaan. Hal-hal penting tersebut dapat kita tulis kembali menjadi sebuah ringkasan. Ringkasan adalah penyajian secara singkat sebuah bacaan. Ada hal penting yang harus kita perhatikan ketika membuat ringkasan. Hal penting tersebut adalah urutan isi: meringkas dari bagian awal, tengah, dan akhir bacaan secara berurutan.
Langkah menyusun ringkasan dapat kita lakukan melalui pola:.
1. membaca dengan cermat untuk mendapat gambaran umum isi bacaan; Bila perlu, gagasan yang pokok atau kata kunci kita tandai dengan stabilo atau pena/pensil, misalnya digarisbawahi, terutama yang berhubungan dengan konsep utama dalam bentuk kata-kata kunci;
2. Bisa juga kita membuat catatan hal-hal penting dari bacaan; Dalam hal ini kita sekaligus berlatih membedakan gagasan pokok dan gagasan tambahan pada setiap paragraf;
3. Tahap berikutnya adalah menulis ringkasan berdasarkan hal-hal penting yang telah kita catat sesuai dengan kondisi asalnya;
4. Lalu kita harus berani menulis ringkasan berdasarkan kalimat sendiri, tanpa mengurangi substansi inti gagasan yang disampaikan. Konsep yang kita kemukakan sama seperti inti bacaan, namun kita kemukakan dengan bahasa kita sendiri. Ini amat penting manakala kita harus menyusun suatu tulisan yang dikonsumsikan pada komunitas tertentu.

Tujuanmu membaca sebuah bacaan adalah untuk memeroleh informasi. Informasi adalah sumber ilmu pengetahuan bagimu. Agar dapat memahami isi bacaan, kita terlebih dahulu menemukan hal-hal penting dari bacaan. Hal-hal penting yang kamu temukan dalam bacaan dapat dijadikan sebuah ringkasan. Menulis ringkasan dapat dijadikan latihan untuk menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan.
Berdasarkan hal itu tentu saja lama-kelamaan kita mampu menemukan hal-hal penting dari bacaan. Tentunya hal ini akan membawa kita tidak kebingungan memahami informasi ketika mendengar sebuah informsi secara lisan, alias kita harus menyimak. Kegiatan berlatih menyusun ringkasan akan mempertajam kemampuan menulis kita. Kita akan dituntut untuk berlatih menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan sendiri. Kegiatan tersebut sangat bermanfaat untuk mengasah keterampilan menulis.

Agustus 19, 2009 at 2:38 pm Tinggalkan komentar

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Agustus 19, 2009 at 1:49 pm Tinggalkan komentar


Kalender

Agustus 2009
S S R K J S M
    Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Posts by Month

Posts by Category


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.