Novel Kemarau: Keberanian A.A. Navis Berjuang Mengubah Paradigma yang Membiasa dalam Masyarakat Minangkabau

1. Deskripsi fisik buku

Judul : Kemarau
Pengarang : A.A. Navis
Kata Pengantar : Sapardi Djoko Damono
Penerbit, Kota : Grasindo, Jakarta
Tahun terbit : 2003
Cetakan ke- : 6 (enam)
Jumlah halaman : i-x; 117 halaman
Ukuran : 14 X 21 cm

2. Sinopsis

Musim kemarau yang melanda kali ini lebih panjang dari biasanya hingga merusak lahan pertanian dan tanamannya. Upaya dilakukan untuk mengatasi hal itu, bahkan pergi ke dukun untuk mendatangkan hujan. Nmaun, hasilnya tak berwujud. Penduduk daerah itu mulai putus asa dan mengisi waktunya dengan kegiatan yang tak produktif, seperti main domino, kartu lainnya, bahkan hanya ngobrol bersama.
Tatkala orang-orang berpangku tangan berserah pada nasib, Sutan Duano mengangkut air danau yang ada di daerah itu untuk menyiram sawahnya. Secara rutin kegiatan itu dilakukannya pada pagi dan sore hari. Ia memang bukanlah penduduk asli daerah tersebut, melainkan seorang pendatang baru, yang tak diketahui oleh orang-orang di daerah itu asal muasalnya. Wali Nagari atau kepala desa telah mengizinkan Sutan Duano menempati sebuah surau tua yang lapuk.
Saat Belanda mencoba menduduki kembali Indonesia, surau tempat tinggal Sutan Duano kedatangan seorang Haji Tumbijo, teman baik yang dikenalnya saat tinggal di kota. Ketika Haji Tuimbijo hendak kembali ke kota, ia berkata kepada Wali Nagari, “Ia sudah berubah. Ia akan menjadi orang yang berguna di sini” (Navis, 2003:4).
Situasi politik yang berkembang saat itu membuat orang berubah pola pikirnya. Mereka mulai berganti sudut pandang tentang hidup dan kesulitan kehidupan. Pola hidup lama berubah ke dalam kegiatan mengikuti kursus baca tulis, kursus lain, bahkan kursus politik. Di sisi lain seorang Sutan Duano juga memulai hidup barunya dengan kegiatan mengolah lahan pertanian yang tak terawat, memelihara ternak, bahkan membeli beruk untuk memanjat kelapa. Akibatnya, ketika orang mulai bosan dengan kegiatan kursus dan politiknya sementara kesulitan ekonomi terus menghadang, Sutan Duano telah menjadi seorang yang cukup berada di kampung itu dan akhirnya disegani oleh orang-orang sekitarnya.
Keseganan masyarakat sekitar bukan karena kekayaan Sutan Duano, melainkan karena kebaikan hatinya. Secara bertahap Sutan Duano bisa memimpin para petani untuk mengerjakan sawahnya, menghapus sistem ijon dan tengkulak, serta mendirikan koperasi. Hal itu memperkokoh kepercayaan masyarakat kepada Sutan Duano hingga akhirnya dia diberi kepercayaan untuk menggantikan guru agama yang baru saja meninggal dunia. Maka, suraunya mulai ramai dikunjungi orang untjuk mengikuti pengajiannya.
Langkah keberhasilan Sutan Dunao tersebut sesungguhnnya bermula dari Sutan Caniago, seorang petani yang hendak menjual padinya dengan sistem ijon karena butuh modal untuk berdagang di rantau. Ia berharap bisa mengubah nasibnya. ”Jangan bermain judi dengan nasib, Sutan,” kata Sutan Duano kepada lelaki itu. Sutan Duano juga menasihati lelaki itu membatalkan niatnya merantau ke kota. Di kota banyak godaan dan kemaksiatan. Kalau rajin, hidup di desa pun bisa membuat orang kaya dan berhasil. Namun, nasihat itu ditanggapi oleh Sutan Caniago sebagai penolakan permintaannya hingga membuatnya marah dan meningggalkan Sutan Duano.
Esok harinya Sutan Duano mendatangi Sutan Caniago, lantaran ia ingat nasihat Haji Tumbijo serta niatnya utnuk mengubah perilaku dan kebiasaan penduduk agar hidup mereka menjadi lebih baik. Diberikannnya uang kepada Sutan Caniago sebagaimana diinginkan, namun ia memberi syarat harus menyuratinya setiap bulan. Sutan Caniago mengikuti syarat itu hingga akhirnya ia mengucapkan terima kasih atas nasihat Sutan Duano di surau dulu. Pada surat keempat ditulisnya bahwa Sutan Duano hanya mengambil hasil panen sebanyak uang yang diterimanya dulu, tidak mengambil seluruh hasil panen sebagaimana pengijon lazimnya. Sikap Sutan Duano ini menggemparkan isi kampung dan membuat keberadaannya semakin berarti bagi masyarakat.
Sutan Duano juga mengajak penduduk bergotong royong menyiram sawah mereka dengan air danau yang terletak di pinggir kampung. Sutan Dunao mengajukan usul kepada Lembak Tuah, pemilik sawah terluas, serta Rajo Bodi, orang yang disegani. Namun, usulan itu ditolak dengan berbagai alasan. Mereka lebih senang pasrah kepada takdir yang diberikan Tuhan. Meskipun memiliki waktu dan tenaga untuk mengubah nasibnya, penduduk kampung lebih senang bermain kartu serta duduk-duduk ngobrol di lepau. Sutan Duano menyadari bahwa untuk mengubah kebiasaan dan pola pikir masyarakat diperlukan waktu dan proses yang panjang. Lantas Sutan Duano berniat memulai rencananya itu dari diri sendiri mengangkut air danau dan menyiran sawah miliknya.
Acin, seorang anak janda muda mendatangi Sutan Duano yang sedang beristirahat habis menyiram tanaman. Ditanyakan oleh Acin mengapa Sutan Duano melakukan hal itu. Sutan Duano mengatakan bahwa manusia harus bekerja keras untuk memperbaiki hidupnya. Anggapan masyarakat terhadap apa yuang dilakukan oleh Sutan Duano merupakan kesalahan berpikir. Maka, diajaklah Acin untuk melakukan hal yang sama.
Omongan dan tafsiran orang tentang apa yang dilakukan oleh Sutan Duano dan Acin beraneka ragam. Di lepau berkembang isu bahwa Sutan Duano ada maksud tertentu mendekati Acin kepada janda muda, ibunya, Gudam.. Gunjingan itu menghapus jejak langkah Sutan Duano yang baik selama ini. Di pinggir sungai tempat para wanita mandi berkembang gosip bahwa Sutan Duano memang mendekati Gudam, si janda muda itu, sebab ia belum memiliki istri.
Dalam suatu pengajian Sutan Duanio mengajak para ibu bergotong royong menyiram sawah mereka. Mayoritas mereka menolak dengan berbagai alasan dalam kaitannya dengan gudam, si janda muda. Si janda muda itu juga tidak datang dalam pengajian karena malu dengan gosip dirinya dan Sutan Duano. Sutan Duano marah mendengar hal itu. Namun, gosip itu berkembang menjadi fitnah. Gudam melarang Acin menyiran sawah serta menemui Sutan Duano. Ketidakdatangan Acin membuat kegiatan menyiram sawah Sutan Duano menjadi kacau. Sutan Duano sudah menganggap Acin sebagai pengganti anaknya yang hilang dua puluh tahun lalu. Sutan Duano merasa kesepian, apalagi ketika pengajian tidak satu ibu pun yang datang ke surau.
Acin pernah menanyakan isu itu kepada ibunya, tapi dijawab bahwa hal itu hanyalah sebagai kata-kata jahat. Namun, isu berkembang terus hingga si Acin pernah ditemui oleh Saniah, janda yang menginginkan Sutan Duano. Acin menjawab benar isu tersebut. Hati kecilnya menginginkan hal itu. Saniah menjadi cemburu hingga berpikir untuk membuat fitnah. Diberitakannnya kepada Acin bahwa Gudam telah pernah tidur dengan Sutan Duano yang masuk lewat jendela. Acin berubah pikiran hingga benci kepada Sutan Duano.
Di surau, Kutar menemukan dan membaca surat yang dikirim Masri berisi Sutan Duano agar ke Surabaya. Masri merupakan anak Sutan Duano yang hilang dua puluh tahun yang lalu. Kutar menceritakan hal itu kepada Acin hingga membuatnya cemas. Acin memberanikan diri bertanya kepada Sutan Duano perihal itu dan dijawabnya akan pergi setelah musim panen. Hal itu membuat Acin ingin agar ia diajak pergi, bukan Kutar. Ditanyakan pula isu yang diucapkan Saniah tentang Sutan Duano dan ibunya. Sutan Duano berhasil meyakinkan Acin bahwa hal itu tidak benar.
Berita rencana kepergian Sutan Duano cepat menyebar. Kutar memberitahukannya kepada semua orang. Oleh sebab itu, masyarakat menginginkan acara perpisahan sebagai tanda persahabatan dengan orang yang banyak menolong namun belum sempat ada balas budinya.
Di surau, Sutan Duano membaca kembali surat kiriman Masri itu. Hal itu membuatnya teringat masa lalu. Memang ia ingat setelah kematian ibunya Masri, istrinya, berkali-kali ia mencari penggantinya, namun berakhir dengan perceraian. Salah satunya, Iyah namanya, diceraikan tatkala sedang hamil. Pengalaman kawin cerai itu membuatnya mengambil pelampiasan kesepiannya berkencan dengan wanita malam. Masri yang tumbuh remaja mengetahui hal itu sehingga ia marah. Hal itu membuat Sutan Duano bingung. Ia mengadukan kesepian dengan perbuatannya.
Sutan Duano sempat dipenjara karena keributannya dengan teman kencan. Hal ini membuat Masri kabur tak tentu jejak langkahnya. Keluar dari penjara selama tiga tahun, Sutan Duano menjadi kesepian. Anak satu-satunya pergi tanpa jejak hingga membuat Sutan Duano semakin tak karuan arah hidupnya. Mabuk-mabukan merupakan pelariannya. Ia terus berusaha mencari Masri, namun tak menemukan jejak kakinya.
Suatu hari datanglah Haji Tumbijo, kakak iparnya, menasihatinya:
”Carilah ia dalam hatimu, seperti kau mencari Tuhan, mencari kebenaran. Carilah dengan pahala-pahala dan kebaikan. Kalau telah dapat itu, telah dapat pahala dan kebaikan, engkau sudah menemui Tuhan. Sudah menemui kebenaran. Dan di situlah Masri berada,” katanya (Navis, 1977:69).
Kata-kata Haji Tumbijo itu menyentuh hati Sutan Duano. Maka, ia berusaha mengubah jalan hidupnya ke arah kebenaran serta berusaha menolong orang lain. Ia berharap bahwa pola itu dapat memupus kesalahan dan dosa masa lalunya. Maka, kehadiran Acin dalam waktu hidupnya mengingatkannya pada Masri hingga disayanginya. Terlintas dalam benaknya untuk menikah, tetapi kegagalan perkawinan kembali menghatuinya.
Hal itu nampak tatkala Acin dan Gudam datang ke surau. Gudam meminta Sutan Duano menjadi ayah bagi anak-anaknya. Sutan mengatakan bahwa ia harus meninggalkan kampung tersbeut sebab harus menemui Masri yang telah lama tak bertemu. Sutan tak memberi batas waktu kapan akan kembali hingga jawaban itu dianggap sebagai penolakan oleh Gudam.
Beberapa orang menemui Sutan Duano di surau dan menanyakan langsung kepadanya perihal kabar rencana kepergiannya ke Surabaya. Banyak di antaranya yang merasa berutang budi pada Sutan Duano sebab upaya pengairan sawah oleh Sutan Duano banyak memberikan manfaat bagi kaum petani kampung itu. Mereka juga masih memerlukan gagasan Sutan Duano untuk kehidupan mereka dan meminta agar Sutan Duano tidak meninggalkan kampung mereka.
Sutan Duano memenuhi permintaan mereka. Kepergian Sutan Duano hanyalah menemui Masri, setelah itu kembali lagi ke kampung mereka. Ada surat dari mertua Masri yang sampai kepadanya bahwa Sutan Duano tak perlu ke Surabaya sebab kedatangannya justru akan merusak kebahagiaan keluarga Masri.
Tatkala musim panen semakin mendekat, tiba-tiba datanglah pianggang (hama walang sangit) menyerang. Hal ini membuat Sutan Duano merasa mendapat cobaan baru. Maka disemprotlah sawahnya dengan antiserangga. Tetapi tiba-tiba kabar tak mengenakkan datang lagi, Acin sakit. Luka karena menyepak tahi kuda tatkala kesal dengan isu tingkah Sutan Duano tidur bersama ibunya membuatnya terkena tetanus. Kesulitan keuangan Gudam, ibu Acin, yang tak dibantu keluarganya untuk mengobatkan Acin ke Bukittingi akhirnya diatasi oleh Sutan Duano dengan janji bahwa Acin adalah anaknya juga. Sutan Duano dan Gudam akhirnya tumbuh cinta. Hal ini membuat Saniah cemburu dan memasang guna-guna di rumah Gudam yang sempat terlihat oleh Sutan Duano.
Tatkala Gudam mengadakan syukuran atas kesembuhan Acin di rumahnya, Sutan Duano tak bersedia datang dengan alasan tak menyenangi pesta yang hanya untuk orang kaya. Gudam mendatangi Sutan Duano ke suraunya, tapi tetap tidak mau datang. Gudam merasa malu. Pulanglah dengan segera Gudam ke rumahnya. Di jalan gudam bertemu dengan Saniah yang menantangnya diiringi fitnah bahwa Gudam telah membayar utang kepada Sutan Duano dengan menjual dirinya. Maka, terjadilah perkelahian yang melibatkan keluarga kedua pihak hingga harus diakhiri oleh Wali Nagari. Rapat yang dipimpin oleh Wali Nagari itu sulit mncapai kata sepakat. Meski Wali Nagari berusaha membela Sutan Duano, rapat akhirnya memutuskan mengusir Sutan Duano dari kampung itu. Wali Nagari ditugasi oleh warga untuk menyampaikan putusan rapat.
Akhirnya Wali Nagari dibantu oleh tokoh masyarakat mendatangi Sutan Dunao. Putusan rapat disampaikannya dengan berat hati. Sutan dengan keikhlasan menerima, dan mengatakan bahwa semua harta yang diperoleh dari kampung itu ditinggalkan dan piutangnya diserahkan kepada koperasi untuk menambah modal. Sutan Duano hanya memohon untuk bertemu dengan Acin sebelum ia berangkat, tetapi Gudam tidak mengizinkannya. Sutan Duano menyerahkan suat wasiatnya seluruh hartanya kepada Acin.
Pergilah Sutan Duano meningalkan kampung itu menuju Surabaya. Ia langsung menuju ke rumah Masri. Ia malah bertemu dengan Iyah, istrinya dulu, yang ternyata adalah ibu Arni, istri Masri. Lebih tak disangkanya, ternyata Arni adalah anak kandungnya juga. Maka, terbongkarlah silsilah bahwa Masri dan Arni adalah kakak beradik, meski lain ibu. Hal itu sengaja tak diberitahukan oleh Iyah. Iyah tidak ingin merusak kebahagiaan mereka berdua. Tetapi, Sutan Duano bersikeras memberitahukan hal terlarang itu kepada anaknya.
Kedua orang tua itu bersitegang dengan pendapat masing-masing. Iyah yang merasa sakit hatinya lantas memukul Sutan Duano dengan kayu hingga pingsan dan berdarah. Datanglah Masri dan Asri yang kaget dengan peristiwa itu. Diceritakanlah oleh Iyah apa yang terjadi hingga ia tak kuat menahan diri, lalu pingsan. Bertahun-tahun kemudian Iah meninggal di rumah sakit, tak lama setelah mebuka rahasia perkawinan Masri dan Arni.
Masri dan Arni menyadari perkawian mereka dilarang agama. Maka, mereka berpisah. Tak lama kemudian Arni kemudian menikah dengan anak Haji Tumbijo, sedangkan Masri menikahi teman sekerjanya. Sutan Dunao pun kembali ke desa tepi danau, hidup rukun dengan Gudam beserta anak-anaknya, Acin dan Amah. Perjuangan Sutan Duano belum selesai sebab alam pikiran warga kampung telah membeku. Hidup berjuang dengan keikhlasan adalah jalan untuk menemui Tuhan Yang Maha Esa. Demikian A.A. Navis mengakhiri novelnya.

3. Latar Belakang Masalah
Haji Ali Akbar Navis, lebih dikenal dengan nama AA Navis, yang di kalangan sastrawan digelari sebagai kepala pencemooh. Ia salah seorang sastrawan dan budayawan terkemuka di Indonesia. Gelar yang lebih menggambarkan kekuatan satiris tidak mau dikalahkan sistem dari luar dirinya. Sosoknya menjadi simbol energi sastrawan yang menjadikan menulis sebagai alat dalam kehidupannya.
Indonesia kehilangan sastrawan fenomenal. Sang Pencemooh kelahiran Kampung Jawa, Padangpanjang, 17 November 1924, ini adalah salah seorang tokoh yang ceplas-ceplos, apa adanya. Kritik-kritik sosialnya mengalir apa adanya untuk membangunkan kesadaran setiap pribadi agar hidup lebih bermakna. Ia selalu mengatakan yang hitam itu hitam dan yang putih itu putih. Ia amat gelisah melihat negeri ini digerogoti para kopruptor. Maka pada suatu kesempatan ia mengatakan kendati menulis adalah alat utamanya dalam kehidupan tapi jika dikasih memilih ia akan pilih jadi penguasa untuk menangkapi para koruptor. Walaupun ia tahu risikonya, mungkin dalam tiga bulan, ia justeru akan duluan ditembak mati oleh para koruptor itu.
Nama pria Minang yang untuk terkenal tidak harus merantau secara fisik, ini menjulang dalam sastra Indonesia sejak cerpennya yang fenomenal Robohnya Surau Kami terpilih menjadi satu dari tiga cerpen terbaik majalah sastra Kisah tahun 1955. Sebuah cerpen yang dinilai sangat berani. Kisah yang menjungkirbalikkan logika awam tentang bagaimana seorang alim justru dimasukkan ke dalam neraka. Karena dengan kealimannya, orang itu melalaikan pekerjaan dunia sehingga tetap menjadi miskin.
Ia seorang seniman yang perspektif pemikirannya jauh ke depan. Karyanya Robohnya Surau Kami, juga mencerminkan perspektif pemikiran ini. Yang roboh itu bukan dalam pengertian fisik, tapi tata nilai. Hal yang terjadi saat ini di negeri ini. Ia memang sosok budayawan besar, kreatif, produktif, konsisten dan jujur pada dirinya sendiri.
Sepanjang hidupnya, ia telah melahirkan sejumlah karya monumental dalam lingkup kebudayaan dan kesenian. Ia bahkan telah menjadi guru bagi bamyak sastrawan. Ia seorang sastrawan intelektual yang telah banyak menyampaikan pemikiran-pemikiran di pentas nasional dan internasional. Ia banyak menulis berbagai hal. Walaupun karya sastralah yang paling banyak digelutinya. Karyanya sudah ratusan, mulai dari cerpen, novel, puisi, cerita anak-anak, sandiwara radio, esai mengenai masalah sosial budaya, hingga penulisan otobiografi dan biografi.
Ia yang mengaku mulai menulis sejak tahun 1950, namun hasil karyanya baru mendapat perhatian dari pimpinan media cetak sekitar 1955, itu telah menghasilkan sebanyak 65 karya sastra dalam berbagai bentuk. Ia telah menulis 22 buku, ditambah lima antologi bersama sastrawan lainnya dan delapan antologi luar negeri serta 106 makalah yang ditulisnya untuk berbagai kegiatan akademis di dalam maupun di luar negeri dan dihimpun dalam buku ‘Yang Berjalan Sepanjang Jalan’. Novel terbarunya, Saraswati, diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2002.
Beberapa karyanya yang amat terkenal, selain Robohnya Surau Kami (1955) Bianglala (1963), Hujan Panas (1964); Kemarau (1967), Saraswati, si Gadis dalam Sunyi, (1970), Dermaga dengan Empat Sekoci, (1975), Di Lintasan Mendung (1983), Dialektika Minangkabau (editor 1983), Alam Terkembang Jadi Guru (1984), Hujan Panas dan Kabut Musim (1990), Cerita Rakyat Sumbar (1994), dan Jodoh (1998).
Ia seorang penulis yang tak pernah merasa tua. Pada usia gaek ia masih saja menulis. Buku terakhirnya, berjudul Jodoh, diterbitkan oleh Grasindo, Jakarta atas kerjasama Yayasan Adikarya Ikapi dan The Ford Foundation, sebagai kado ulang tahun pada saat usianya genap 75 tahun. Cerpenis gaek dari Padang, A.A. Navis pada 17 November lalu genap berusia 75 tahun. Jodoh berisi sepuluh buah cerpen yang ditulisnya sendiri, yakni Jodoh (cerpen pemenang pertama sayembara Kincir Emas Radio Nederland Wereldemroep 1975), Cerita 3 Malam, Kisah Seorang Hero, Cina Buta, Perebutan, Kawin (cerpen pemenang majalah Femina 1979), Kisah Seorang Pengantin, Maria, Nora dan Ibu. Ada yang ditulis tahun 1990-an ada yang ditulis tahun 1950-an.
Menulis bukanlah pekerjaan mudah, namun memerlukan energi pemikiran serius dan santai. ”Tidak semua gagasan dan ide dapat diimplementasikan dalam sebuah tulisan, dan bahkan terkadang memerlukan waktu 20 tahun untuk melahirkan sebuah tulisan. Kendati demikian, ada juga tulisan yang dapat diselesaikan dalam waktu sehari saja. Namun, semua itu harus dilaksanakan dengan tekun tanpa harus putus asa. Saya merasa tidak pernah tua dalam menulis segala sesuatu termasuk cerpen,” katanya dalam suatu diskusi di Jakarta, dua tahun lalu.
Kiat menulis itu, menurutnya, adalah aktivitas menulis itu terus dilakukan, karena menulis itu sendiri harus dijadikan kebiasaan dan kebutuhan dalam kehidupan. Ia sendiri memang terus menulis, sepanjang hidup, sampai tua. Mengapa? ”Soalnya, senjata saya hanya menulis,” katanya. Baginya menulis adalah salah satu alat dalam kehidupannya. ”Menulis itu alat, bukan pula alat pokok untuk mencetuskan ideologi saya. Jadi waktu ada mood menulis novel, menulis novel. Ada mood menulis cerpen, ya menulis cerpen,” katanya seperti dikutip Kompas. Minggu, 7 Desember 1997.
Dalam setiap tulisan, menurutnya, permasalahan yang dijadikan topik pembahasan harus diketengahkan dengan bahasa menarik dan pemilihan kata selektif, sehingga pembaca tertarik untuk membacanya. Selain itu, persoalan yang tidak kalah pentingnya bagi seorang penulis adalah bahwa penulis dan pembaca memiliki pengetahuan yang tidak berbeda. Jadi pembaca atau calon pembaca yang menjadi sasaran penulis, bukan kelompok orang yang bodoh.
Ia juga menyinggung tentang karya sastra yang baik. Yang terpenting bagi seorang sastrawan, menurutnya, karyanya awet atau tidak? Ada karya yang bagus, tapi seperti kereta api; lewat saja. Itu banyak dan di mana-mana terjadi. Ia sendiri mengaku menulis dengan satu visi. Ia bukan mencari ketenaran.
Dalam konteks ini, ia amat merisaukan pendidikan nasional saat ini. Dari SD sampai perguruan tinggi orang hanya boleh menerima, tidak diajarkan orang mengemukakan pikiran. Anak-anak tidak diajarkan pandai menulis oleh karena menulis itu membuka pikiran. Anak-anak tidak diajarkan membaca karena membaca itu memberikan anak-anak perbandingan-perbandingan. Di perguruan tinggi orang tidak pandai membaca, orang tidak pandai menulis, jadi terjadi pembodohan terhadap generasi-generasi akibat dari kekuasaan.
Jadi, menurutnya, model pendidikan sastra atau mengarang di Indonesia sekarang merupakan strategi atau pembodohan, agar orang tidak kritis. Maka, ia berharap, strategi pembodohan ini harus dilawan, harus diperbaiki. “Tapi saya pikir itu kebodohan. Orang Indonesia tidak punya strategi. Strategi ekonomi Indonesia itu apa? Strategi politik orang Indonesia itu apa? Strategi pendidikan orang Indonesia itu apa? Strategi kebudayaan orang Indonesia itu apa? Mau dijadikan apa bangsa kita? Kita tidak punya strategi. Oleh karena itu kita ajak mereka supaya tidak bodoh lagi,” katanya.
Maka, andai ia berkesempatan jadi menteri, ia akan memfungsikan sastra. ”Sekarang sastra itu fungsinya apa?” tanyanya lirih. Pelajaran sastra adalah pelajaran orang berpikir kritis. Orang berpikir kritis dan orang memahami konsep-konsep hidup. Kita baca, karya mana saja yang baik, itu berarti menyuruh orang berpikir berbuat betul. Lalu karya-karya itu konsepnya yang jahat lawan yang buruk. Dalam karya sastra bisa terjadi yang jahat itu yang dimenangkan, tapi bukan artinya sastra memuja yang jahat. Banyak karya-karya sastra di Indonesia menceritakan hal-hal orang-orang munafik. Diajarkan itu ke anak-anak tentang orang munafik di tengah masyarakat kita yang banyak munafik. Anak-anak kan jadi tajam. Oleh karena itu pemerintah tampaknya tidak mengajarkan sastra supaya orang tidak melihat orang-orang yang munafik, umpamanya.
Ia juga melihat perkembangan sastra di Indonesia lagi macet. Dulu si pengarang itu, ketika duduk di SMP dan SMA sudah menjadi pengarang. ”Saya kira tak ada karya pengarang sekarang yang monumental, yang aneh memang banyak,” ujarnya.
Perihal orang Minang, dirinya sendiri, ia mengatakan keterlaluan kalau ada yang mengatakan orang Minang itu pelit. Yang benar, penuh perhitungan. Ia mengatakan sangat tak tepat mengatakan orang Minang itu licik. Yang benar galia (galir), ibarat pepatah tahimpik nak di ateh, takuruang nak di lua (terhimpit maunya di atas, terkurung maunya di luar). Itulah AA Navis Sang Kepala Pencemooh.
Istilah sastra dapat ditemukan dalam berbagai konteks pernyataan yang berbeda satu sama lain. Maksudnya, sastra bukanlah sekadar istilah guna mengemukakan feomena yang sederhana atau gamblang, melainkan sastra memiliki arti luas dalam rangkaian yang berbeda.
Secara signifikan, untuk memahami karya sastra secara lebih mendalam diperlukan tiga dorongan yang mendasari kehidupan manusia yang menjadi pusat perhatian kegiatan penulisan sastra sejak awal zaman hingga sekarang, yaitu dorongan religius, sosial, dan personal. Religiusitas sastra nampak dalam kehidupan kebaktian beragama berdasarkan isnpirasi ajaran agama yang mencerminkan persepsi manusia sebagai `ciptaan`, keterlibatannya, serta sikap dan pandangan terhadap ciptaan itu. Dorongan sosial berhubungan erat dengn tingkah laku dan hubungan antarindividu dalam komunitasnya. Di dalamnya, dorongan sosial tersebut menghasilkan karya-karya sastra yang bernuansa nilai-nilai hakikat hidup dan khidupan serta problema manusia di dalamnya. Dorongan personal mengarah pada penjelajahan pribadi hingga muncullah biografi atau otobiografi, bahkan penulis berusaha menjelajahi sisi pribadi dan kadang ingin mengubah alam kesadaran manusia. Karya sastra seringkali mengngkapkan keprihatinan penulis terhadap hakikat nilai-nilai dalam kaitannya dengan eksistensi manusia.
Novel Kemarau merupakan karya sastra yang secara historis muncul dalam bentuk cerita bersambung yang dimuat dalam Harian Res Publica, Padang, tahun 1964. Oleh Penerbit Nusantara, Bukittinggi, karya tersebut diterbitkan dalam bentuk novel, yang kemudian diolah lagi oleh Penerbit Dunia Pustaka Jaya, Jakarta, tahun 1997, dan mulai tahun 1992 diolah oleh Penerbit Grasindo, Jakarta.
Novel Kemarau banyak dibicarakan oleh para kritikus dari berbagai sudut pandang. Masalah yang diungkapkan dalam novel ini selalu menarik dan layak bahas hingga kini. Gaya penyampaian pengarang memberikan kesan tersendiri, ada yang menganggapnya satiris berdasarkan pengalaman dan pengamatannya terhadap kehidupan manusia dan lingkungannya. Tokoh cerita digunakan oleh pengarang untuk mengungkapkan sikap dan perjuangan yang perlu dilakukan untuk mengubah paradigma yang mengikat dan telah membiasa dalam pikiran, perkataan, dan perilaku perbuatan.

4. Tinjauan pustaka

Sastra merupakan pencerminan masyarakat. Melalui karya sastra, seorang pengarang mengungkapkan problema kehidupan yang pengarang sendiri ikut berada di dalamnya. Karya sastra menerima pengaruh dari masyarakat dan sekaligus mampu memberi pengaruh terhadap masyarakat. Bahkan seringkali masyarakat sangat menentukan nilai karya sastra yang hidup di suatu zaman, sementara sastrawan sendiri adalah anggota masyarakat yang terikat status sosial tertentu dan tidak dapat mengelak dari adanya pengaruh yang diterimanya dari lingkungan yang membesarkan sekaligus membentuknya. Rene Wellek dan Austin Warren membahas hubungan sastra dan masyarakat sebagai berikut:

Literature is a social institution, using as its medium language, a social creation. They are conventions and norm which could have arisen only in society. But, furthermore, literature ‘represent’ ‘life’; and ‘life’ is, in large measure, a social reality, eventhough the natural world and the inner or subjective world of the individual have also been objects of literary ‘imitation’. The poet himself is a member of society, possesed of a specific social status; he recieves some degree of social recognition and reward; he addresses an audience, however hypothetical. (1956:94)

Senada dengan pernyataan di atas, Damono dikutip Wahyudi Siswanto (2008) dalam Pengantar Teori Sastra mengungkapkan bahwa sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial. Dalam pengertian ini, kehidupan mencakup hubungan antarmasyarakat, antarmasyarakat dengan orang-seorang, antarmanusia, dan antarperistiwa yang terjadi dalam batin seseorang Bagaimanapun, peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam batin seseorang yang sering menjadi bahan sastra adalah pantulan hubungan seseorang dengan orang lain atau dengan masyarakat dan menumbuhkan sikap sosial tertentu atau bahkan untuk mencetuskan peristiwa sosial tertentu.
Pendekatan terhadap sastra yang mempertimbangkan segi-segi kemasyarakatan itu disebut sosiologi sastra dengan menggunakan analisis teks untuk mengetahiu strukturnya, untuk kemudian dipergunakan memahami lebih dalam lagi gejala sosial yang di luar sastra.
Sastra juga berurusan dengan manusia dalam masyarakat sebagai usaha manusia untuk menyesuakan diri dan usahanya untuk mengubah masyarakat itu. Dengan demikian, novel dapat dianggap sebagai usaha untuk menciptakan kembali dunia sosial yaitu hubungan manusia dengan keluarga, lingkungan, politik, negara, ekonomi, dan sebagainya. Dapat disimpulkan bahwa sosiologi dapat memberi penjelasan yang bermanfaat tentang sastra, dan bahkan dapat dikatakan bahwa tanpa sosiologi, pemahaman kita tentang sastra belum lengkap. Tujuan studi sosiologis dalam kesusastraan adalah untuk mendapatkan gambaran utuh mengenai hubungan antara pengarang, karya sastra, dan masyarakat.
Pendekatan sosiologi sastra yang paling banyak dilakukan saat ini menaruh perhatian yang besar terhadap aspek dokumenter sastra dan landasannya adalah gagasan bahwa sastra merupakan cermin zamannya. Pandangan tersebut beranggapan bahwa sastra merupakan cermin langsung dari berbagai segi struktur sosial hubungan kekeluargaan, pertentangan kelas, dan lain-lain. Dalam hal itu tugas sosiologi sastra adalah mengubungkan pengalaman tokoh-tokoh khayal dan situasi ciptaan pengarang itu dengan keadaan sejarah yang merupakan asal usulnya. Tema dan gaya yang ada dalam karya sastra yang bersifat pribadi itu harus diubah menjadi hal-hal yang bersifat sosial.
Di sisi lain, sastra sebagai suatu alat dapat memberikan perjuangan pada kepentingan tertentu, misalnya untuk mendidik dan mengubah masyarakat pembacanya. Di samping juga mencerminkan kenyataan, sastra mampu `mengubah kenyataan` -meski tidak langsung- sehingga dapat membuka mata masyarakat terhadap ketidakberesan apa pun, kebobrokan moral, bahkan kebejatan mentalitas yang terjadi dalam masyarakat.

5. Penerapan

Novel Kemarau dikemas dalam 20 bab oleh pengarangnya, diakhiri dengan bagian penutup. Sayangnya tidak ada bagian pendahuluan secara eksplisit, meskipun hal yang dimaksud sama dengan Bab 1 dalam novel itu.
Kondisi masyarakat yang masih tradisonal dan memegang keyakinan di luar ajaran agama terlihat dalam Bab 1 tatkala pengarang membuat deskripsi latar cerita awal.

”Dan setelah tanah sawah mulai merekah, mulailah mereka berpikir. Ada beberapa orang pergi ke dukun, dukun yang terkenal bisa menangkis dan menurunkan hujan, Tapi dukun itu tak juga bisa berbuat apa-apa setelah setumpuk sabut kelapa dipanggangnya bersama sekepal kemenyan. Hanya asap tebal yang mengepul di sekitar rumah dukun itu terbang ke sawang bersama manteranya. … Mereka pergilah setiap malam ke mesjid mengadakan ratib, mengadakan sembahyang kaul meminta hujan. Tapi hujan tak kunjung turun juga.”

(Navis, 2003: 1).

Sutan Duano dikisahkan sebagai tokoh yang mempunyai niat dan semangat untuk mengubah kerangka berpikir warga kampung sekitar tempat tinggalnya. Ia berjuang di tengah masyarakatnya untuk megubah watak masyarakat yang terbiasa menyerah pada takdir daripada bekerja keras `melawan nasib` guna memperbaiki kehidupannya.

”Hanya seorang petani saja berbuat lain. Ia seorang laki-laki sekitar 50 tahun. Badannya kekar dan tampang orangnya bersegi empat bagai kotak dengan kulitnya yang hitam oleh bakaran matahari. Pada ketika bendar-bendar tak mengalir lagi, sawah-sawah mulai kering matahari masih bersinar maraknya tanpa gangguan awan sebondong pun, diambilnya sekerat bambu. Lalu disandangnya di kedua ujung bambu itu. Dan dua belek minyak tanah dan digantungkannya di kedua ujung bambu itu. Diambilnya air ke danau dan ditumpahkannya ke sawahnya. Ia mulai dari subuh dan berhenti pada jam sembilan pagi. Lalu dimulainya lagi sesudah asar, dan berhenti waktu magrib hapmpir tiba. Dan beberapa kali mengangkut tak dilupakannya mengisi kedua kolam ikannya. Untungnya sawahnya yang luas itu tidak begitu jauh dari tepi danau. Laki-laki itu bernama Sutan Duano.”
(Navis, 2003:1-2).

Pengarang menggunakan Sutan Duano sebagai profil ideal gambaran pribadi yang mempunyai niat dan semangat mengubah hidupnya di tengah lingkungan dan zaman yang tak bersahabat. Kerajinannya bekerja secara rutin dan teratur dengan memiliki agenda kegiatan dan jadwal yang tersusun dalam pikiran dan pola kebiasaan hidupnya terungkap dalam diri tokoh Sutan Duano meski hal itu sering tidak sejalan dengan keadaan lingkungan sosialnya. Misalnya ketika dia mempunyai idealisme mendidik hidup sehat.

”Kolam ikan yang kecil diperbaikinya. Disemainya anak ikan di dalamnya, lalu dibuatnya pula sebuah kakus umum di teopib kolan itu agar orang berak di sana dan ikannya mendapat makan. Dan sebidang tanah yang berbatu-batu di kaki bukit, di mana sebelumnya tak seorang pun berselera mengolahnya meski musim lapar itu, dimintanya untu dikerjakan.”

(Navis, 2003: 3)

Sikap dan perjuangan Sutan Duano sebenarnya merupakan cara pengarang mendidik masyarakat agar mengubah budaya perilaku yang tidak produktif sesuai dengan tuntutan zaman. Birokrasi yang membudaya dalam adat Wali nagari yang egois untuk kepentingan nafsu diri harus diatasi oleh Sutan Duano.

”Di waktu itulah Sutan Dunao memulai suatu kehidupan baru. Beberapa bidang sawah yang terlantar diminta izin pada yang punya untuk dikerjakan. Sapi-sapi yang tak terrgembalakan lagi ditampungnya dengan perjanjian sedua.”
(Navis, 2003: 5)

Sikap dan perbuatan yang semula mendapat cacian dan hinaan akhirnya membawa hasil yang positif sehingga masyarakat pelan-pelan mengakuinya. Sutan Duano juga digunakan oleh pengarang untuk mengubah sistem pinjam-meminjam uang serta budaya yang tak baik.
”Tapi Sutan Duano sudah termasuk jadi orang yang berada di kalangan rakyat di kampung itu. … Karenanya ia sudah menjadi orang yang berarti dan disegani oleh semua orang. Tapi bukan karena kayanya. Melainkan karena kebaikan hatinya, dipercaya, dan suka menolong setiap orang yang kesulitan. Lambat-lambat ia jadi pemimopin di kalangan petani untuk mengerjakan sawah. … Sistem ijon diusahakannya melenyapkannya dengan meminjamkan uangnya sendiri tanpa bunga.”

(Navis, 2003: 6)

Sutan Duano juga digunakan oleh A.A. navis untuk mendidik masyarakjat agar jangan suka mengadu nasib ke daerah lain-kota dengan budayanta meminjam untuk modal usahanya.

”Sebulan setelah lamanya laki-laki itu di rantau, datangklah suratnya yang mengatakan ia telah memulai kelilingh, berdagang baju konveksi. … Akhirnya, pada surat yang keempat, dikatakannya bahwa ia mertasa sangat terharu karena Sutan Duano telah mengembalikan hasil padinya yang dijualnya dengan hanya memotong seharga uang yang diberikannya dulu.”
(Navis, 2003: 12)

Niat Sutan Duano begitu besar untuk mengubah plola hidup masyarakat memang banyak mengalami hambatan, baik dari Wali Negeri, tokoh masyarakat, orang terrkaya, tokoh petani. Tetapi niat besar tersebut tidak menyusut.

”Yang dimauinya ialah hendak mengubah cara hidup orang di kampung itu. Mereka terlalu banyak membuang waktu. Lalai bila mereka menganggap pekerjaan telah habis. Sedang sebenarnya meereka itu adalah bangsa yang ulet dan rajin. Ia selalu melihat betapa rajinmnya mereka bila musim ke sawah tiba. …Tetapi… tak tentu lagi apa yang mereka perbuat. Mereka akan mengabiskan waktunya di kedai kopi, nongkrong atau main domino. Menurut pendapat Sutan Duano, bagi mereka itu harus dicarikan pekerjaan. Asal ada pekerjaan yang tersedia, tentulah mereka akan mau mengerjakannya. Mengubah pekerjaan bukanlah kebiasaan mereka. … Mereka tidak bercita-cita mengubah hidup ke arah yang lebih tinggi… satu-satunya jalan bagi Sutan Duano ialah memberi contoh bagaimana mernjadi petani yang baik.”
(Navis, 2003: 17)

Kesabaran dan ketabahan hati Sutan Duano amat teruji dan terukur dengan berbagai peristiwa yang dialaminya, baik pergunjingan, reaksi orang lain atas kebijakannya, maupun aksi sebagian orang. Kebimbangan kadang muncul dalam benaknya.

”`Bagaimana lagi cara aku mengubah jalan pkikiran orang di sini? Berapa lama aku dapat mengubahnya? Namun, niatnya demikian kuat dengan langkah-langkah yang mapan,` katanya. … `Agaknya ambisiku terlalu besar. Hatiku jadi sakit kalau gagal. Tetapi apakah ancaman kemarau ini tidak mamou membukakan mata mereka itu?`”
(Navis, 2003: 35)

”Tapi mengapa begitu? pikirnya kemudian. Apakah ini bukan suatu isyarat dari Tuhan bagiku? Tapi buat apa? Apakah hidupku di sini tak diridai-Nya? Tentu ada apa-apanya. Kalau tidak, tidak akan begini jadinya. Mungjkin juga aku disuruh pergi dari kamopung ini. Oleh penduduk di sini? Oh, tidak mungkin. Jadi, olerh siapa?”

(Navis, 2003: 45)

Cobaan dan hinaan yang kadang terencana oleh pihak tertentu sering membuat Sutan Duano juga berlatih kesabaran lebih jauh serta ketabahan dan kedewasaan bertindak.

“`Bapak naik jendela Mak malam-malam. Etek Saniah bilang,` kata Acin menantang.
Terengah Sutan Duano mendengar kata anak itu. Ia tidak marah. Tidak pula mencoba meyakinkan Acin. Ia hanya terpulun oleh pikirannya sendiri. Dari mana anak itu bisa berpikir seburuk itu. Dan mengapa Saniah sampai berani berkata yang tidak-tidak. Apa maksud perempuan itu sebenarnya? Ia tak dapat memahami fitnah yang dilontarkan perempuan itu. Akirnya dilemparkannya pikirannya dari perempuan itu.”

(Navis, 2003: 55)

Sikap dan ketulusan hatinya menolong sering membuat orang semakin simpati, namun hal itu tidak memperkuat hatinya tatkala problema psikologis muncul berkaitan dengan masa lalu. Memang, masa lalu sering menjerat orang dan menjebaknya dalam kerangkeng pikiran sempit yang merugikan untuk langkah berikutnya.

”`Kita aklan kehilanghan, kalau jadi ia pergi,` kata Uwo Bile.
`Orang kampung kita sudah terlalu banyak memakan budinya,1 ulas Datuk Sanga sambil memilin-milin kumisnya. `Tapi di saat terakhir ini, kita tekah mengkhianatinya. Kita seolah sepakat saja menghindarkan diri dari padanya. Aku pun orang celaka, ikut-ikutaan pula menghindari diri.`”

(Navis, 2003: 59)

”Dan pintu itu terbuka, ia tertegun. Di lantai dilihatnya sepucuk surat. Surat yang berperangko. Selama ia menetap di kampung itu, itulah buat pertama kalinya ia menerima surat. Darahnya tersirap juga melihat surat yang tergeletak di lantai itu. … Dibacanya alamat si pengirim. Tangannya jadi gemetar. Tercenung dan tak tahu ia apa yang hendak dilakukannya terlebih dulu. Surat itu ternyata dari anaknya di Surabaya.”

(Navis, 2003: 63)

Masa lalu akhirnya disadari sebagai dosa yang harus ditebus dengan berbuat baik bagi orang lain agar memperoleh pahala. Hal ini merupakan prinsip dasar yang memperkokoh perjuangan Sutan Duano dalam memperjuangkan niatnya mengubah rakyat sekitar tempat tinggalnya ke arah hidup yang lebih baik. Nasihat haji Tumbijo merasuk dalam hatinya.

“Tapi haji Tum bijo telah mengatakan padaku,`Kalau Masri, anakmu telah menemui kesengsaraan dan melakukan dosa-dosanya tersebab kau tak mampu mendidiknya selama ini, hapuslah dosanya itu dengan melakukan kebaikan bagi setiap kesengsaraan orang lain. Hadiahkan pahalamu itu semua buat keselamatannya. Mudah-mudahan Tuhan menerimanya. Kalau Masri masih hiduop, dengan perbuatan baikmu yang kauitikadfkan untuk Masri tiu, terlindunglah Masri dati kesengsaraan dan kerhancuran.`”

(Navis, 2003:68)

6. Kelebihan dan Kekurangan Novel Kemarau

6.1 Kelebihan Kemarau

Novel Kemarau mengemukakan sikap dan niat perjuangan seorang guru agama dalam mengubah fokus pikiran dan kerangka berpikir masyarakat yang masih diliputi penalaran tradisional penuh dengan kekuatan takhayul dengan memegang tradisi nenek moyang tanpa diikuti nalar sehat atau sikap kritis. Bahkan hal ini sering tak sejalan atau berbenturan dengan ajaran agama yang mereka ikuti. Berdasarkan hal tersebut novel ini mempunyai peranan penting dalam khazanah sastra Indonesia dalam nuansa Islami.
Kemarau menampilkan problematika manusia dalam memahami dan menjalankan ajaran agama dalam konteks budaya dan tradisi yang berlaku dalam komunitas tertentu sebagai latar cerita. Ajaran agama dikemas oleh pengarang melalui nuansa motivasi tokoh dalam upaya memahami dan menjalankan ajaran agama di tengah masyarakatnya. Oleh karena itu, Kemarau tidak bersifat dogmatis, melainkan kisah perjuangan tokoh cerita dalam memahami dan menjalankan ajaran agama.
Oleh A.A. Navis tema di atas dikemas melalui pengunaan bahasa yang lugas, dialogis, dan berisi. Hal ini memperkuat bahwa amanat sampai kepada pembaca dengan baik, meski pengarang dikenal sebagai penulis bergaya satiris, sinis, dan jago mencemooh. Tokoh cerita dikemas sebagai pibadi yang mampu mengundang simpati masyarakat sekitar sehingga secara bertahap pola berpikir dan cara hidupnya mampu mengubah pola dan cara hidup masyarakat.
Melalui novel Kemarau A.A. Navis berani menunjukkan dirinya sebagai penganut agama Islam yang baik, bukan sebagaimana ditudingkan oleh teman-teman sebelumnya bahwa ia penganut komunis akibat kesalahpahaman yang tk disengaja. A.A. Naavis diundang dalam Konferensi Pengarang Asia-Afrika di Denpasar Bali, Agustus 1963, yang tak diketahuinya kegiatan itu disponsori oleh PKI. Akibatnya, dia dikucilkan oleh teman-teman pengarang lainnya di berbagai kota. Ketika menggubah Robohnya Surau Kami menjadi drama yang ditampilkan di Universitas Gadjah Mada, Bastari Asnin mengemukakan kekecewaannya atas kehadiran A.A. Navis dalam acara di Bali itu. Berdasarkan hal inilah Navis mempunyai greget menulis novel yang menunjukkan bahwa dirinya bukan komunis.
1. Kekurangan Kemarau

Novel Kemarau memang karya sastra yang Amat penting dalam sastra Indonesia dengan karakteristik bercerita pengarangnya yang khas menggelitik pikiran pembaca. Hanya saja novel ini diakhiri dengan pola pengahiran seperti cerita pendek dalam kemasan singkat.
Pengarang mengakhiri cerita secara eksplisit jelas dan transparan, Namun, dikemas dalam rangkaian kata yang singkat dan deskriptif langsung sehingga tak memberikan peluang kepada pembaca untuk mengembangkan imajinasinya. Apalagi bila hal itu dilihat pada bagian ujung cerita tentang nasib tokoh-tokoh ceritanya.

Referensi:
A.A. Navis: Karya dan Dunianya karangan Ivan Adilla, Penerbit Grasindo, Jakarta, halaman 167.

Ali Akbar Navis (In Memoriam), Sastrawan, Sang Kepala Pencemoh dalam TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), diakses 31 Maret 2011, pukul 20.30 WIB

Rahmanto, B.. Metode Pengajaran Sastra, saduran bebas dari The Teaching of Literature karangan H.L.B. Moody. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Navis, A.A., 2003. Kemarau. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.

Siswanto, Wahyudi. 2008. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Grasindo.

TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), diakses 31 Maret 2011, pukul 20.30 WIB

TokohIndonesiaDotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), diakses 29 Maret 2011, pukul 23.15 WIB. Teori Satra, dalam http://istayn.staff.uns.ac.id/files/2010/10/teori-sastra-2.pdf, diakses 20 Maret 2011, pukul 22.25 WIB (lebih…)

September 30, 2014 at 8:28 am Tinggalkan komentar

ASAS-ASAS BERPIKIR

            Di dalam kegiatan berbahasa, terutama kegiatan berpikir bersama, diskusi, rapat, seminar, simposium, temu wicara, sarasehan, bahkan debat, terdapat suatu pola kegiatan berpikir bersama bergerak maju ke arah hal baru berdasarkan persepsi yang sudah dimiliki. Dengan demikian, kegiatan tersebut tak sebatas sampai pada keputusan, pemikiran, pengetahuan, atau kesimpulan sebab kita berusaha meng-up date sehingga menghasilkan konsep atau gagasan, pemikiran, keputusan, atau kesimpulan baru yang lebih baik.

            Hal tersebut terbentuk karena sikap kritis, bijak, dan inovatif kita dalam kemajuan pola pikir, analisis, dan cara pandang suatu masalah. Oleh karena itu, dalam kegiatan berpikir bersama tersebut ditemukan alternatif-alternatif, solusi, dan pemecahan. Jadi, secara tak langsung  eksplisit kita sudah menempatkan asas berpikir sebagai pangkalan menuju gagasan atau konsep baru sehingga dapat dipertanggungjawabkan.

 

            Ada beberapa asas yang perlu dicermati demi kerangka berpikir atau paradigma kita, yaitu:

 

  1. 1.        Asas identitas

 

Asas ini merupakan suatu kaidah berpikir dar suatu konsep yang menunjuk sifat khas atau pokok realitas, konsep, atau masalah. Hal tersebut mempunyai hakikat yang khas: memiliki sifat, referensi, dan identitas tertentu. Oleh karena itu, asas ini lekat dengan kategori ini adalah ini, itu adalah itu. Konsekuensi logisnya, kesimpulan yang ditarik harus diakui.

 

Cermati kutipan berikut!

 

Petenis utama purti Indonesia, Angelique “Angie” Widjaja, dipilih oleh Australian Tennis Magazine, majalah tenis terkemuka Australia, sebagai petenis muda terbaik (Rising Star) tahun 2002. Pemberan trofi penghargaan tersebut, ujar manajer Angie, Virginia Rusli, akan dilakukan saat turnamen Australia Terbuka berlangsung di Melbourne, pertengahan Januari 2003.

 

“Penyerahan trofi akan dilakukan dalam arena Australia Terbuka.  Informasi yang saya peroleh keumungkinan upacara tersebut dilakukan di hari terakhir  turnamen,“  ujar Virginia.

 

Selain Angie, majalah tersebut juga memberikan penghargaan serupa kepada petenis muda Australia, Todd Reid. Reid merupakan juara Wimbledon yunior putra tahun ini, sedangkan Angie menembus peringkat 80-an dunia dengan menjuarai turnamen Volvo Ten di Pattaya Thailand, semifinalis Shanghai Terbuka, dan Juara Dubai Challenger. Setahun sebelumnya di usia yang ke-16, Angie meraih gelar WTA Tour pertama di Wismilak Open Bali (Kompas, 31 Desember 2002).

 

Tentukanlah, manakah realitas, konsep, dan pokok permasalahannya?

 

  1. 2.                       Asas Kontradiktoris

 

Asas ini menunjukan isi dan luas pengertian yang berbeda dari realitas, konsep, atau masalah yang sama. Perbedaan isi dan luas pengertian suatu konsep disebabkan oleh perbedaan cara pendekatan dan sudut poandang. Oleh sebab itu, perlu disikapi secara objektif masalah tersebut sehingga jelas yang benar dan yang salah.

 

Contoh:

  • Semua profesor itu pandai sehingga botak kepala.

Usman, siswa kelas ini, pandai dan botak kepalanya.

Jadi, Usman seorang profesor.

 

  • Semua siswa kelas ini jujur dan rajin belajar.

Anak tetangaku adalah seorang  yang rajin dan jujur.

Berarti, anak tetanggaku adalah warga siswa kelas ini.

 

  1. 3.        Asas kemungkinan Ketiga

Keputusan atau kesimpulan yang benar bukan semata didasarkan oleh sikap kompromis, artinya ada keputusan atau kesimpulan yangs saling bertentangan. Kita harus tegas, hanya satu yang mungkin benar.

 

Contoh:   Semua siswa kelas ini tekun dan rajin.

Beberapa siswa kelas ini tekun dan rajin.

 

Kedua pernyataan di atas tak mjungkin keduanya benar atau keduanya salah. Maka,  harus dikorbankan/dipilih “yang satu” dan mengingkari “yang lain”.

 

  1. 4.        Asas Kausalitas

 

Aasas ini mendasarkan diri pada konsep bahwa setiap realitas, pengertian, amupun masalah selalu mempnyai rangkaian penyebab atau argumentasi keberadaannya.

 

Contoh:

Yang pertama menarik perhatian adalah pengamanan yang mendahului dan menyertai kunjungannya, bukan saja ke Bali, tetapi juga ke Manila (Filipina), Bangkok (Thailand), dan Singapura. Begitulah selalu penjagaan keamanan yang menyertai kehadiran dan kunjungan Presiden Amerika Serikat ke mana pun. Pengamanan standar yang sudah luar biasa itu kini lebih ekstraketat sejak serangan teror ke AS, 11 September 2001, serta munculnya aksi teror di banyak negara dan tempat, termasuk di Bali.

 

Dalam kontkes ini, persinggahan di Bali bisa ditafsirkan sebagai sesuatu yang mempunyai arti sendiri, yakni perhatian Presiden Bush terhadap aksi-aksi teror dan pilihannya menempatkan diri sebagai penggerak dan pemimpin dalam memerangi teror. Suatu posisi yang sekaligus mengundang kontroversi serta perbedaan pendapat, terutama perihal interpretasi dan cara memeranginya.

 

(Kompas, 22 Oktober 2003)

 

September 24, 2013 at 6:13 am Tinggalkan komentar

KEPEMIMPINAN (LEADERSHIP)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

 
Kepemimpinan meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya. Kepemimpinan mempunyai kaitan yang erat dengan motivasi. Hal tersebut dapat dilihat dari keberhasilan seorang pemimpin dalam menggerakkan orang lain dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan sangat tergantung kepada kewibawaan, dan juga pimpinan itu dalam menciptakan motivasi dalam diri setiap orang bawahan, kolega, maupun atasan pimpinan itu sendiri.
 
Gaya kepemimpinan
1. Otokratis. Kepemimpinan seperti ini menggunakan metode pendekatan kekuasaan dalam mencapai keputusan dan pengembangan strukturnya. Jadi kekuasaanlah yang sangat dominan diterapkan.
2. Demokrasi. Gaya ini ditandai adanya suatu struktur yang pengembangannya menggunakan pendekatan pengambilan keputusan yang kooperatif. Di bawah kepemimpinan demokratis cenderung bermoral tinggi dapat bekerjasama, mengutamakan mutu kerja dan dapat mengarahkan diri sendiri.
3. Gaya kepemimpinan kendali bebas. Pemimpin memberikan kekuasan penuh terhadap bawahan, struktur organisasi bersifat longgar dan pemimpin bersifat pasif.
 
Leader dan follower
Adalah hal yang wajar jika tidak semua orang menjadi seorang pemimpin; namun, siapapun yang mengikutinya tidak lagi bisa menerima pemimpin yang kuno, penuh dengan ide otoritas. Mereka ingin pemimpin yang memiliki akar nilai-nilai kemanusiaan dan yang menghargai bakat dan kontribusi yang diberikan oleh orang lain. Mereka ingin merasa antusias di segala tindakan.
 
Orang menginginkan pemimpin yang bisa menciptakan atmosfir resiko dan kreativitas . Mereka menolak intimidasi atau manipulasi, dan ingin diakui sebagai bagian penting dalam perubahan . Inovasi berkelanjutan dan peningkatan mutu yang konstan memerlukan banyak upaya dari para pekerja, yang secara konstan menghadapi teknologi baru, perubahan kultur, dan kompetisi internasional yang keras. Jika kita berhenti berpikir sesaat, kita akan menyimpulan tidak semua ledakan modernisasi dan perubahan perilaku kerja disebabkan teknologi yang terus berubah, tapi juga kinerja kreatif manusia 
.
Orang adalah tenaga nyata dibalik transformasi ini, dan merekalah yang membangun jalan menuju milenium baru . Apa yang bisa dilakukan mesin canggih jika tidak ada yang menemukannya pertama kali? Untuk meraih sukses kita tergantung pada orang lain dan mereka tergantung pada pemimpin. Pemimpin yang memiliki kapasitas menemukan kembali perusahannya dan mendapatkan banyak kolaborasi akan menjadi kokoh .
 
Namun yang pertama, pemimpin harus melihat ke dalam dirinya untuk menemukan cara baru mempengaruhi orang dan melakukan perubagan di perusahaan. Adalah pemimpin yang pertama kali harus berubah; kemudian pemimpin mengumpulkan pengikut, tapi bukan mereka yang hanya melakukan apa yang disuruh . Pemimpin ingin orang yang dewasa dan bertanggung jawab yang bisa menatap ke depan . Sebagai hasil kerjasama akan dibentuk dengan orang-orang yang memiliki komitmen pada dirinya sendiri dan keberhasilan bisnis .
 
Pemimpin menganggap tanggung jawab akan mempersatukan tim. Mereka memiliki kewajiban untuk mengambil perintah, menetapkan aturan, menentukan nilai dan prinsip yang mengarahkan kesuksesan. Pemimpim harus melihat kepemimpinan sebagai tanggung jawab dan bukan sebagai posisi istimewa. Pemimpin yang efektif adalah yang bertanggung jawab atas semua keputusan akhir, dan dia tidak boleh takut dengan kekuatan rekan atau bawahannya. Dia harus mendorong dan bangga dengan semua yang bekerja dengannya. Pemimpin harus melihat keberhasilan orang lain sebagai keberhasilannya juga.
 
Beberapa tahun yang lalu, saya mendapatkan contoh kepemimpinan yang baik. Saya baru tiba di sebuah bengkel kereta api untuk bekerja dengan tim yang bertanggung jawab untuk merenovasi instalasi elektrik di gerbong penumpang. Seiring berjalannya waktu, saya menyimpulkan bahwa kami bisa memangkas setengah dari biaya instalasi elektrik, hanya dengan mengurangi diameter kabel elektrik, yang ditemukan sebagai berdimensi super.
 
Saat saya membicarakan hal ini ke rekan kerja, mereka tidak memberikan tanggapan. ” Jika hal ini sudah dilakukan selama bertahun-tahun, lalu apa yang jadi masalah,” jawab mereka.Saya memikirkan ini selama beberapa hari, tapi akhirnya saya kembali ke keyakinan saya. Saya berbicara langsung pada pimpinan kami, yang dengan segera menganalisa usulan saya. Dia juga menyimpulkan bahwa perhitungan saya benar, dan mendorong saya untuk melanjutkan pekerjaan. Dengan dukungan penuh dari pimpinan, kami membuat berbagai tes selama enam bulan, untuk memastikan keamanannya. Banyak rekan saya yang meragukan usulan awal saya mulai membantu saya dalam proyek, karena mereka merasakan antusiasme pemimpin. Setelah lama menunggu akhirnya persetujuan resmi dikeluarkan. Sejak saat itu, semua pelatih instalasai mengikuti orientasi yang saya kerjakan. Pemimpin kami telah membuka jalan, sehingga tim merasa mendapatkan dukungan untuk membuat kesuksesannya.
 
Pada akhirnya setiap orang menemukan bahwa pekerjaan kami sangat memuaskan, tapi tidak berhenti sampai disitu. Pemimpin kami menemui Direktu UItama KA dan melaporkan semua hasil yang telah dicapai oleh tim kami dan mengacu pada ususlan saya – memberikan kredit penuh. Dengan sikap ini, pemimpin menunjukkan penghargaan atas ide saya, tanggung jawab dalam mendorong tim untuk mengambangkan pekerjaannya, serta loyalty yang tidak hanya untuk kepentingannya sendiri .
 
Keberhasilan kami juga keberhasilannya, karena tanpa kepemimpinannya ide orisinal saya tidak akan terwujud, dan organisasi akan terus mengeluarkan uang untuk hal yang tidak perlu. Ini adalah pelajaran leadership yang saya pelajari hampir dua puluh lima tahun yang lalu, dan masih melekat dalam diri saya . Ini merupakan contoh abadi bagaimana pemimpin sejati bisa mempengaruhi masa depan seseorang .
 
Mari kita lihat persyaratan kepemimpinan . Persyaratan penting bagi seorang pemimpin adalah mendapatkan keyakinan dari orang -orang yang bekerja dengannya, jika tidak maka tidak ada pengikut, dan untuk mendapatkan keyakinan dalam memimpin, pengikut harus yakin dia harus memiliki integritas, berbicara kebenaran dan memiliki otoritas. Menjadi absolut atau didelegasikan.
 
Tiga Jenis Otoritas
 
Otoritas karena posisi : termasuk didalamnya jabatan, posisi yang dimiliki dalam perusahaan, dan power yang dipegang seseorang.
 
Otoritas personal : ini adalah kualitas pengaruh yang alami, dimana leader diakui oleh orang lain karena perilaku dan tindakannya.
 
Otoritas pengetahuan. Pada tipe otoritas ini, kami mengandalkan teknis dan pengetahuan profesional, terlepas dari jenis pengetahuan yang penting di area tertentu.
 
Zaman dulu ada kecenderungan bagi pemimpin untuk didukung oleh posisi yang dipengangnya dalam perusahaan. Sekarang kecenderungan tersebut sudah bergeser ke pentuk power yang lain, dimana kepribadian dan pengetahuan sangat penting.
 
Pengetahuan teknis bukanlah segala-galanya. Mungkin diperlukan diawal karir manajerial , dimana sesorang cenderung menjadi spesialis. Tapi dengan berlalunya waktu, dia harus memperluas pengetahuannya ke area dimana kepemimpinan, komunikasi dan power untuk membuat keputusan adalah hal penting. Sebaliknya dia tidak akan menjadi manajer yang efeketif dan bahkan kurang bisa memimpin.
 
Berikutnya adalah eksplorasi karakteristik pemimpin. 
 
Pemimpin harus memiliki beberapa kualitas yang diperlukan timnya, meskipun ini tidak selamanya benar di oranisasi yang besar, dimana pemimpin memiliki banyak anak buah yang berpengetahuan. Tapi dalam kasus ini tidak mungkin terjadi.
 
Sebagai contoh: Jika Anda imenginginkan seorang sales manajer, tentu saja dia harus memiliki pengetahuan sales. Jika Anda membutuhkan manajer engineering, maka karakteristik engineering yang dibutuhkan, jika tidak maka akan sulit memelihara respek. Pemimpin harus menjadi cermin bagi timnya.
 
Banyak kontroversi terkait dengan bagaimana mendefinisikan seorang leader, tapi ada satu hal yang semua orang setuju, adalah seorang pemimpin harus memiliki karakter dan kepribadian. Ini adalah kualitas moral yang dinilai orang lain, terlepas dari nilai-nilai lainnya, seperti : intelejensi, kompetensi, dan bakat khusus.
Karakteristik lain yang kita temukan, adalah pemimpin harus bisa menghadapai situasi tertentu . Ini yang dikenal dengan pemimpin situasional, dan ada banyak contoh sebagai ilustrasi.
 
Kita ambil contoh kecelakaan pesawat di hutan terpencil. Saat masih mengudara, kapten adalah pemimpinnya, memegang kekuasaan untuk keputusan. Dari sanalah semuanya tergantung pada situasi. Jika banyak penumpang yang terluka dan ada dokter, maka dialah yang menjadi pemimpinnya. Setelah semua orang berkumpul, kepemimpinan otomatis diberikan pada orang yang memiliki pengetahuan survival dan orientasi navigasi. Dia akan menjadi satu-satunya harapan dan setiap orang akan mengikutinya.
 
Ini menunjukkan pentingnya pengetahuan dalam situasi seperti ini, dan berulang kali, tanpa pernah diperhatikan, kepemimpinan mengalir dari satu tempat ke tempat lain. Pemimpin besar tahu bagaimana membuat orang lain berbagi pengetahuannya .
 
Kita tidak boleh lupa meskipun ketrampilan teknis dan profesional penting dalam otoritas, tapi bukan segalanya. Untuk menjadi seorang pemimpin, Anda harus memiliki kemampuan kepemimpinan, power dalam keputusan dan memfasilitasi untuk berkomunikasi dengan orang. Seseorang harus bisa fleskibel dan memiliki sense yang bagus untuk mentrasfer keputusan tertentu, ketika ada masalah diluar pengetahuan Anda .
 
Pemimpin sejati adalah orang yang bisa beradptasi di situasi yang berbeda, dan tidak pernah berhenti belajar. Dia selalu berinteraksi dengan orang, dan membuat setiap orang bekerjsa sama dengan visi yang sama, seperti membuat hasil yang fantastis. Orang akan mengikutinya bahkan tanpa disadari mereka telah mengambil peran sebagai follower… inilah yang membuat leader berbeda dengan yang lain .
 
Oleh: Francisco B. S. Magalhaes
Sumber: www.emergingleader.com
Diterjemahkan oleh: Iin
 
Teori Kepemimpinan
Kepemimpinan berasal dari kata pimpin yang memuat dua hal pokok yaitu:
 
1.pemimpin sebagai subjek, dan.
2.yang dipimpin sebagai objek.
 
Kata pimpin mengandung pengertian mengarahkan, membina atau mengatur, menuntun dan juga menunjukkan ataupun mempengaruhi. Pemimpin mempunyai tanggung jawab baik secara fisik maupun spiritual terhadap keberhasilan aktivitas kerja dari yang dipimpin, sehingga menjadi pemimpin itu tidak mudah dan tidak akan setiap orang mempunyai kesamaan di dalam menjalankan ke-pemimpinannya.
 
Mitos-mitos Pemimpin
Mitos pemimpin adalah pandangan-pandangan atau keyakinan-keyakinan masyarakat yang dilekatkan kepada gambaran seorang pemimpin. Mitos ini disadari atau tidak mempengaruhi pengembangan pemimpin dalam organisasi.
 
Ada 3 (tiga) mitos yang berkembang di masyarakat, yaitu mitos the Birthright, the For All – Seasons , dan the Intensity. Mitos the Birthright berpandangan bahwa pemimpin itu dilahirkan bukan dihasilkan (dididik). Mitos ini berbahaya bagi perkembangan regenerasi pemimpin karena yang dipandang pantas menjadi pemimpin adalah orang yang memang dari sananya dilahirkan sebagai pemimpin, sehingga yang bukan dilahirkan sebagai pemimpin tidak memiliki kesempatan menjadi pemimpin
 
Mitos the For All – Seasons berpandangan bahwa sekali orang itu menjadi pemimpin selamanya dia akan menjadi pemimpin yang berhasil. Pada kenyataannya keberhasilan seorang pemimpin pada satu situasi dan kondisi tertentu belum tentu sama dengan situasi dan kondisi lainnya. Mitos the Intensity berpandangan bahwa seorang pemimpin harus bisa bersikap tegas dan galak karena pekerja itu pada dasarnya baru akan bekerja jika didorong dengan cara yang keras. Pada kenyataannya kekerasan mempengaruhi peningkatan produktivitas kerja hanya pada awal-awalnya saja, produktivitas seterusnya tidak bisa dijamin. Kekerasan pada kenyataannya justru dapat menumbuhkan keterpaksaan yang akan dapat menurunkan produktivitas kerja.
 
Atribut-atribut Pemimpin
Secara umum atribut personal atau karakter yang harus ada atau melekat pada diri seorang pemimpin adalah:
 
1. mumpuni, artinya memiliki kapasitas dan kapabilitas yang lebih balk daripada orang-orang yang dipimpinnya;
2. juara, artinya memiliki prestasi balk akademik maupun non akademik yang lebih balk dibanding orang-orang yang dipimpinnya;
3. tangungjawab, artinya memiliki kemampuan dan kemauan bertanggungjawab yang lebih tinggi dibanding orang-orang yang dipimpinnya;
4. aktif, artinya memiliki kemampuan dan kemauan berpartisipasi sosial dan melakukan sosialisasi secara aktif lebih balk dibanding oramg-orang yang dipimpinnya, dan;
5. walaupun tidak harus, sebaiknya memiliki status sosial ekonomi yang lebih tinggi disbanding orang-orang yang dipimpinnya.
 
Meskipun demikian, variasi atribut-atribut personal tersebut bisa berbeda-beda antara situasi organisasi satu dengan organisasi lainnya. Organisasi dengan situasi dan karakter tertentu menuntut pemimpin yang memiliki variasi atribut tertentu pula.
 
TEORI KEPEMIMPINAN KLASIK DAN TEORI KONTINGENSI
 
Kepemimpinan Menurut Teori Sifat (Trait Theory)
`
Studi-studi mengenai sifat-sifat/ciri-ciri mula-mula mencoba untuk mengidentifikasi karakteristik-karakteristik fisik, ciri kepribadian, dan kemampuan orang yang dipercaya sebagai pemimpin alami. Ratusan studi tentang sifat/ciri telah dilakukan, namun sifat-sifat/ciri-ciri tersebut tidak memiliki hubungan yang kuat dan konsisten dengan keberhasilan kepemimpinan seseorang. Penelitian mengenai sifat/ciri tidak memperhatikan pertanyaan tentang bagaimana sifat/ciri itu berinteraksi sebagai suatu integrator dari kepribadian dan perilaku atau bagaimana situasi menentukan relevansi dari berbagai sifat/ciri dan kemampuan bagi keberhasilan seorang pemimpin.
 
Berbagai pendapat tentang sifat-sifat/ciri-ciri ideal bagi seorang pemimpin telah dibahas dalam kegiatan belajar ini termasuk tinjauan terhadap beberapa sifat/ciri yang ideal tersebut.
 
Kepemimpinan Menurut Teori Perilaku (Behavioral Theory)
 
Selama tiga dekade, dimulai pada permulaan tahun 1950-an, penelitian mengenai perilaku pemimpin telah didominasi oleh suatu fokus pada sejumlah kecil aspek dari perilaku. Kebanyakan studi mengenai perilaku kepemimpinan selama periode tersebut menggunakan kuesioner untuk mengukur perilaku yang berorientasi pada tugas dan yang berorientasi pada hubungan. Beberapa studi telah dilakukan untuk melihat bagaimana perilaku tersebut dihubungkan dengan kriteria tentang efektivitas kepemimpinan seperti kepuasan dan kinerja bawahan. Peneliti-peneliti lainnya menggunakan eksperimen laboratorium atau lapangan untuk menyelidiki bagaimana perilaku pemimpin mempengaruhi kepuasan dan kinerja bawahan. Jika kita cermati, satu-satunya penemuan yang konsisten dan agak kuat dari teori perilaku ini adalah bahwa para pemimpin yang penuh perhatian mempunyai lebih banyak bawahan yang puas.
 
Hasil studi kepemimpinan Ohio State University menunjukkan bahwa perilaku pemimpin pada dasarnya mengarah pada dua kategori yaitu consideration dan initiating structure. Hasil penelitian dari Michigan University menunjukkan bahwa perilaku pemimpin memiliki kecenderungan berorientasi kepada bawahan dan berorientasi pada produksi/hasil. Sementara itu, model leadership continuum dan Likert’s Management Sistem menunjukkan bagaimana perilaku pemimpin terhadap bawahan dalam pembuatan keputusan. Pada sisi lain, managerial grid, yang sebenarnya menggambarkan secara grafik kriteria yang digunakan oleh Ohio State University dan orientasi yang digunakan oleh Michigan University. Menurut teori ini, perilaku pemimpin pada dasarnya terdiri dari perilaku yang pusat perhatiannya kepada manusia dan perilaku yang pusat perhatiannya pada produksi.
 
Teori Kontingensi (Contigensy Theory)
Teori-teori kontingensi berasumsi bahwa berbagai pola perilaku pemimpin (atau ciri) dibutuhkan dalam berbagai situasi bagi efektivitas kepemimpinan. Teori Path-Goal tentang kepemimpinan meneliti bagaimana empat aspek perilaku pemimpin mempengaruhi kepuasan serta motivasi pengikut. Pada umumnya pemimpin memotivasi para pengikut dengan mempengaruhi persepsi mereka tentang konsekuensi yang mungkin dari berbagai upaya. Bila para pengikut percaya bahwa hasil-hasil dapat diperoleh dengan usaha yang serius dan bahwa usaha yang demikian akan berhasil, maka kemungkinan akan melakukan usaha tersebut. Aspek-aspek situasi seperti sifat tugas, lingkungan kerja dan karakteristik pengikut menentukan tingkat keberhasilan dari jenis perilaku kepemimpinan untuk memperbaiki kepuasan dan usaha para pengikut.
 
LPC Contingency Model dari Fiedler berhubungan dengan pengaruh yang melunakkan dari tiga variabel situasional pada hubungan antara suatu ciri pemimpin (LPC) dan kinerja pengikut. Menurut model ini, para pemimpin yang berskor LPC tinggi adalah lebih efektif untuk situasi-situasi yang secara moderat menguntungkan, sedangkan para pemimpin dengan skor LPC rendah akan lebih menguntungkan baik pada situasi yang menguntungkan maupun tidak menguntungkan. Leader Member Exchange Theory menjelaskan bagaimana para pemimpin mengembangkan hubungan pertukaran dalam situasi yang berbeda dengan berbagai pengikut. Hersey and Blanchard Situasional Theory lebih memusatkan perhatiannya pada para pengikut. Teori ini menekankan pada perilaku pemimpin dalam melaksanakan tugas kepemimpinannya dan hubungan pemimpin pengikut.
 
Leader Participation Model menggambarkan bagaimana perilaku pemimpin dalam proses pengambilan keputusan dikaitkan dengan variabel situasi. Model ini menganalisis berbagai jenis situasi yang mungkin dihadapi seorang pemimpin dalam menjalankan tugas kepemimpinannya. Penekanannya pada perilaku kepemimpinan seseorang yang bersifat fleksibel sesuai dengan keadaan yang dihadapinya.
 
TEORI KEPEMIMPINAN KONTEMPORER
 
Teori Atribut Kepemimpinan
 
Teori atribusi kepemimpinan mengemukakan bahwa kepemimpinan semata-mata merupakan suatu atribusi yang dibuat orang atau seorang pemimpin mengenai individu-individu lain yang menjadi bawahannya.
Beberapa teori atribusi yang hingga saat ini masih diakui oleh banyak orang yaitu:
 
1. Teori Penyimpulan Terkait (Correspondensi Inference), yakni perilaku orang lain merupakan sumber informasi yang kaya.
2. Teori sumber perhatian dalam kesadaran (Conscious Attentional Resources) bahwa proses persepsi terjadi dalam kognisi orang yang melakukan persepsi (pengamatan).
3. Teori atribusi internal dan eksternal dikemukakan oleh Kelly & Micella, 1980 yaitu teori yang berfokus pada akal sehat.
 
Kepemimpinan Kharismatik
 
Karisma merupakan sebuah atribusi yang berasal dari proses interaktif antara pemimpin dan para pengikut. Atribut-atribut karisma antara lain rasa percaya diri, keyakinan yang kuat, sikap tenang, kemampuan berbicara dan yang lebih penting adalah bahwa atribut-atribut dan visi pemimpin tersebut relevan dengan kebutuhan para pengikut.
 
Berbagai teori tentang kepemimpinan karismatik telah dibahas dalam kegiatan belajar ini. Teori kepemimpinan karismatik dari House menekankan kepada identifikasi pribadi, pembangkitan motivasi oleh pemimpin dan pengaruh pemimpin terhadap tujuan- tujuan dan rasa percaya diri para pengikut. Teori atribusi tentang karisma lebih menekankan kepada identifikasi pribadi sebagai proses utama mempengaruhi dan internalisasi sebagai proses sekunder. Teori konsep diri sendiri menekankan internalisasi nilai, identifikasi sosial dan pengaruh pimpinan terhadap kemampuan diri dengan hanya memberi peran yang sedikit terhadap identifikasi pribadi. Sementara itu, teori penularan sosial menjelaskan bahwa perilaku para pengikut dipengaruhi oleh pemimpin tersebut mungkin melalui identifikasi pribadi dan para pengikut lainnya dipengaruhi melalui proses penularan sosial. Pada sisi lain, penjelasan psikoanalitis tentang karisma memberikan kejelasan kepada kita bahwa pengaruh dari pemimpin berasal dari identifikasi pribadi dengan pemimpin tersebut.
 
Karisma merupakan sebuah fenomena. Ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan oleh seorang pemimpin karismatik untuk merutinisasi karisma walaupun sukar untuk dilaksanakan. Kepemimpinan karismatik memiliki dampak positif maupun negatif terhadap para pengikut dan organisasi.
 
Kepemimpinan Trnasformasional
 
Pemimpin pentransformasi (transforming leaders) mencoba menimbulkan kesadaran para pengikut dengan mengarahkannya kepada cita-cita dan nilai-nilai moral yang lebih tinggi.
 
Burns dan Bass telah menjelaskan kepemimpinan transformasional dalam organisasi dan membedakan kepemimpinan transformasional, karismatik dan transaksional. Pemimpin transformasional membuat para pengikut menjadi lebih peka terhadap nilai dan pentingnya pekerjaan, mengaktifkan kebutuhan-kebutuhan pada tingkat yang lebih tinggi dan menyebabkan para pengikut lebih mementingkan organisasi. Hasilnya adalah para pengikut merasa adanya kepercayaan dan rasa hormat terhadap pemimpin tersebut, serta termotivasi untuk melakukan sesuatu melebihi dari yang diharapkan darinya. Efek-efek transformasional dicapai dengan menggunakan karisma, kepemimpinan inspirasional, perhatian yang diindividualisasi serta stimulasi intelektual.
 
Hasil penelitian Bennis dan Nanus, Tichy dan Devanna telah memberikan suatu kejelasan tentang cara pemimpin transformasional mengubah budaya dan strategi-strategi sebuah organisasi. Pada umumnya, para pemimpin transformasional memformulasikan sebuah visi, mengembangkan sebuah komitmen terhadapnya, melaksanakan strategi-strategi untuk mencapai visi tersebut, dan menanamkan nilai-nilai baru.
 
TIPOLOGI KEPEMIMPINAN
 
Tipologi Kepemimpinan Berdasarkan Kondisi Sosio Psikologis
 
Kondisi sosio-psikologis adalah semua kondisi eksternal dan internal yang ada pada saat pemunculan seorang pemimpin. Dari sisi kondisi sosio-psikologis pemimpin dapat dikelompokkan menjadi pemimpin kelompok (leaders of crowds), pemimpin siswa/mahasiswa (student leaders), pemimpin publik (public leaders), dan pemimpin perempuan (women leaders). Masing-masing tipe pemimpin tersebut masih bisa dibuat sub-tipenya. Sub-tipe pemimpin kelompok adalah: crowd compeller, crowd exponent, dan crowd representative.
 
Sub-tipe pemimpin siswa/mahasiswa adalah: the explorer president, the take charge president, the organization president, dan the moderators. Sub-tipe pemimpin publik ada beberapa, yaitu:
 
• Menurut Pluto: timocratic, plutocratic, dan tyrannical
• Menurut Bell, dkk: formal leader, reputational leader, social leader, dan influential leader
• Menurut J.M. Burns, ada pemimpin legislatif yang : ideologues, tribunes, careerist, dan parliementarians.
• Menurut Kincheloe, Nabi atau Rasul juga termasuk pemimpin publik, yang memiliki kemampuan yang sangat menonjol yang membedakannya dengan pemimpin bukan Nabi atau Rasul, yaitu dalam hal membangkitkan keyakinan dan rasa hormat pengikutnya untuk dengan sangat antusias mengikuti ajaran yang dibawanya dan meneladani semua sikap dan perilakunya.
 
Tipe pemimpin yang lain adalah pemimpin perempuan, yang oleh masyarakat dilekati 4 setereotip, yaitu sebagai: the earth mother, the manipulator, the workaholic, dan the egalitarian.
 
Tipologi Kepemimpinan Berdasar Kepribadian
Tipologi kepemimpinan berdasar kepribadian dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok besar, yaitu tipologi Myers – Briggs dan tipologi berdasar skala CPI (California Personality Inventory). Myers – Briggs mengelompokkan tipe-tipe kepribadian berdasar konsep psikoanalisa yang dikembangkan oleh Jung, yaitu: extrovert – introvert, sensing – intuitive, thinking – feeling, judging – perceiving. Tipe kepribadian ini kemudian dia teliti pada manajer Amerika Serikat dan diperoleh tipe pemimpin berdasar kepribadian sebagai berikut:
 
*ISTJ: introvert – sensing – thinking – judging
*ESTJ: extrovert – sensing – thinking – judging
*ENTJ: extrovert – intuitive – thinking – judging
*INTJ:introvert – intuitive – thinking – judging
 
Kemudian dengan menggunakan tipe kepribadian yang disusun berdasar konsep psikoanalisa Jung, Delunas melakukan penelitian terhadap para manajer dan ekesekutif negara bagian, dan mengelompokkan tipe pemimpin berdasar kepribadian sebagai berikut:
 
*Sensors – perceivers
*Sensors – judgers
*Intuitive – thinkers
*Intuitive – feelers
 
Tipologi kepribadian yang lain adalah sebagaimana yang disusun dengan menggunakan skala CPI (California Personality Invetory) yang mengelompokkan tipe pemimpin menjadi: leader, innovator, saint, dan artist.
 
Tipologi Kepemimpinan Berdasar Gaya Kepemimpinan
Blake – Mouton, tipologi Reddin, tipologi Bradford – Cohen, dan tipologi Leavitt. Menurut Blake – Mouton tipe pemimpin dapat dibagi ke dalam tipe:
 
*Pemimpin yang Orientasi Hubungannya Ekstrim Rendah, Orientasi Tugasnya Ekstrim Tinggi,
*Pemimpin yang Orientasi Hubungannya Ekstrim Tinggi, Orientasi Tugasnya Ekstrim Rendah,
*Pemimpin yang Orientasi Hubungannya Ekstrim Rendah, Orientasi Tugasnya Ekstrim Rendah,
*Pemimpin yang Orientasi Hubungannya Moderat, Orientasi Tugasnya Moderat, dan
*Pemimpin yang Orientasi Hubungannya Ekstrim Tinggi, Orientasi Tugasnya Ekstrim Tinggi
 
Kemudian Reddin melakukan pengembangan lanjut atas tipologi ini, dan menemukan tipe pemimpin sebagai berikut: deserter, missionary, compromiser, bureaucrat, benevolent autocrat, developer, dan executive. Sementara Bradford dan Cohen membagi tipe pemimpin menjadi: technician, conductor, dan developer. Tipologi kepemimpinan yang dikembangkan oleh Leavitt membagi tipe pemimpin menjadi: pathfinders, problem solvers, dan implementers.
 
Tipologi Kepemimpinan Berdasar Peran Fungsi dan Perilaku
Tipologi pemimpin berdasar fungsi, peran, dan perilaku pemimpin adalah tipologi pemimpn yang disusun dengan titik tolak interaksi personal yang ada dalam kelompok . Tipe-tipe pemimpin dalam tipologi ini dapat dikelompokkan dalam kelompok tipe berdasar fungsi, berdasar peran, dan berdasar perilaku yang ditunjukkan oleh pemimpin. Berdasar perilakunya, tipe pemimpin dikelompokkan dalam kelompok tipe pemimpin yang dikemukakan oleh: Cattell dan Stice; S. Levine; Clarke; Komaki, Zlotnik dan Jensen. Berdasar fungsinya, tipe pemimpin dapat dikelompokkan dalam kelompok tipe pemimpin yang dikemukakan oleh: Bales dan Slater; Roby; Shutz; Cattell; Bowes dan Seashore. Berdasar perannya, tipe pemimpin dapat dikelompokkan dalam kelompok tipe pemimpin yang dikemukakan oleh : Benne dan Sheats; dan Mintzberg.
 
PERAN-PERAN PEMIMPIN
 
The Vision Role
Sebuah visi adalah pernyataan yang secara relatif mendeskripsikan aspirasi atau arahan untuk masa depan organisasi. Dengan kata lain sebuah pernyataan visi harus dapat menarik perhatian tetapi tidak menimbulkan salah pemikiran. Agar visi sesuai dengan tujuan organisasi di masa mendatang, para pemimpin harus menyusun dan manafsirkan tujuan-tujuan bagi individu dan unit-unit kerja.
 
Peran Pemimpin dalam Pengendalian dan Hubungan Organisasional
Tindakan manajemen para pemimpin organisasi dalam mengendalikan organisasi meliputi: (a) mengelola harta milik atau aset organisasi; (b) mengendalikan kualitas kepemimpinan dan kinerja organisasi; (c) menumbuhkembangkan serta mengendalikan situasi maupun kondisi kondusif yang berkenaan dengan keberadaan hubungan dalam organisasi. Dan peran pengendalian serta pemelihara / pengendali hubungan dalam organisasi merupakan pekerjaan kepemimpinan yang berat bagi pemimpin. Oleh sebab itu diperlukan pengetahuan, seni dan keahlian untuk melaksanakan kepemimpinan yang efektif.
 
Ruang lingkup peran pengendali organiasasi yang melekat pada pemimpin meliputi pengendalian pada perumusan pendefinisian masalah dan pemecahannya, pengendalian pendelegasian wewenang, pengendalian uraian kerja dan manajemen konflik.
 
Ruang lingkup peran hubungan yang melekat pada pemimpin meliputi peran pemimpin dalam pembentukan dan pembinaan tim-tim kerja; pengelolaan tata kepegawaian yang berguna untuk pencapaian tujuan organisasi; pembukaan, pembinaan dan pengendalian hubungan eksternal dan internal organisasi serta perwakilan bagi organisasinya.
 
Peran Pembangkit Semangat
Salah satu peran kepemimpinan yang harus dijalankan oleh seorang pemimpin adalah peran membangkitkan semangat kerja. Peran ini dapat dijalankan dengan cara memberikan pujian dan dukungan. Pujian dapat diberikan dalam bentuk penghargaan dan insentif. Penghargaan adalah bentuk pujian yang tidak berbentuk uang, sementara insentif adalah pujian yang berbentuk uang atau benda yang dapat kuantifikasi. Pemberian insentif hendaknya didasarkan pada aturan yang sudah disepakati bersama dan transparan. Insentif akan efektif dalam peningkatan semangat kerja jika diberikan secara tepat, artinya sesuai dengan tingkat kebutuhan karyawan yang diberi insentif, dan disampaikan oleh pimpinan tertinggi dalam organisasi , serta diberikan dalam suatu ‘event’ khusus.
 
Peran membangkitkan semangat kerja dalam bentuk memberikan dukungan, bisa dilakukan melalui kata-kata , baik langsung maupun tidak langsung, dalam kalimat-kalimat yang sugestif. Dukungan juga dapat diberikan dalam bentuk peningkatan atau penambahan sarana kerja, penambahan staf yag berkualitas, perbaikan lingkungan kerja, dan semacamnya.
 
Peran Menyampaikan Informasi
Informasi merupakan jantung kualitas perusahaan atau organisasi; artinya walaupun produk dan layanan purna jual perusahaan tersebut bagus, tetapi jika komunikasi internal dan eksternalnya tidak bagus, maka perusahaan itu tidak akan bertahan lama karena tidak akan dikenal masyarakat dan koordinasi kerja di dalamnya jelek. Penyampaian atau penyebaran informasi harus dirancang sedemikian rupa sehingga informasi benar-benar sampai kepada komunikan yang dituju dan memberikan manfaat yang diharapkan. Informasi yang disebarkan harus secara terus-menerus dimonitor agar diketahui dampak internal maupun eksternalnya. Monitoring tidak dapat dilakukan asal-asalan saja, tetapi harus betul-betul dirancang secara efektif dan sistemik. Selain itu, seorang pemimpin juga harus menjalankan peran consulting baik ke ligkungan internal organisasi maupun ke luar organisasi secara baik, sehingga tercipta budaya organisasi yang baik pula. Sebagai orang yang berada di puncak dan dipandang memiliki pengetahuan yang lebih baik dibanding yang dipimpin, seorang pemimpin juga harus mampu memberikan bimbingan yang tepat dan simpatik kepada bawahannya yang mengalami masalah dalam melaksanakan pekerjaannya.
 
GAYA KEPEMIMPINAN
 
Gaya Kepemimpinan Demokratis
Kepemimpinan demokratis menempatkan manusia sebagai faktor utama dan terpenting dalam setiap kelompok/organisasi. Gaya kepemimpinan demokratis diwujudkan dengan dominasi perilaku sebagai pelindung dan penyelamat dan perilaku yang cenderung memajukan dan mengembangkan organisasi/kelompok. Di samping itu diwujudkan juga melalui perilaku kepemimpinan sebagai pelaksana (eksekutif).
 
Dengan didominasi oleh ketiga perilaku kepemimpinan tersebut, berarti gaya ini diwarnai dengan usaha mewujudkan dan mengembangkan hubungan manusiawi (human relationship) yang efektif, berdasarkan prinsip saling menghormati dan menghargai antara yang satu dengan yang lain. Pemimpin memandang dan menempatkan orang-orang yang dipimpinnya sebagai subjek, yang memiliki kepribadian dengan berbagai aspeknya, seperti dirinya juga. Kemauan, kehendak, kemampuan, buah pikiran, pendapat, minat/perhatian, kreativitas, inisiatif, dan lain-lain yang berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain selalu dihargai dan disalurkan secara wajar.
 
Berdasarkan prinsip tersebut di atas, dalam gaya kepemimpinan ini selalu terlihat usaha untuk memanfaatkan setiap orang yang dipimpin. Proses kepemimpinan diwujudkan dengan cara memberikan kesempatan yang luas bagi anggota kelompok/organisasi untuk berpartisipasi dalam setiap kegiatan. Partisipasi itu disesuaikan dengan posisi/jabatan masing-masing, di samping memperhatikan pula tingkat dan jenis kemampuan setiap anggota kelompok/organisasi. Para pemimpin pelaksana sebagai pembantu pucuk pimpinan, memperoleh pelimpahan wewenang dan tanggung jawab, yang sama atau seimbang pentingnya bagi pencapaian tujuan bersama. Sedang bagi para anggota kesempatan berpartisipasi dilaksanakan dan dikembangkan dalam berbagai kegiatan di lingkungan unit masing-masing, dengan mendorong terwujudnya kerja sama, baik antara anggota dalam satu maupun unit yang berbeda. Dengan demikian berarti setiap anggota tidak saja diberi kesempatan untuk aktif, tetapi juga dibantu dalam mengembangkan sikap dan kemampuannya memimpin. Kondisi itu memungkinkan setiap orang siap untuk dipromosikan menduduki posisi/jabatan pemimpin secara berjenjang, bilamana terjadi kekosongan karena pensiun, pindah, meninggal dunia, atau sebab-sebab lain.
 
Kepemimpinan dengan gaya demokratis dalam mengambil keputusan sangat mementingkan musyawarah, yang diwujudkan pada setiap jenjang dan di dalam unit masing-masing. Dengan demikian dalam pelaksanaan setiap keputusan tidak dirasakan sebagai kegiatan yang dipaksakan, justru sebaliknya semua merasa terdorong mensukseskannya sebagai tanggung jawab bersama. Setiap anggota kelompok/organisasi merasa perlu aktif bukan untuk kepentingan sendiri atau beberapa orang tertentu, tetapi untuk kepentingan bersama.
Aktivitas dirasakan sebagai kebutuhan dalam mewujudkan partisipasi, yang berdampak pada perkembangan dan kemajuan kelompok/organisasi secara keseluruhan. Tidak ada perasaan tertekan dan takut, namun pemimpin selalu dihormati dan disegani secara wajar
 
Gaya Kepemimpinan Otoriter
Kepemimpinan otoriter merupakan gaya kepemimpinan yang paling tua dikenal manusia. Oleh karena itu gaya kepemimpinan ini menempatkan kekuasaan di tangan satu orang atau sekelompok kecil orang yang di antara mereka tetap ada seorang yang paling berkuasa. Pemimpin bertindak sebagai penguasa tunggal. Orang-orang yang dipimpin yang jumlahnya lebih banyak, merupakan pihak yang dikuasai, yang disebut bawahan atau anak buah. Kedudukan bawahan semata-mata sebagai pelaksana keputusan, perintah, dan bahkan kehendak pimpinan. Pemimpin memandang dirinya lebih, dalam segala hal dibandingkan dengan bawahannya. Kemampuan bawahan selalu dipandang rendah, sehingga dianggap tidak mampu berbuat sesuatu tanpa perintah. Perintah pemimpin sebagai atasan tidak boleh dibantah, karena dipandang sebagai satu-satunya yang paling benar. Pemimpin sebagai penguasa merupakan penentu nasib bawahannya. Oleh karena itu tidak ada pilihan lain, selain harus tunduk dan patuh di bawah kekuasaan sang pemimpin. Kekuasaan pimpinan digunakan untuk menekan bawahan, dengan mempergunakan sanksi atau hukuman sebagai alat utama. Pemimpin menilai kesuksesannya dari segi timbulnya rasa takut dan kepatuhan yang bersifat kaku.
 
Kepemimpinan dengan gaya otoriter banyak ditemui dalam pemerintahan Kerajaan Absolut, sehingga ucapan raja berlaku sebagai undang-undang atau ketentuan hukum yang mengikat. Di samping itu sering pula terlihat gaya dalam kepemimpinan pemerintahan diktator sebagaimana terjadi di masa Nazi Jerman dengan Hitler sebagai pemimpin yang otoriter.
 
Gaya Kepemimpinan Bebas dan Gaya Kepemimpinan Pelengkap
Kepemimpinan Bebas merupakan kebalikan dari tipe atau gaya kepemimpinan otoriter. Dilihat dari segi perilaku ternyata gaya kepemimpinan ini cenderung didominasi oleh perilaku kepemimpinan kompromi (compromiser) dan perilaku kepemimpinan pembelot (deserter). Dalam prosesnya ternyata sebenarnya tidak dilaksanakan kepemimpinan dalam arti sebagai rangkaian kegiatan menggerakkan dan memotivasi anggota kelompok/organisasinya dengan cara apa pun juga. Pemimpin berkedudukan sebagai simbol. Kepemimpinannya dijalankan dengan memberikan kebebasan penuh pada orang yang dipimpin dalam mengambil keputusan dan melakukan kegiatan (berbuat) menurut kehendak dan kepentingan masing-masing, baik secara perseorangan maupun berupa kelompok-kelompok kecil.
 
Pemimpin hanya memfungsikan dirinya sebagai penasihat, yang dilakukan dengan memberi kesempatan untuk berkompromi atau bertanya bagi anggota kelompok yang memerlukannya. Kesempatan itu diberikan baik sebelum maupun sesudah anggota yang bersangkutan menetapkan keputusan atau melaksanakan suatu kegiatan.
 
Kepemimpinan dijalankan tanpa berbuat sesuatu, karena untuk bertanya atau tidak (kompromi) tentang sesuatu rencana keputusan atau kegiatan, tergantung sepenuhnya pada orang-orang yang dipimpin. Dalam keadaan seperti itu setiap terjadi kekeliruan atau kesalahan, maka pemimpin selalu berlepas tangan karena merasa tidak ikut serta menetapkannya menjadi keputusan atau kegiatan yang dilaksanakan kelompok/organisasinya. Pemimpin melepaskan diri dari tanggung jawab (deserter), dengan menuding bahwa yang salah adalah anggota kelompok/organisasinya yang menetapkan atau melaksanakan keputusan dan kegiatan tersebut. Oleh karena itu bukan dirinya yang harus dan perlu diminta pertanggungjawaban telah berbuat kekeliruan atau kesalahan.
 
Sehubungan dengan itu apabila tidak seorang pun orang-orang yang dipimpin atau bawahan yang mengambil inisiatif untuk menetapkan suatu keputusan dan tidak pula melakukan sesuatu kegiatan, maka kepemimpinan dan keseluruhan kelompok/organisasi menjadi tidak berfungsi. Kebebasan dalam menetapkan suatu keputusan atau melakukan suatu kegiatan dalam tipe kepemimpinan ini diserahkan sepenuhnya pada orang-orang yang dipimpin.
 
Oleh karena setiap manusia mempunyai kemauan dan kehendak sendiri, maka akan berakibat suasana kebersamaan tidak tercipta, kegiatan menjadi tidak terarah dan simpang siur. Wewenang tidak jelas dan tanggung jawab menjadi kacau, setiap anggota saling menunggu dan bahkan saling salah menyalahkan apabila diminta pertanggungjawaban.
 
Gaya atau perilaku kepemimpinan yang termasuk dalam tipe kepemimpinan bebas ini antara lain
 
1. Kepemimpinan Agitator
Tipe kepemimpinan ini diwarnai dengan kegiatan pemimpin dalam bentuk tekanan, adu domba, memperuncing perselisihan, menimbulkan dan memperbesar perpecahan/pertentangan dan lain-lain dengan maksud untuk memperoleh keuntungan bagi dirinya sendiri. Agitasi yang dilakukan terhadap orang luar atau organisasi lain, adalah untuk mendapatkan keuntungan bagi organisasinya dan bahkan untuk kepentingan pemimpin sendiri.
 
2. Kepemimpinan Simbol
ipe kepemimpinan ini menempatkan seorang pemimpin sekedar sebagai lambang atau simbol, tanpa menjalankan kegiatan kepemimpinan yang sebenarnya.
 
Di samping gaya kepemimpinan demokratis, otokrasi maupun bebas maka pada kenyataannya sulit untuk dibantah bila dikatakan terdapat beberapa gaya atau perilaku kepemimpinan yang tidak dapat dikategorikan ke dalam salah satu tipe kepemimpinan tersebut. Sehubungan dengan itu sekurang kurangnya terdapat lima gaya atau perilaku kepemimpinan seperti itu. Kelima gaya atau perilaku kepemimpinan itu adalah
 
1. Gaya atau Perilaku Kepemimpinan Ahli (Expert)
2. Gaya atau Perilaku Kepemimpinan Kharismatik
3. Gaya atau Perilaku Kepemimpinan Paternalistik
4. Gaya atau Perilaku Kepemimpinan Pengayom
5. Gaya atau Perilaku Kepemimpinan Tranformasional
 
KEKUASAAN DAN KONFLIK DALAM KEPEMIMPINAN
 
Kekuasaan
Kekuasaan dapat didefinisikan sebagai suatu potensi pengaruh dari seorang pemimpin. Kekuasaan seringkali dipergunakan silih berganti dengan istilah pengaruh dan otoritas.
 
Berbagai sumber dan jenis kekuasaan dari beberapa teoritikus seperti French dan Raven, Amitai Etzioni, Kenneth W. Thomas, Organ dan Bateman, dan Stepen P Robbins telah dikemukakan dalam kegiatan belajar ini.
 
Kekuasaan merupakan sesuatu yang dinamis sesuai dengan kondisi yang berubah dan tindakan-tindakan para pengikut. Berkaitan dengan hal ini telah dikemukakan social exchange theory, strategic contingency theory dan proses-proses politis sebagai usaha untuk mempertahankan, melindungi dan me-ningkatkan kekuasaan.
 
Dalam kaitan dengan kekuasaan, para pemimpin membutuhkan kekuasaan tertentu agar efektif. Keberhasilan pemimpin sangat tergantung pada cara penggunaan kekuasaan. Pemimpin yang efektif kemungkinan akan menggunakan kekuasaan dengan cara yang halus, hati-hati, meminimalisasi perbedaan status dan menghindari ancaman- ancaman terhadap rasa harga diri para pengikut.
 
Pengaruh
Pengaruh sebagai inti dari kepemimpinan merupakan kemampuan seseorang untuk mengubah sikap, perilaku orang atau kelompok dengan cara-cara yang spesifik. Seorang pemimpin yang efektif tidak hanya cukup memiliki kekuasaan, tetapi perlu pula mengkaji proses-proses mempengaruhi yang timbal balik yang terjadi antara pemimpin dengan yang dipimpin.
 
Para teoretikus telah mengidentifikasi berbagai taktik mempengaruhi yang berbeda-beda seperti persuasi rasional, permintaan berinspirasi, pertukaran, tekanan, permintaan pribadi, menjilat, konsultasi, koalisi, dan taktik mengesahkan. Pilihan taktik mempengaruhi yang akan digunakan oleh seorang pemimpin dalam usaha mempengaruhi para pengikutnya tergantung pada beberapa aspek situasi tertentu. Pada umumnya, para pemimpin lebih sering menggunakan taktik-taktik mempengaruhi yang secara sosial dapat diterima, feasible, memungkinkan akan efektif untuk suatu sasaran tertentu, memungkinkan tidak membutuhkan banyak waktu, usaha atau biaya.
 
Efektivitas masing-masing taktik mempengaruhi dalam usaha untuk memperoleh komitmen dari para pengikut antara lain tergantung pada keterampilan pemimpin, jenis permintaan serta position dan personal power pemimpin tersebut.
 
Konflik
Konflik dapat didefinisikan sebagai suatu proses di mana sebuah usaha dibuat dengan sengaja oleh seseorang atau suatu unit untuk menghalangi pihak lain yang menghasilkan kegagalan pencapaian tujuan pihak lain atau meneruskan kepentingannya.
 
Ada beberapa pandangan tentang konflik yaitu pandangan tradisional, netral dan interaksionis. Pandangan tradisional mengatakan bahwa konflik itu negatif, pandangan netral menganggap bahwa konflik adalah ciri hakiki tingkah laku manusia yang dinamis, sedangkan interaksionis mendorong terjadinya konflik.Untuk mengurangi, memecahkan dan menstimulasi konflik ada beberapa pendekatan atau strategi yang dapat ditempuh sebagaimana disarankan oleh beberapa teoretikus.
 
PERKEMBANGAN MUTAKHIR TENTANG KEPEMIMPINAN
 
Kepemimpinan Perempuan
Perubahan lingkungan dan pergeseran budaya telah mempengaruhi dinamika kepemimpinan perempuan. Pada umumnya pemimpin perempuan cenderung diberikan porsi pada organisasi perempuan dan sosial. Namun dengan adanya globalisasi telah merubah paradigma kepemimpinan ke arah pertimbangan core competence yang dapat berdaya saing di pasar global Oleh sebab itu banyak organisasi berkaliber dunia yang memberikan kesempatan bagi perempuan yang mampu dan memenuhi persyaratan kepemimpinan sesuai situasi dan kondisi sekarang ini.
 
Hambatan bagi kepemimpinan perempuan lebih banyak akibat adanya stereotipe negatif tentang kepemimpinan perempuan serta dari mental (perempuan) yang bersangkutan. Stereotipe-stereotipe tersebut muncul sebagai akibat dari pemikiran individu dan kolektif yang berasal dari latar belakang sosial budaya dan karakteristik pemahaman masyarakat terhadap gender serta tingkat pembangunan suatu negara atau wilayah.
Dari hasil temuan, ternyata tidak ditemukan adanya perbedaan antara gaya kepemimpinan perempuan dengan laki-laki, walaupun ada sedikit perbedaan potensi kepemimpinan perempuan dan laki-laki, di mana keunggulan dan kelemahan potensi kepemimpinan perempuan dan laki-laki merupakan hal yang saling mengisi. Begitu juga dengan karakteristik kepemimpinan perempuan dan laki-laki dapat disinergikan menjadi kekuatan yang harmonis bagi organisasi yang bersangkutan.
 
Untuk menduduki posisi kepemimpinan dalan organisasi di era global, perempuan perlu meningkatkan ESQ dan memperkaya karakteristik kepemimpinannya dengan komponen-komponen, antara lain pembangunan mental, ketangguhan pribadi dan ketangguhan sosial serta menutupi agresivitasnya menjadi ketegasan sikap, inisiatif, dan percaya diri akan kompetensinya.
 
Kepemimpinan dalam Beragam Budaya dan Negara
Pada kegiatan belajar ini telah Anda lihat bahwa terdapat perbedaan mendasar dari sikap dan perilaku pemimpin pada berbagai Negara atau budaya. Namun demikian, terdapat dimensi kepemimpinan yang secara universal relatif sama yaitu setiap pemimpin diharapkan mampu proaktif dan tidak otoriter. Di samping itu, terdapat pula beberapa variasi sikap dan perilaku pemimpin di dalam kelompok budaya dan di dalam Negara pada berbagai budaya atau Negara. Demikian pula terdapat perbedaan sikap dan perilaku pemimpin pada Negara- Negara yang menganut system nilai berbeda.
 
Kepemimpinan Visioner
Seorang pemimpin visioner harus bisa menjadi penentu arah, agen perubahan, juru bicara dan pelatih. Oleh karena itu seorang pemimpin visioner harus:
 
1. menyusun arah dan secara personal sepakat untuk menyebarkan kepemimpinan visioner ke seluruh organisasi.
2. memberdayakan para karyawan dalam bertindak untuk mendengar dan mengawasi umpan balik.
3. selalu memfokuskan perhatian dalam membentuk organisasi mencapai potensi terbesarnya.
 
Kepemimpinan Ahli
Pada era globalisasi, banyak terjadi perubahan dalam segala sendi kehidupan masyarakat, terutama yang berhubungan dengan bidang ekonomi perdagangan, industri, telekomunikasi dan informasi. Dalam masa post modernism yang sekarang sedang kita jalani, perubahan paradigma manajemen turut bergerak secara dinamis, dari paradigma manajemen klasik hingga paradigma post modernism yang salah satunya diwakili oleh learning organization dengan pengukuran kinerja balanced score card yang memperhitungkan pula keterkaitan dengan lingkungan luar organisasi.
 
Secara historis, paradigma kepemimpinan tersebut terbagi dalam beberapa lokus dan fokus keilmuan, yang diwakili dalam kelompok paradigma aliran wilayah utara, barat, timur dan global baru. Hal tersebut, dipaparkan dalam beberapa kategori, antara lain dalam kategori manajer individual, yang terbagi menjadi manajemen efektif (Drucker), manajemen perusahaan (Peters), manajemen kualitas total (Toyota), keahlian diri pada bidang tertentu (self- mastery); kategori kelompok sosial terbagi menjadi kerjasama tim yang efektif (Likert), pembagian nilai (Deal/Kennedy), siklus atau lingkaran kualitas (Sony), sinergi sosial; kategori organisasi secara keseluruhan yang terbagi menjadi organisasi yang hirarkis (Chandler), organisasi jaringan (Handy) organisasi ramping (Honda), organisasi yang belajar (learning organization), kategori ekonomi dan masyarakat yang terbagi menjadi tanggungjawab badan hukum (Chandler), perusahaan swasta yang mandiri atau bebas (Gilder), modal atau investasi sumber daya manusia (Ozaka) dan pembangunan yang berkelanjutan.
 
Globalisasi juga telah mempengaruhi terjadinya perubahan paradigma dalam praktik manajemen khususnya kepemimpinan. Secara garis besar, perbedaaan antara paradigma lama dan baru dilihat dari aspek-aspek antara lain berikut ini:
 
1. dari aspek tanggung jawab organisasi: paradigma lama menitikberatkan pada pertanggungjawaban organisasi tentang lingkungan akibat dari proses input-proses-output organisasi sedangkan pada paradigma baru menekankan tanggungjawab pada pembangunan yang berkelanjutan.
 
2. dari aspek tim manajemen: paradigma lama menekankan struktur dan fungsi interaksi kelompok untuk mencapai sinergi sosial dalam mengelola organisasi masing-masing, sedangkan paradigma baru menitikberatkan pada struktur dan proses dengan pendekatan learning organization.
 
3. dari aspek kepemimpinan manajemen: paradigma lama menitikberatkan pada kapasitas individual manajer dalam memimpin, sedangkan paradigma baru menekankan keunggulan diri manajer (self-mastery) dalam memimpin.
 
Kesemua perjalananan dan dinamika faktor-faktor organisasi tersebut baik eksternal maupun internal, telah membawa perubahan paradigma kepemimpinan yang dinamis dan fleksibel. Perubahan tersebut banyak menyangkut pada pembentukan mental pribadi manajer dan pembentukan visi manajer serta organisasi.
 
APLIKASI KEPEMIMPINAN DALAM ORGANISASI
 
Kepemimpinan, Organisasi dan Perubahan Lingkungan
Ada tiga jenis perubahan yaitu perubahan rutin, perubahan pengembangan, dan inovasi. Mengelola perubahan adalah hal yang sulit. Ukuran kapasitas kepemimpinan seseorang salah satu diantaranya adalah kemampuannya dalam mengelola perubahan. Kemampuan ini penting sebab pada masa kini pemimpin, akan selalu dihadapkan pada perubahan-perubahan, sehingga pemimpin dituntut untuk mampu menyesuaikan dengan perubahan lingkungan.
 
Pemimpin yang kuat bahkan mampu mempelopori perubahan lingkungan. Ada empat tahap yang harus dilakukan agar pemimpin dapat mengelola perubahan lingkungan. Tahap-tahap tersebut adalah pertama, mengidentifikasi perubahan; Kedua, Menilai posisi organisasi; Ketiga, Merencanakan dan melaksanakan perubahan; dan Keempat, Melakukan evaluasi. Untuk memperoleh hasil yang diharapkan maka keempat langkah tersebut perlu dilakukan secara berurutan dan berkesinambungan.
 
Kepemimpinan dan Budaya Organisasi
Tugas utama seorang pemimpin adalah mengajak orang untuk menyumbangkan bakatnya secara senang hati dan bersemangat untuk kepentingan organisasi. Dengan demikian pemimpin atau manajer harus mengarahkan perilaku para anggota organisasi agar tujuan organisasi dapat tercapai. Para pemimpin perlu membentuk, mengelola, meningkatkan, dan mengubah budaya kerja organisasi. Untuk melaksanakan tugas tersebut, manajer perlu menggunakan kemampuannya dalam membaca kondisi lingkungan organisasi, menetapkan strategi organisasi, memilih teknologi yang tepat, menetapkan struktur organisasi yang sesuai, sistem imbalan dan hukuman, sistem pengelolaan sumberdaya manusia, sistem dan prosedur kerja, dan komunikasi serta motivasi.
 
Salah satu cara mengembangkan budaya adalah dengan menetapkan visi yang jelas dan langkah yang strategis, mengembangkan alat ukur kinerja yang jelas, menindaklanjuti tujuan yang telah dicapai, menetapkan sistem imbalan yang adil, menciptakan iklim kerja yang lebih terbuka dan transparan, mengurangi permainan politik dalam organisasi, dan mengembangkan semangat kerja tim melalui pengembangan nilai-nilai inti.
 
Kepemimpinan dan Inovasi
Inovasi berbeda dengan kreativitas. Kreativitas lebih berfokus pada penciptaan ide sedangkan inovasi berfokus pada bagaimana mewujudkan ide. Karena inovasi adalah proses mewujudkan ide, maka diperlukan dukungan dari faktor-faktor organisasional dan leaderships.
 
Dalam membahas inovasi paling tidak ada duabelas tema umum yang berkaitan dengan pembahasan tentang inovasi yaitu kreativitas dan inovasi, karakteristik umum orang-orang kreatif, belajar atau bakat, motivasi, hambatan untuk kreatif dan budaya organisasi, struktur organisasi, struktur kelompok, peranan pengetahuan, kreativitas radikal atau inkrimental, struktur dan tujuan,proses, dan penilaian. Kemampuan organisasi dalam mengelola keduabelas tema tersebut akan menentukan keberhasilannya dalam melakukan inovasi.
 
Inovasi berkaitan erat dengan proses penciptaan pengetahuan. Proses penciptaan pengetahuan dilakukan dengan melakukan observasi atas kejadian, mengolahnya menjadi data, lalu data dijadikan informasi, dan informasi diberikan konteks sehingga menjadi pengetahuan. Pengetahuan inilah yang oleh pemimpin dijadikan arah atau bekal untuk melakukan inovasi. Organisasi yang mampu secara terus menerus melakukan penciptaan pengetahuan disebut sebagai learning organization.
 
Sumber Buku Kepemimpinan Karya TIM FISIP
Diposkan oleh Ahmad Kurnia El-Qorni

September 19, 2013 at 4:36 am Tinggalkan komentar

ANALISIS WACANA

Keterampilan membaca memang amat diperlukan oleh siapa pun yang mulai memasuki dunia informasi melalui media tulis, baik dengan media buku maupun media lain, termasuk jaringan yang semakin maju. Oleh sebab itu, sebagai suatu keterampilan berbahasa, membaca memerlukan pelatihan dan strategi khusus guna memperoleh hasil yang optimal dari apa yang kita inginkan. Berikut ini ditampilkan tulisan dari Papirus Biru, yan tentunya amat berguna bagi kita.

Analisis Wacana

Wacana adalah kata yang sering dipakai masyarakat dewasa ini. Banyak pengertian yang merangkai kata wacana ini. Dalam lapangan sosiologi, wacana menunjuk terutama dalam hubungan konteks sosial dari pemakaian bahasa. Dalam pengertian linguistik, wacana adalah unit bahasa yang lebih besar daripada kalimat. Sedangkan menurut Michael Foucault (1972), wacana; kadang kala sebagai bidang dari semua pernyataan (statement), kadang kala sebagai sebuah individualisasi kelompok pernyataan, dan kadang kala sebagai praktik regulatif yang dilihat dari sejumlah pernyataan.

Menurut Eriyanto (Analisis Wacana, Pengantar Analisis Teks Media), Analisis Wacana dalam studi linguistik merupakan reaksi dari bentuk linguistik formal (yang lebih memperhatikan pada unit kata, frase, atau kalimat semata tanpa melihat keterkaitan di antara unsur tersebut). Analisis wacana adalah kebalikan dari linguistik formal, karena memusatkan perhatian pada level di atas kalimat, seperti hubungan gramatikal yang terbentuk pada level yang lebih besar dari kalimat. Analisis wacana dalam lapangan psikologi sosial diartikan sebagai pembicaraan. Wacana yang dimaksud di sini agak mirip dengan struktur dan bentuk wawancara dan praktik dari pemakainya. Sementara dalam lapangan politik, analisis wacana adalah praktik pemakaian bahasa, terutama politik bahasa. Karena bahasa adalah aspek sentral dari penggambaran suatu subyek, dan lewat bahasa ideologi terserap di dalamnya, maka aspek inilah yang dipelajari dalam analisis wacana.

Ada tiga pandangan mengenai bahasa dalam bahasa. Pandangan pertama diwakili kaum positivisme-empiris. Menurut mereka, analisis wacana menggambarkan tata aturan kalimat, bahasa, dan pengertian bersama. Wacana diukur dengan pertimbangan kebenaran atau ketidakbenaran menurut sintaksis dan semantik (titik perhatian didasarkan pada benar tidaknya bahasa secara gramatikal) — Analisis Isi (kuantitatif)

Pandangan kedua disebut sebagai konstruktivisme. Pandangan ini menempatkan analisis wacana sebagai suatu analisis untuk membongkar maksud-maksud dan makna-makna tertentu. Wacana adalah suatu upaya pengungkapan maksud tersembunyi dari sang subyek yang mengemukakan suatu pertanyaan. Pengungkapan dilakukan dengan menempatkan diri pada posisi sang pembicara dengan penafsiran mengikuti struktur makna dari sang pembicara. –Analisis Framing (bingkai)

Pandangan ketiga disebut sebagai pandangan kritis. Analisis wacana dalam paradigma ini menekankan pada konstelasi kekuatan yang terjadi pada proses produksi dan reproduksi makna. Bahasa tidak dipahami sebagai medium netral yang terletak di luar diri si pembicara. Bahasa dipahami sebagai representasi yang berperan dalam membentuk subyek tertentu, tema-tema wacana tertentu, maupun strategi-strategi di dalamnya. Oleh karena itu analisis wacana dipakai untuk membongkar kuasa yang ada dalam setiap proses bahasa; batasan-batasan apa yang diperkenankan menjadi wacana, perspektif yang mesti dipakai, topik apa yang dibicarakan. Wacana melihat bahasa selalu terlibat dalam hubungan kekuasaan. Karena memakai perspektif kritis, analisis wacana kategori ini disebut juga dengan analisis wacana kritis (critical discourse analysis). Ini untuk membedakan dengan analisis wacana dalam kategori pertama dan kedua (discourse analysis).

Paradigma Kritis

Everett M. Roger, seperti dikutip oleh Eriyanto, mengemukakan bahwa “media bukanlah entitas yang netral, tetapi bisa dikuasai oleh kelompok dominan.” Saya memahami pernyataan Everett M. Roger bahwa media memiliki kemungkinan besar dikuasai oleh kelompok berkuasa atau kelompok-kelompok yang memegang kekuasaan.

Menurut Eriyanto ada beberapa pertanyaan yang muncul dari sebuah paradigma kritis. Yaitu: siapa yang mengontrol media? Kenapa ia mengontrol? Keuntungan apa yang bisa diambil dengan kontrol tersebut? Kelompok mana yang tidak dominan dan menjadi obyek pengontrolan?

Mengapa pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi penting? Karena paradigma kritis ini percaya bahwa media adalah sarana di mana kelompok dominan dapat mengontrol kelompok yang tidak dominan, bahkan memarjinalkan mereka dengan menguasai dan mengontrol media. Sehingga jawaban yang diharapkan dari pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah adanya kekuatan-kekuatan yang berbeda dalam masyarakat yang mengontrol suatu proses komunikasi.

Menurut Horkheimer, seperti dikutip Eriyanto, salah satu sifat dasar dari teori kritis adalah selalu curiga dan mempertanyakan kondisi masyarakat dewasa ini. Karena kondisi masyarakat yang kelihatannya produktif dan bagus tersebut sesungguhnya terselubung struktur masyarakat yang menindas dan menipu kesadaran khalayak.

Mengenai paradigma kritis, Stephen W. Littlejohn, seperti dikutip Alex Sobur, menjelaskan: “Perkembangan teori komunikasi massa yang didasarkan pada tradisi kritis Eropa (Marxis) cenderung memandang media sebagai alat ideologi kelas dominan. Tradisi Eropa berusaha mematahkan dominasi model komunikasi Amerika yang notabene adalah penganut aliran Laswellian ataupun stimulus-respon, teori yang berasumsi khalayak adalah konsumer pasif media massa. Dengan kata lain, fenomena komunikasi massa bukanlah sekedar sebuah proses yang linear atau sebatas transmisi (pengiriman) pesan kepada khalayak massa, tetapi dalam proses tersebut komunikasi dilihat sebagai produksi dan pertukaran pesan (atau teks) berinteraksi dengan masyarakat yang bertujuan memproduksi makna tertentu.”

Dari pernyataan yang diberikan Stephen W. Littlejohn dan Everett M. Roger mengenai paradigma kritis, saya dapat menyimpulkan bahwa media merupakan sebuah alat penyebaran ideologi kelas dominan (para penguasa maupun pemilik modal). Sehingga komunikasi didefinisikan sebagai sarana pertukaran pesan yang bertujuan memproduksi makna tertentu, dimana komunikasi tersebut tentunya mewakili kepentingan kelompok dominan.

Menurut Stuart Hall, paradigma kritis bukan hanya mengubah pandangan mengenai realitas yang dipandang alamiah oleh kaum pluralis, tetapi juga berargumentasi bahwa media adalah kunci utama dari sebuah pertarungan kekuasaan. Karena melalui media, nilai-nilai kelompok dominan dimapankan, dibuat berpengaruh, dan menentukan apa yang diinginkan oleh khalayak.

Dalam proses pembentukan realitas, Stuart Hall menekankan pada dua titik, yaitu bahasa dan penandaan politik. Penandaan politik disini diartikan sebagai bagaimana praktik sosial dalam membentuk makna, mengontrol, dan menentukan makna. Menurut Hall, media berperan dalam menandakan peristiwa atau realitas dalam pandangan tertentu, dan menunjukkan bagaimana kekuasaan ideologi di sini berperan – karena ideologi menjadi bidang di mana pertarungan dari kelompok yang ada dalam masyarakat.

Media Massa

Menurut Alex Sobur, media (pers) sering disebut banyak orang sebagai the fourth estate (kekuatan keempat) dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan politik. Hal ini terutama disebabkan oleh suatu persepsi tentang peran yang dapat dimainkan oleh media dalam kaitannya dengan pengembangan kehidupan sosial-ekonomi dan politik masyarakat. Bahkan, media, terlebih dalam posisinya sebagai suatu institusi informasi, dapat pula dipandang sebagai faktor yang paling menentukan dalam proses-proses perubahan sosial-budaya dan politik. Oleh karena itu, dalam konteks media massa sebagai institusi informasi, Karl Deutsch, menyebutnya sebagai “urat nadi pemerintah” (the nerves of government).

Alex Sobur sendiri mendefinisikan media massa sebagai: “Suatu alat untuk menyampaikan berita, penilaian, atau gambaran umum tentang banyak hal, ia mempunyai kemampuan untuk berperan sebagai institusi yang dapat membentuk opini publik, antara lain, karena media juga dapat berkembang menjadi kelompok penekan atas suatu ide atau gagasan, dan bahkan suatu kepentingan atau citra yang ia representasikan untuk diletakkan dalam konteks kehidupan yang lebih empiris.”

Berdasarkan pendefinisian media massa menurut Alex Sobur, saya memahami bahwa media massa merupakan suatu alat yang digunakan untuk menyebarkan pendapat umum (opini publik) dari pihak-pihak dominan, misalnya saja pemerintah. Biasanya kelompok dominan menggunakan media massa untuk melakukan pengkonstruksian realitas yang berujung pada upaya legitimasi masyarakat terhadap suatu wacana.

Louis Althusser, menulis bahwa, “Media, dalam hubungannya dengan kekuasaan, menempati posisi strategis, terutama karena anggapan akan kemampuannya sebagai saran legitimasi. Media massa sebagimana lembaga-lembaga pendidikan, agama, seni, dan kebudayaan, merupakan bagian dari alat kekuasaan negara yang bekerja secara ideologis guna membangun kepatuhan khalayak terhadap kelompok yang berkuasa (ideological states apparatus).”

Namun, pandangan Althusser tentang media ini dianggap Antonio Gramsci, dalam Al-Zastrouw, mengabaikan resistensi ideologis dari kelas tersubordinasi dalam ruang media. Bagi Gramsci, media merupakan arena pergulatan antarideologi yang saling berkompetisi (the battle ground for competing ideologies).

Antonio Gramsci dalam Alex Sobur melihat, “Media sebagai ruang di mana berbagai ideologi di representasikan. Ini berarti, di satu sisi media bisa menjadi sarana penyebaran ideologi penguasa, alat legitimasi, dan kontrol atas wacana publik. Namun di sisi lain, media juga bisa menjadi alat resistensi terhadap kekuasaan. Media bisa menjadi alat untuk membangun kultur dan ideologi dominan bagi kepentingan kelas dominan, sekaligus juga bisa menjadi instrumen perjuangan bagi kaum tertindas untuk membangun kultur dan ideologi tandingan.”

Dari semua penjabaran mengenai media massa, saya menyimpulkan, media massa merupakan alat atau sarana penyebaran ideologi kelompok dominan, alat legitimasi, dan alat kontrol sosial atas wacana publik. Sehingga tidak menutup kemungkinan terjadinya praktek diskursif oleh media terhadap kelompok-kelompok marjinal, yang ditekan oleh kelompok dominan (penguasa). Bahkan, praktek diskursif tadi dapat dimanfaatkan media sebagai alat legitimasi atau pembenaran-pembenaran terhadap suatu konteks permasalahan yang tidak sesuai dengan ideologi dominan.

Alex Sobur berpendapat, bahwa isi media pada hakekatnya adalah hasil konstruksi realitas dengan bahasa sebagai perangkat dasarnya. Begitu juga media cetak, isi media cetak menggunakan teks dan bahasa.

Guy Cook menyebut tiga hal yang sentral dalam pengertian wacana, yaitu teks, konteks, dan wacana. Eriyanto kemudian menjelaskan ketiga makna tersebut, “Teks adalah semua bentuk bahasa, bukan hanya kata-kata yang tercetak di lembar kertas, tetapi juga semua jenis ekspresi komunikasi, ucapan, musik gambar, efek suara, citra, dan sebagainya. Konteks memasukkan semua situasi dan hal yang berada di luar teks dan mempengaruhi pemakaian bahasa, seperti partisipan dalam bahasa, situasi dimana teks tersebut diproduksi. Wacana disini, kemudian dimaknai sebagai teks dan konteks bersama-sama.”

Dari penjelasan diatas, saya memahami bahwa teks memiliki peranan yang signifikan dalam pembentukan wacana.

Menurut Ibnu Hamad, benar bahwa unsur utama dalam konstruksi realitas adalah bahasa. Kemudian ia mengutip dari Giles dan Wiemann, “bahasa (teks) mampu menentukan konteks”. Karena lewat bahasa disini orang mencoba mempengaruhi orang lain (menunjukkan kekuasaannya) melalui pemilihan kata yang secara efektif mampu memanipulasi konteks.

Namun, menurut Hotman M. Siahaan: “Bahasa tak dapat dipandang sebagai alat komunikasi atau sebuah sistem kode atau nilai yang secara wewenang menunjuk sesuatu realitas monolitik. Bahasa merupakan bahasa sosial dan bukan sesuatu yang netral atau konsisten, melainkan partisipan dalam proses tahu, budaya, dan politik. Bahasa bukan merupakan sesuatu yang transparan, yang menangkap dan memantulkan segala sesuatu diluarnya secara jernih. Secara sosial, terikat bahasa dikonstruksi dan direkonstruksi dalam kondisi khusus dan setting sosial tertentu dan bukan semata tertata menurut hukum yang diatur secara alamiah dan universal. Karenanya sebagai representasi hubungan sosial tertentu, bahasa senantiasa membentuk subyek-subyek, strategi-strategi, dan tema-tema wacana atau diskursus tertentu.”

Norman Fairclough melihat bahasa sebagai praktek kekuasaan. Karena bahasa secara sosial dan historis dianggap sebagai bentuk tindakan, dalam hubungan dialektik dengan struktur sosial. Sehingga dalam menganalisis wacana, Fairclough memusatkan pada bagaimana bahasa itu terbentuk dan dibentuk dari relasi sosial dan konteks sosial tertentu.

Berdasarkan beberapa penjelasan diatas, saya menyimpulkan bahwa bahasa tidak hanya sebagai bahasa verbal, melainkan juga sebagai sebuah kegiatan sosial yang tidak netral dan tidak konsisten. Dalam konteks sosial, bahasa dapat dikonstruksi ataupun direkonstruksi pada kondisi dan setting sosial tertentu.

Untuk kalangan kritis (critical), bahasa dipandang sebagai alat perjuangan kelas. Makna dalam hal ini tidak ditentukan oleh struktur realitas, melainkan oleh kondisi ketika pemaknaan dilakukan melalui praktek sosial, dimana terdapat peluang yang sangat besar bagi terjadinya pertarungan kelas dan ideologi.

Sumber: Papirus Biru

September 6, 2009 at 12:50 pm Tinggalkan komentar

Analisis Wacana

Analisis Wacana

Wacana adalah kata yang sering dipakai masyarakat dewasa ini. Banyak pengertian yang merangkai kata wacana ini. Dalam lapangan sosiologi, wacana menunjuk terutama dalam hubungan konteks sosial dari pemakaian bahasa. Dalam pengertian linguistik, wacana adalah unit bahasa yang lebih besar daripada kalimat. Sedangkan menurut Michael Foucault (1972), wacana; kadangkala sebagai bidang dari semua pernyataan (statement), kadangkala sebagai sebuah individualisasi kelompok pernyataan, dan kadangkala sebagai praktik regulatif yang dilihat dari sejumlah pernyataan.

Menurut Eriyanto (Analisis Wacana, `Pengantar Analisis Teks Media`), Analisis Wacana dalam studi linguistik merupakan reaksi dari bentuk linguistik formal (yang lebih memperhatikan pada unit kata, frase, atau kalimat semata tanpa melihat keterkaitan di antara unsur tersebut). Analisis wacana adalah kebalikan dari linguistik formal, karena memusatkan perhatian pada level di atas kalimat, seperti hubungan gramatikal yang terbentuk pada level yang lebih besar dari kalimat. Analisis wacana dalam lapangan psikologi sosial diartikan sebagai pembicaraan. Wacana yang dimaksud di sini agak mirip dengan struktur dan bentuk wawancara dan praktik dari pemakainya. Sementara dalam lapangan politik, analisis wacana adalah praktik pemakaian bahasa, terutama politik bahasa. Karena bahasa adalah aspek sentral dari penggambaran suatu subyek, dan lewat bahasa ideologi terserap di dalamnya, maka aspek inilah yang dipelajari dalam analisis wacana.

Ada tiga pandangan mengenai bahasa dalam bahasa. Pandangan pertama diwakili kaum positivisme-empiris. Menurut mereka, analisis wacana menggambarkan tata aturan kalimat, bahasa, dan pengertian bersama. Wacana diukur dengan pertimbangan kebenaran atau ketidakbenaran menurut sintaksis dan semantik (titik perhatian didasarkan pada benar tidaknya bahasa secara gramatikal) — Analisis Isi (kuantitatif)

Pandangan kedua disebut sebagai konstruktivisme. Pandangan ini menempatkan analisis wacana sebagai suatu analisis untuk membongkar maksud-maksud dan makna-makna tertentu. Wacana adalah suatu upaya pengungkapan maksud tersembunyi dari sang subyek yang mengemukakan suatu pertanyaan. Pengungkapan dilakukan dengan menempatkan diri pada posisi sang pembicara dengan penafsiran mengikuti struktur makna dari sang pembicara. –Analisis Framing (bingkai)

Pandangan ketiga disebut sebagai pandangan kritis. Analisis wacana dalam paradigma ini menekankan pada konstelasi kekuatan yang terjadi pada proses produksi dan reproduksi makna. Bahasa tidak dipahami sebagai medium netral yang terletak di luar diri si pembicara. Bahasa dipahami sebagai representasi yang berperan dalam membentuk subyek tertentu, tema-tema wacana tertentu, maupun strategi-strategi di dalamnya. Oleh karena itu analisis wacana dipakai untuk membongkar kuasa yang ada dalam setiap proses bahasa; batasan-batasan apa yang diperkenankan menjadi wacana, perspektif yang mesti dipakai, topik apa yang dibicarakan. Wacana melihat bahasa selalu terlibat dalam hubungan kekuasaan. Karena memakai perspektif kritis, analisis wacana kategori ini disebut juga dengan analisis wacana kritis (critical discourse analysis). Ini untuk membedakan dengan analisis wacana dalam kategori pertama dan kedua (discourse analysis).

Paradigma Kritis

Everett M. Roger, seperti dikutip oleh Eriyanto, mengemukakan bahwa “media bukanlah entitas yang netral, tetapi bisa dikuasai oleh kelompok dominan.” Saya memahami pernyataan Everett M. Roger bahwa media memiliki kemungkinan besar dikuasai oleh kelompok berkuasa atau kelompok-kelompok yang memegang kekuasaan.

Menurut Eriyanto ada beberapa pertanyaan yang muncul dari sebuah paradigma kritis. Yaitu: siapa yang mengontrol media? Kenapa ia mengontrol? Keuntungan apa yang bisa diambil dengan kontrol tersebut? Kelompok mana yang tidak dominan dan menjadi obyek pengontrolan?

Mengapa pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi penting? Karena paradigma kritis ini percaya bahwa media adalah sarana di mana kelompok dominan dapat mengontrol kelompok yang tidak dominan, bahkan memarjinalkan mereka dengan menguasai dan mengontrol media. Sehingga jawaban yang diharapkan dari pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah adanya kekuatan-kekuatan yang berbeda dalam masyarakat yang mengontrol suatu proses komunikasi.

Menurut Horkheimer, seperti dikutip Eriyanto, salah satu sifat dasar dari teori kritis adalah selalu curiga dan mempertanyakan kondisi masyarakat dewasa ini. Karena kondisi masyarakat yang kelihatannya produktif dan bagus tersebut sesungguhnya terselubung struktur masyarakat yang menindas dan menipu kesadaran khalayak.

Mengenai paradigma kritis, Stephen W. Littlejohn, seperti dikutip Alex Sobur, menjelaskan: “Perkembangan teori komunikasi massa yang didasarkan pada tradisi kritis Eropa (Marxis) cenderung memandang media sebagai alat ideologi kelas dominan. Tradisi Eropa berusaha mematahkan dominasi model komunikasi Amerika yang notabene adalah penganut aliran Laswellian ataupun stimulus-respon, teori yang berasumsi khalayak adalah konsumer pasif media massa. Dengan kata lain, fenomena komunikasi massa bukanlah sekedar sebuah proses yang linear atau sebatas transmisi (pengiriman) pesan kepada khalayak massa, tetapi dalam proses tersebut komunikasi dilihat sebagai produksi dan pertukaran pesan (atau teks) berinteraksi dengan masyarakat yang bertujuan memproduksi makna tertentu.”

Dari pernyataan yang diberikan Stephen W. Littlejohn dan Everett M. Roger mengenai paradigma kritis, saya dapat menyimpulkan bahwa media merupakan sebuah alat penyebaran ideologi kelas dominan (para penguasa maupun pemilik modal). Sehingga komunikasi didefinisikan sebagai sarana pertukaran pesan yang bertujuan memproduksi makna tertentu, dimana komunikasi tersebut tentunya mewakili kepentingan kelompok dominan.

Menurut Stuart Hall, paradigma kritis bukan hanya mengubah pandangan mengenai realitas yang dipandang alamiah oleh kaum pluralis, tetapi juga berargumentasi bahwa media adalah kunci utama dari sebuah pertarungan kekuasaan. Karena melalui media, nilai-nilai kelompok dominan dimapankan, dibuat berpengaruh, dan menentukan apa yang diinginkan oleh khalayak.

Dalam proses pembentukan realitas, Stuart Hall menekankan pada dua titik, yaitu bahasa dan penandaan politik. Penandaan politik disini diartikan sebagai bagaimana praktik sosial dalam membentuk makna, mengontrol, dan menentukan makna. Menurut Hall, media berperan dalam menandakan peristiwa atau realitas dalam pandangan tertentu, dan menunjukkan bagaimana kekuasaan ideologi di sini berperan – karena ideologi menjadi bidang di mana pertarungan dari kelompok yang ada dalam masyarakat.

Media Massa

Menurut Alex Sobur, media (pers) sering disebut banyak orang sebagai the fourth estate (kekuatan keempat) dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan politik. Hal ini terutama disebabkan oleh suatu persepsi tentang peran yang dapat dimainkan oleh media dalam kaitannya dengan pengembangan kehidupan sosial-ekonomi dan politik masyarakat. Bahkan, media, terlebih dalam posisinya sebagai suatu institusi informasi, dapat pula dipandang sebagai faktor yang paling menentukan dalam proses-proses perubahan sosial-budaya dan politik. Oleh karena itu, dalam konteks media massa sebagai institusi informasi, Karl Deutsch, menyebutnya sebagai “urat nadi pemerintah” (the nerves of government).

Alex Sobur sendiri mendefinisikan media massa sebagai: “Suatu alat untuk menyampaikan berita, penilaian, atau gambaran umum tentang banyak hal, ia mempunyai kemampuan untuk berperan sebagai institusi yang dapat membentuk opini publik, antara lain, karena media juga dapat berkembang menjadi kelompok penekan atas suatu ide atau gagasan, dan bahkan suatu kepentingan atau citra yang ia representasikan untuk diletakkan dalam konteks kehidupan yang lebih empiris.”

Berdasarkan pendefinisian media massa menurut Alex Sobur, saya memahami bahwa media massa merupakan suatu alat yang digunakan untuk menyebarkan pendapat umum (opini publik) dari pihak-pihak dominan, misalnya saja pemerintah. Biasanya kelompok dominan menggunakan media massa untuk melakukan pengkonstruksian realitas yang berujung pada upaya legitimasi masyarakat terhadap suatu wacana.

Louis Althusser, menulis bahwa, “Media, dalam hubungannya dengan kekuasaan, menempati posisi strategis, terutama karena anggapan akan kemampuannya sebagai saran legitimasi. Media massa sebagimana lembaga-lembaga pendidikan, agama, seni, dan kebudayaan, merupakan bagian dari alat kekuasaan negara yang bekerja secara ideologis guna membangun kepatuhan khalayak terhadap kelompok yang berkuasa (ideological states apparatus).”

Namun, pandangan Althusser tentang media ini dianggap Antonio Gramsci, dalam Al-Zastrouw, mengabaikan resistensi ideologis dari kelas tersubordinasi dalam ruang media. Bagi Gramsci, media merupakan arena pergulatan antarideologi yang saling berkompetisi (the battle ground for competing ideologies).

Antonio Gramsci dalam Alex Sobur melihat, “Media sebagai ruang di mana berbagai ideologi di representasikan. Ini berarti, di satu sisi media bisa menjadi sarana penyebaran ideologi penguasa, alat legitimasi, dan kontrol atas wacana publik. Namun di sisi lain, media juga bisa menjadi alat resistensi terhadap kekuasaan. Media bisa menjadi alat untuk membangun kultur dan ideologi dominan bagi kepentingan kelas dominan, sekaligus juga bisa menjadi instrumen perjuangan bagi kaum tertindas untuk membangun kultur dan ideologi tandingan.”

Dari semua penjabaran mengenai media massa, saya menyimpulkan, media massa merupakan alat atau sarana penyebaran ideologi kelompok dominan, alat legitimasi, dan alat kontrol sosial atas wacana publik. Sehingga tidak menutup kemungkinan terjadinya praktek diskursif oleh media terhadap kelompok-kelompok marjinal, yang ditekan oleh kelompok dominan (penguasa). Bahkan, praktek diskursif tadi dapat dimanfaatkan media sebagai alat legitimasi atau pembenaran-pembenaran terhadap suatu konteks permasalahan yang tidak sesuai dengan ideologi dominan.

Alex Sobur berpendapat, bahwa isi media pada hakekatnya adalah hasil konstruksi realitas dengan bahasa sebagai perangkat dasarnya. Begitu juga media cetak, isi media cetak menggunakan teks dan bahasa.

Guy Cook menyebut tiga hal yang sentral dalam pengertian wacana, yaitu teks, konteks, dan wacana. Eriyanto kemudian menjelaskan ketiga makna tersebut, “Teks adalah semua bentuk bahasa, bukan hanya kata-kata yang tercetak di lembar kertas, tetapi juga semua jenis ekspresi komunikasi, ucapan, musik gambar, efek suara, citra, dan sebagainya. Konteks memasukkan semua situasi dan hal yang berada di luar teks dan mempengaruhi pemakaian bahasa, seperti partisipan dalam bahasa, situasi dimana teks tersebut diproduksi. Wacana disini, kemudian dimaknai sebagai teks dan konteks bersama-sama.”

Dari penjelasan diatas, saya memahami bahwa teks memiliki peranan yang signifikan dalam pembentukan wacana.

Menurut Ibnu Hamad, benar bahwa unsur utama dalam konstruksi realitas adalah bahasa. Kemudian ia mengutip dari Giles dan Wiemann, “bahasa (teks) mampu menentukan konteks”. Karena lewat bahasa disini orang mencoba mempengaruhi orang lain (menunjukkan kekuasaannya) melalui pemilihan kata yang secara efektif mampu memanipulasi konteks.

Namun, menurut Hotman M. Siahaan: “Bahasa tak dapat dipandang sebagai alat komunikasi atau sebuah sistem kode atau nilai yang secara wewenang menunjuk sesuatu realitas monolitik. Bahasa merupakan bahasa sosial dan bukan sesuatu yang netral atau konsisten, melainkan partisipan dalam proses tahu, budaya, dan politik. Bahasa bukan merupakan sesuatu yang transparan, yang menangkap dan memantulkan segala sesuatu diluarnya secara jernih. Secara sosial, terikat bahasa dikonstruksi dan direkonstruksi dalam kondisi khusus dan setting sosial tertentu dan bukan semata tertata menurut hukum yang diatur secara alamiah dan universal. Karenanya sebagai representasi hubungan sosial tertentu, bahasa senantiasa membentuk subyek-subyek, strategi-strategi, dan tema-tema wacana atau diskursus tertentu.”

Norman Fairclough melihat bahasa sebagai praktek kekuasaan. Karena bahasa secara sosial dan historis dianggap sebagai bentuk tindakan, dalam hubungan dialektik dengan struktur sosial. Sehingga dalam menganalisis wacana, Fairclough memusatkan pada bagaimana bahasa itu terbentuk dan dibentuk dari relasi sosial dan konteks sosial tertentu.

Berdasarkan beberapa penjelasan diatas, saya menyimpulkan bahwa bahasa tidak hanya sebagai bahasa verbal, melainkan juga sebagai sebuah kegiatan sosial yang tidak netral dan tidak konsisten. Dalam konteks sosial, bahasa dapat dikonstruksi ataupun direkonstruksi pada kondisi dan setting sosial tertentu.

Untuk kalangan kritis (critical), bahasa dipandang sebagai alat perjuangan kelas. Makna dalam hal ini tidak ditentukan oleh struktur realitas, melainkan oleh kondisi ketika pemaknaan dilakukan melalui praktek sosial, dimana terdapat peluang yang sangat besar bagi terjadinya pertarungan kelas dan ideologi.

Sumber: Papirus Biru

Agustus 24, 2009 at 4:01 pm Tinggalkan komentar

LANGKAH MEMBACA CEPAT DAN EFEKTIF

Sebagai seorang terididik siswa dituntut mempunyai keterampilan membaca yang baik, benar, tepat, dan cepat dari berbagai literature berbagai bidang studi sesuai dengan karater masing-masing. Secara konvensional satu bdiang studi miimal memiliki satu buu pegangan, bahan ada pula yang lebih dari itu. Naun, pada era globalisasiinformasi seperti sekarang, literature justru banyak mengacu pada referensi jaringan internet. Siswa justru semakin dipebanyak kewajiban membuka dan membaca sumber infroasi dari berbagai suber, baik tertulis maupun multimedia jaringan.
Meskipun begitu, kemampuan membaca yang baik, benar, tepat, dan cepat tetap amat diperlukan, bahkan semakin penting. Sayangnya, masih sedikit siswa yang menyadari kekuarangan dan kelemahan kemampuan membacanya. Masih banyak siswa yang membaca buku dengan melakukan kebiasaan yang kurang mendukung meningkatkan kecepatan membacanya, misalnya membaca dengan bersuara, menggerakan bibir, menunjuk kata demi kata denga jari atau alat tulis, menggerakan kepala-mata ke kiri-kanan.
Justru dalam keadaan kemajuan zaman seperti sekarang yang diperlukan adalah kemampuan menyiasati sarana dan keadaan dengan melakukan langkah yang tepat, jitu, dan efektif sehingga siswa dapat memanfaatkan informasi serta mengoptimasi taleta yang dimilikinya dengan baik dan tepat demi masa depan hidup dan kehidupan. Mau tidak mau, langkah awalnya adalah menghilangkan kebiasaan membaca yang tidak baik terlebih dahulu. Di sisi lain siswa harus mneyadari bahwa yang amat penting dalam membaca adalahmenangkap ide tulisan, bukan menghafal kata-kata kunci, meski hal ini amat berguna.
Fokus utama membaca adalah memberdayakan mata dan otak kita. Dengan mata kita melihat tulisan dan dengan kita kita memprosesnya, terutama gagasan-gagasan yang ada dalam tulisan itu. Tatkala mata melihat secara otomatis otak ita melakukan interpretasi dan menyimpannya dalam syaraf memori. Kita menyerap gagasan atau konsep yang ada dalam tulisan itu, kemudian menginterpretasikannya, untuk selanjutnya disimpan dalam syaraf memori. Hal ini dapat berjala baik bila saat membaca pikiran kita konsentrasi penuh ke isi bacaan. Ada yang menasihati bila kita melihat dengan saksama berarti kita mengerti.
Memang sulit melatih konsentrasi, namun harus dilakukan, meski setapak demi setapak. Biasakan terfokus pikiran kita kepada apa yang sedang kita baca sehingga gagasan, konsep atau interpretasi kita benar, jelas, dan mudah dipahami. Korelasi terkendali mata dan pikiran memang amat menentukan hal ini. Bahan bacaan yang relatif mudah pun tak akan dipahami dan tersimpan dengan baik bila pikiran terlalu leluasa bergerak ke mana-mana apalagi dengan gagasan-gagasan yang tak relevan. Oleh sebab itu, pkira kita harus terfokus ke bacaan dengan konsentrasi penuh.
Langkah tepat untuk membaca cepat dan efektif adalah menggerakkan jangkauan mata dalam 3-4 kata secara cepat, diiringi kemauan dan kemampuan menetapkan tujuan untuk mendapatkan nti bacaan, bukan menghafal kata-katanya. Perlu kita sadari bahwa kemamuan enyerap gagasan atau konsep yang diproses oleh tak kita tidak bergantung pada susunan kata, karena yang penting adalah inti isinya. Berdasarkan pemahaman pengerian yang kita peroleh, rumusan gagasan inti dapat dirangkai sendiri.

Survei, Question, Read, Recite

Musan di atas merupakan kiat untuk mempermudah dalam menemukan ide-konsep beserta detail-detailnya.
Langah survei dilakuakn sebelum membaca isi dengan jaan mengamati secara sekilas. Langkah ini penting sebab akan memberikan banya manfaat bagi kita: megetahui gambaran umum isi, mempermuda dan mempercepat pemahaman inti bacaan, mengetah ide-ide penting, dan mendapatkan gambaran struktur penyajian gagasan oleh penulis.

Cara yang bisa dilakukan adalah dengan memahami judul, penulis, dan kata pengantar, baik dar enulis maupun penerbit. Dari sini kita mengetahui aah dan tujuan serta lingkup pembahasan topik. Daftar isi buku juga membantu kita memahami struktur isi-topik buku. Pilihlah topik yang menarik dan penting, kemudian melhat tabel, grafik, diagram, indeks yang berisi kata-kata kunci,dan lampiran yang berfungsi memebrikan informasi tambahan. Bila kita menentukan topik tertentu yang menurut kita penting, cermatilah sub-subjudulnya yang menspesifikasi atau mempertegas masalah yang dibahas. Cermatilah ringkasan awal bab yang memberikan gambara umum isi bab terwebut.

Langkah Question tentang isi bacaan tersebut bisa kita lakukan sembari melakukan survei. Secara klasik kita dapat mengajukan 5W+H. Langkah ini penting sebab membantu kita untuk memperkhusus isi dan inti gagasan. Harus diakui bila bertanya merupakan langkah yang efektif untuk menguasai bacaan secara akurat, cermat, dan tepat sehinga memabntu proses otak dalam memahami dan menyimpan dalam memori.

Langkah Read erupakan implikasi langkah sebelumnya untuk mempertegas dan memperkuat interpretasi kita terhadap isi buku. Diperlukan sikap kritis dalam hal ini diiringi kemampuan menggerakkan pandangan mata dalam cakupan baris kata secara tepat, cepat, dan efektif. Memang, pada langkah ini akan diperoleh detail-detail infromasi pentig sehingga diperlukan irama membaca yang tepat dan sesuai. Bila menemukan gagasan inti dan pembahasan menarik perlu diperlambat irama bacanya, dan sebaliknya juga. Langkah ini memerlukan konsentrasi yang baik.

Bisa saja ketika menemukan gagasan-gagasan penting, dalam bentuk kata-kata atau frase kunci kita menandai bagian tesebut dengan pensil atau stabilo. Janganlah berhenti untuk hal sebelumnya tadi sebab akan memberikan kelemahan kemampuan kecepatan membaca kita. Membuat catatan yang penting dapat diakukan setelah selesai membaca secara keseluruhan.
Langkah Recite merupakan aktivitas membaca sekali lagi seteah selesai membaca, namun masih sukar menangkap inti pembahasannya. Kita langsng saja membaca bagian-bagian yang penting dan belum kita kuasai.

Di sisi lain mencatat poin-poin penting dari bagian yang sudah selesai dibaca dan ditandai amat penting untuk membantu kerja memori ita secara sistematis dan kuat. Pemahaman dan peresapan materi pentig lebih baik dikaitkan dengan kehidupan konkret di sekitar kita yang secara tomatis akan melatih diri kita untuk menerapkan suatu teori dalam praktik kehidupan.
Harus diingat pula bila beLajar merupakan suatu proses yang berlangsung sepanjang hayat. Dengan learning to be, learing to know, learn to do, learning tot live together tentu akan lebih bermakna dan terimplikasi, tak sebatas baru bisa mimpi.

Agustus 21, 2009 at 6:19 pm Tinggalkan komentar

MEMBACA INDAH

Sebagai suatu bentuk keterampilan berbahasa secara pasif tertulis, membaca merupakan suatu keterampilan yang perlu dibina dan dilatih sehingga selaku pihak orang kedua yang menerima pesan, pembaca dapat memahami maksud penulis dengan tepat, cepat, efektif, dan efisien.
Membaca sebagai bentuk keterampilan pasif berbahasa amat bermanfaat bagi pengembangan wawasan dan pengetahuan seseorang. Semakin banyak mengetahui sesuatu ada kecenderungan seseorang merasa semakin tidak banyak tahu sehingga terus-menerus mencari tahu, antara lain lewat membaca. Semakin banyak tahu tentang sesuatu seseorang akan semakin luas referensinya sehingga akan semakin bijak dan semakin tepat dalam menentukan ataupun mengambil keputusan, meski tidak akan pernah sempurna.
Meskipun sebagai pihak kedua, membaca bisa pula ditampilkan sebagai suatu seni, dalam arti bisa dinikmati oleh pihak lain (ketiga). Dalam hal ini pembaca berfungsi sebagai mediator antara penulis (pihak pertama) dengan pendengar (pihak ketiga). Sebagai seorang mediator, pembaca harus mampu menyuarakan wacana yang dibacanya sesuai dengan kehendak atau maksud penulisnya. Tentu saja hal ini sangat dipengaruhi oleh penafsiran pembaca atas wacana tersebut, di samping juga faktor kemampuan praktik berbahasanya.
Faktor kemampuan berbahasa untuk membacakan karya orang lain di depan pihak ketiga antara lain dalam bentuk:

1. Teknik pengucapan, meliputi hal-hal:
1.1 Teknik menaikkan volume dan tinggi rendah nada;
1.2 Teknik menaikkan tempo bicara;
1.3 Teknik mengurangi volume, nada, dan tempo.
2. Teknik artikulasi
3. Teknik intonasi dan pungtuasi
4. Teknik aksentuasi dan jeda

Banyak orang sukses dalam kariernya karena kemampuan dan kemahirannya membacakan suatu informasi melalui media, misalnya radio, televisi, film, dan media lain. Hal ini dapat diperoleh oleh siapa pun, tidak mesti menunggu dewasa. Berapa gaji seorang Ira Kusno atau Desi Anwar tatkala membacakan berita. Begitu juga berapa honorarium yang diperoleh oleh Tantowi Yahya tatkala membawakan acara tingkat nasional? Berapa honor Thukul Arwana saat menjadi pengisi acara Empat Mata?

Banyak juga bermunculan tokoh-tokoh kecil yang karena kemampuan berbicaranya yang indah akhirnya memiliki jenjang karier yang baik: Si Entong, Memed, dan lain-lain. Semuanya dimulai dari niat dan tekad yang sejalan dengan keberanian untuk berbicara di depan umum. Mengatasi hal tersebut memberikan peluang untuk mengembangkan talenta berbahasa. Hampir semua pembawa acara yang baik (entertainer, MC, protokol) semuanya berangkat dari kemampuan lisan bahasanya.

Kemampuan membaca indah tentu saja tidak diperoleh dalam waktu sekejap keculai yang bersangkutan memiliki talenta yang baik. Namun, bukan berarti kita tidak bisa berlatih untuk memiliki keterampilan itu. Amat terbuka peluang bagi siapa pun untuk berlatih menggunakan bahasa lisan sebaik mungkin yang bisa memberikan tambahan penghasilan, bahkan jaminan masa depan.

Agustus 21, 2009 at 6:14 pm Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama


Kategori

  • Blogroll

  • Feeds


    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.